Ethan Hawke: 10 Tahun Menanti Pengalaman Syuting yang 'Bermakna' Usai Dead Poets Society
Baca dalam 60 detik
- Ethan Hawke mengungkapkan bahwa setelah Dead Poets Society, ia butuh satu dekade untuk kembali merasakan pengalaman syuting yang menyenangkan.
- Ia menyoroti pentingnya lingkungan kerja yang aman dan kolaboratif, seperti yang ia temukan bersama Richard Linklater dan Kyle MacLachlan dengan David Lynch.
- Kisah ini menyoroti realitas industri film yang sering kali dingin dan manipulatif, serta betapa langkanya kolaborasi kreatif yang tulus.

Aktor Ethan Hawke mengungkapkan bahwa ia memerlukan waktu sepuluh tahun untuk merasakan kembali pengalaman syuting yang benar-benar menyenangkan setelah kesuksesannya di film Dead Poets Society (1989). Dalam sebuah acara diskusi buku di Symphony Space, New York City, Hawke mengenang bagaimana debutnya di film coming-of-age tersebut memberinya kesan keliru tentang cara kerja industri film.
Hawke, yang kini berusia 55 tahun, memuji sutradara Peter Weir karena telah menciptakan lingkungan syuting yang mendukung di Dead Poets Society. Namun, ia mengaku bahwa pengalaman itu justru membuatnya memiliki ekspektasi tinggi terhadap industri. โSaya pikir Dead Poets Society adalah gambaran bagaimana membuat film. Ternyata bukan seperti itu,โ ujarnya saat memoderatori peluncuran memoar Kyle MacLachlan, Fictional Selves.
Setelah film tersebut, Hawke mengalami masa kering selama satu dekade di mana ia tidak menemukan pengalaman syuting yang memuaskan. Ia menggambarkan banyak lingkungan kerja di Hollywood yang dingin, kasar, dan penuh manipulasi. โBanyak orang yang benar-benar dingin dan kasar dan jahat, dan mereka hanya ingin menjual sesuatu dan memanipulasi Anda dan tidak menghormati aktor,โ tuturnya.
Topik ini muncul ketika Hawke dan MacLachlan, yang keduanya membintangi film The Lowdown, membahas hubungan panjang mereka dengan sutradara Richard Linklater dan David Lynch. MacLachlan menyatakan bahwa Lynch sangat memengaruhi kegembiraannya dalam bekerja. โSaya mencintai pekerjaan saya. Saya suka datang ke lokasi syuting. Dan saya mendapatkan ini dari David juga, karena rasa kegembiraan, kebebasan kreatif, dan kegembiraan selalu hadir di lokasi syuting David,โ katanya.
Hawke menambahkan bahwa ia dan MacLachlan sangat beruntung karena hubungan kolaboratif yang langgeng dan produktif jarang terjadi di Hollywood. โKami sangat beruntung karena banyak alasan, tetapi salah satunya: aktor muda bermimpi memiliki hubungan kreatif dengan pembuat film. Saya mendapatkannya dengan Richard Linklater. Anda mendapatkannya dengan David Lynch,โ ujarnya. Ia menggambarkan lokasi syuting Linklater sebagai tempat yang aman, di mana para aktor dapat berbicara tentang apa pun, bahkan berbagi pikiran tergelap sekalipun, karena merasa dicintai.
โRuang kreatif yang saya kenal dari bekerja dengan Richard Linklater terdengar seperti yang Anda bicarakan, yaitu tempat yang sangat aman. Dan Anda dapat membicarakan apa pun jika Anda berada di antara teman, bukan? Anda dapat berbagi pikiran tergelap jika Anda tahu Anda dicintai. Dan itulah yang terasa di lokasi syuting Linklater.โ
โ Ethan Hawke
MacLachlan setuju, โDan tidak setiap lokasi syuting seperti itu, seperti yang Anda tahu.โ
Pengalaman Hawke ini menyoroti sisi gelap industri film yang jarang terekspos: tekanan komersial, kurangnya penghormatan terhadap aktor, dan dominasi kepentingan bisnis di atas seni. Di Indonesia, industri perfilman juga menghadapi tantangan serupa, terutama bagi aktor muda yang baru memasuki industri. Lingkungan kerja yang suportif dan kolaboratif masih menjadi barang langka, meskipun beberapa sutradara dan rumah produksi mulai mengadopsi pendekatan yang lebih manusiawi.
Ke depannya, kisah Hawke dan MacLachlan dapat menjadi cermin bagi industri kreatif global, termasuk Indonesia, tentang pentingnya membangun ekosistem yang menghargai proses kreatif dan kesejahteraan para pelakunya. Apakah industri film kita siap meninggalkan budaya kerja yang toksik dan beralih ke kolaborasi yang lebih sehat?



