Roseanne Barr Kembali ke TV dengan Sitkom 'Meemaw' dan Deretan Bintang Pendukung Trump
Baca dalam 60 detik
- Roseanne Barr, 73, akan membintangi sitkom baru berjudul 'Meemaw' setelah delapan tahun absen dari televisi akibat kontroversi rasial.
- Produksi ini menghadirkan aktor-aktor yang dikenal vokal mendukung Donald Trump, seperti Randy Quaid, Drea de Matteo, Jon Lovitz, dan Tony Hinchcliffe.
- Kembalinya Roseanne menandai babak baru dalam industri hiburan AS yang semakin terpolarisasi secara politik, dengan potensi dampak pada pasar global termasuk Indonesia.

Roseanne Barr, komedian senior Amerika Serikat, mengumumkan kembalinya ke dunia komedi skrip melalui serial berjudul Meemaw. Proyek ini menjadi penampilan televisi pertamanya setelah delapan tahun absen pasca pembatalan sitkom Roseanne oleh ABC pada 2018 akibat cuitan rasial. Kabar tersebut pertama kali dilaporkan oleh Page Six Hollywood, yang menyebut bahwa produksi ini akan menampilkan sejumlah nama besar dengan pandangan politik konservatif.
Dalam Meemaw, Roseanne, 73 tahun, akan memerankan seorang nenek patriotik yang terlibat dalam misi menyelamatkan Amerika sambil mengorganisir bat mitzvah cucunya. Karakter tersebut digambarkan sebagai "prepper grandma" yang sangat cinta tanah air, hidup dalam keluarga multiras, dan bertekad menumpas sindikat kriminal. Naskahnya disebut-sebut menggabungkan elemen komedi keluarga dengan sentuhan aksi politik yang membedakannya dari sitkom arus utama.
Deretan pemain pendukung yang diumumkan semuanya memiliki rekam jejak sebagai pendukung vokal Donald Trump. Randy Quaid, 76, yang dikenal lewat film National Lampoon's Vacation dan Independence Day, akan berperan sebagai suami Roseanne. Drea de Matteo, 54, bintang The Sopranos, akan memerankan putri mereka. Jon Lovitz, 69, mantan pemain Saturday Night Live, serta Tony Hinchcliffe, 42, komedian stand-up dan host podcast Kill Tony, turut melengkapi jajaran pemain. Hinchcliffe sempat menuai kontroversi pada kampanye pemilu 2024 setelah menyebut Puerto Rico sebagai "pulau sampah terapung" dalam sebuah rapat umum pendukung Trump.
Kembalinya Roseanne ke televisi jaringan menjadi sorotan karena sejarah kontroversinya. Pada 2018, ABC membatalkan Roseanne hanya beberapa bulan setelah revival-nya mencetak rating tinggi, menyusul cuitan rasial terhadap Valerie Jarrett, mantan penasihat senior Barack Obama. Roseanne saat itu membandingkan Jarrett dengan Muslim Brotherhood dan film Planet of the Apes. Ia kemudian meminta maaf, tetapi agensinya memutuskan kontrak, dan ABC memilih membuat spin-off The Conners tanpa dirinya. Karakter Roseanne Conner pun ditulis mati akibat overdosis opioid.
Sejak itu, Roseanne kembali ke panggung stand-up dan mengembangkan podcast untuk membahas politik serta pengalamannya keluar dari televisi jaringan. Ia juga sempat membintangi reality show Roseanne's Nuts. Dalam wawancara dengan Page Six Hollywood, Roseanne menyebut proyek barunya "sama revolusionernya dengan The Roseanne Show, bahkan lebih" dan mengklaim karyanya "semakin membaik seiring waktu". Ia menambahkan, "Saya pikir sekarang saat yang tepat bagi orang-orang untuk benar-benar mendengar dari seorang Yahudi."
"Saya pikir sekarang saat yang tepat bagi orang-orang untuk benar-benar mendengar dari seorang Yahudi." โ Roseanne Barr
Langkah Roseanne ini mencerminkan tren yang lebih luas di industri hiburan Amerika, di mana sejumlah selebritas konservatif mulai mencari ruang di platform alternatif atau produksi independen setelah merasa tersingkir dari arus utama Hollywood. Kehadiran nama-nama seperti Quaid, de Matteo, dan Hinchcliffe menegaskan bahwa Meemaw bukan sekadar sitkom keluarga, melainkan pernyataan politik yang dikemas dalam format komedi. Strategi ini berpotensi menarik audiens yang selama ini merasa tidak terwakili oleh tayangan jaringan besar, sekaligus memicu perdebatan tentang batas antara hiburan dan propaganda.
Bagi pasar global, termasuk Indonesia, perkembangan ini menunjukkan bagaimana konten hiburan AS semakin terfragmentasi berdasarkan afiliasi politik. Platform streaming dan media sosial memungkinkan produksi semacam ini menjangkau penonton di luar Amerika tanpa perlu distribusi jaringan tradisional. Di Indonesia, di mana konsumsi konten Hollywood tetap tinggi, kehadiran Meemaw bisa menjadi ujian apakah audiens lokal tertarik pada narasi politik yang eksplisit atau justru menghindarinya. Industri kreatif dalam negeri pun dapat mengambil pelajaran tentang bagaimana personal branding dan kontroversi dapat menjadi daya tarik tersendiri di pasar yang terpolarisasi.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Meemaw akan mampu mereplikasi kesuksesan rating Roseanne versi 2018, atau justru tersandung oleh beban politik yang diusungnya. Jika berhasil, model ini bisa mendorong lebih banyak produksi serupa dari kubu konservatif. Jika gagal, para eksekutif televisi mungkin akan semakin berhati-hati dalam mengangkat nama-nama yang kontroversial. Yang jelas, kembalinya Roseanne Barr menandai bahwa di industri hiburan Amerika, kontroversi tidak selalu berarti akhir dari karierโkadang justru menjadi bahan bakar untuk babak baru.



