Rachael Stirling dan Ritual Abu Ibunya: Ketika Duka Menjadi Perbuatan yang Tak Terucap
Baca dalam 60 detik
- Aktor Inggris Rachael Stirling mengaku menelan sebutir abu kremasi ibunya, Diana Rigg, setiap malam pembukaan panggung sebagai jimat keberanian.
- Pengakuan itu memicu gelombang pemberitaan yang menyamakannya dengan kanibal, meski ia menegaskan tindakan tersebut adalah ekspresi duka yang lazim namun jarang dibicarakan.
- Kasus ini membuka diskusi lebih luas soal cara masyarakat modern memaknai kematian, ritual privat, dan batas antara kesedihan yang sehat dengan stigma.

Aktor panggung dan layar Inggris Rachael Stirling mengungkapkan bahwa ia menyimpan sebagian kecil abu kremasi ibunya, mendiang Diana Rigg, dan menelan sebutir di antaranya sebelum setiap malam pembukaan pertunjukan. Pengakuan itu ia tuangkan dalam buku memoar berjudul All About My Mother, dan sejak tersiar ke publik, sejumlah media menyorotinya dengan judul yang jauh dari nada empatik.
Stirling menyatakan tidak menduga dirinya akan digambarkan sebagai kanibal yang memangsa jenazah ibunya sendiri. Menurutnya, apa yang ia lakukan bukan konsumsi dalam arti harfiah, melainkan cara mempertahankan kehadiran sang ibu di ruang yang paling ia cintai semasa hidup: panggung teater. Diana Rigg dikenal luas lewat peran Olenna Tyrell di Game of Thrones dan Emma Peel dalam serial The Avengers era 1960-an, dengan karier akting yang membentang lebih dari enam dekade.
Dalam memoarnya, Stirling mengisahkan bagaimana ia menerima abu sang ibu dari petugas krematorium asal Yorkshire dengan penuh kelembutan, seolah menerima bayi yang baru lahir. Ia menyebut abu manusia jauh lebih berat dari bayangannya, dan pengalaman itu menjadi salah satu momen paling ganjil sekaligus intim dalam hidupnya. Sejumlah wadah abu berukuran berbeda ia siapkan karena Rigg berpesan agar jasadnya ditebar di beberapa tempat: ladang hijau Inggris dari pesawat biplan, taman pribadinya di Prancis, taman Stirling di London, hingga kawasan gereja aktor di Covent Garden.
Kebiasaan itu bermula dari insiden kecil. Pada malam pembukaan Scandaltown, sebuah pertunjukan komedi bergaya Restorasi karya Mike Bartlett, Stirling membuka tabung abu di ruang rias. Karena desain tabung dinilainya membingungkan, beberapa butir abu tumpah ke meja. Saat panggilan naik panggung bergema, ia panik, lalu menjilat ujung jarinya dan menelan butiran yang tersisa. Sejak saat itu, ia mengulangi hal serupa di setiap malam pembukaan, termasuk saat membawakan Private Lives karya Noรซl Coward pada 2023 dan The Divine Mrs S di Hampstead Theatre.
"Saya tahu ini terdengar gila, tetapi bagi saya itu sepenuhnya masuk akal. Banyak orang meyakini mereka memakan tubuh Kristus setiap minggu, dan setidaknya dengan cara ini saya benar-benar bisa mengatakan bahwa saya membawanya naik panggung," tulis Stirling dalam memoarnya.
Reaksi publik terbelah. Seorang janda yang ia temui di pesta usai pertunjukan berbisik bahwa ia melakukan hal serupa, namun memilih bungkam. Stirling menilai banyak orang menyimpan praktik serupa dalam diam karena takut dicap aneh. Ia justru memilih terbuka karena merasa kejujuran lebih penting daripada kenyamanan sosial. Menurutnya, duka adalah pengalaman yang bersifat naluriah, dan manusia kerap melakukan hal-hal yang tidak masuk akal demi mempertahankan ikatan dengan mereka yang telah pergi.
Kasus ini menyentuh persoalan yang lebih luas: bagaimana masyarakat modern memperlakukan kematian. Di banyak budaya, termasuk Indonesia, penyimpanan abu atau benda peninggalan almarhum adalah hal lumrah, namun tindakan yang dianggap melampaui batas normalitas sering menuai stigma. Psikolog duka mengenal konsep continuing bonds, yakni upaya mempertahankan hubungan simbolik dengan almarhum sebagai bagian dari proses penyembuhan, bukan sebagai tanda gangguan jiwa. Yang membedakan adalah apakah praktik tersebut mengganggu fungsi sehari-hari atau justru membantu seseorang menjalani hidup.
Stirling sendiri menegaskan tidak berniat menghentikan kebiasaan itu. Ia menyebut persediaan abu ibunya kini tinggal sedikit, namun ia tetap melakukannya karena "yang penting adalah niatnya". Ia bahkan mengaitkan tindakannya dengan cara sang ibu mengekspresikan kasih sayang semasa hidup, yang kerap digambarkan secara fisik dan blak-blakan di depan publik. Baginya, menelan sebutir abu adalah bentuk iman pribadi, bukan provokasi.
Pertanyaannya kini bukan lagi soal benar atau salah, melainkan sejauh mana ruang publik bersedia menerima cara orang berduka yang berbeda. Selama ritual privat tidak merugikan orang lain, apakah kita perlu menghakiminya, atau justru belajar bahwa kehilangan tidak pernah punya satu bentuk baku?



