Bupati Situbondo Canangkan Ekspedisi Anyer-Panarukan, Siapkan Rekomendasi Kebijakan ke Pusat
Baca dalam 60 detik
- Pemkab Situbondo dan Serang meluncurkan program Anyer-Panarukan 3R yang akan menjelajahi kota-kota di sepanjang jalur bersejarah tersebut.
- Hasil ekspedisi akan dipakai menyusun rekomendasi kebijakan ke pemerintah pusat, bukan sekadar festival.
- Puncaknya, Festival Hari Raya Tembakau 2027 di Situbondo bakal melibatkan sekitar 5.000 penari.

Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengumumkan rencana ekspedisi menyusuri kota-kota di jalur Anyer-Panarukan sebagai bagian dari program Anyer-Panarukan 3R: Road, Route, Roots. Program ini digagas bersama Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah dan dicanangkan sebagai agenda tahunan, bukan sekadar acara seremonial.
Ekspedisi tersebut akan mendatangi berbagai daerah di sepanjang jalur yang membentang dari ujung barat hingga timur Pulau Jawa. Menurut Rio, setiap persinggahan akan dimanfaatkan untuk menggali literasi, sejarah, budaya, serta potensi desa setempat. "Kita akan kunjungi berbagai kota, di situ kita gali literasi, sejarahnya, budayanya, potensi desanya," ujarnya dalam konferensi pers, Minggu (11/10).
Hasil pendalaman itu, lanjut Rio, tidak akan berhenti sebagai laporan kegiatan. Data yang dihimpun bakal menjadi landasan penyusunan kebijakan dan program yang diharapkan menopang perekonomian serta dunia usaha di kota-kota yang dilalui. Ia menegaskan bahwa ekspedisi ini juga akan menghasilkan rekomendasi konkret bagi pemerintah pusat. "Berbagai isu nanti tidak hanya soal festival, tapi juga rekomendasi ke pusat apa sih yang harus dikerjakan di jalur ini," tuturnya.
Rio memaparkan bahwa tahun 2026 akan difokuskan pada pengumpulan informasi dari berbagai daerah. Baru pada 2027, seluruh temuan itu akan dirumuskan menjadi program tahunan yang lebih matang. "Karena ini akan menjadi program tahunan, bukan hanya kick-off saja, maka dari 2026 kita kumpulkan dulu berbagai informasi, kemudian nanti dijadikan program 2027," jelasnya.
Salah satu agenda yang sudah dikantongi adalah Festival Hari Raya Tembakau di Situbondo pada 2027. Rio menyebut festival tersebut bakal melibatkan sekitar 5.000 penari, menjadikannya salah satu puncak perayaan jalur Anyer-Panarukan. Ia menekankan bahwa festival hanyalah satu bagian dari rangkaian panjang yang tengah disiapkan.
"Harapannya Anyer-Panarukan bukan hanya sekedar artefak sejarah, tapi bisa kita kapitalisasi menjadi semacam mesin pertumbuhan ekonomi." โ Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo
Menurut Rio, gagasan ini berangkat dari kesadaran bahwa Situbondo dan Serang memiliki aset sejarah yang bisa menjadi katalisator pembangunan daerah. Jalur Anyer-Panarukan sendiri merupakan warisan masa kolonial yang menghubungkan wilayah pesisir barat dan timur Pulau Jawa. Nilai historisnya dinilai kuat, namun potensi ekonominya belum tergarap optimal.
Ia memandang jalur tersebut menyimpan peluang besar di sektor pariwisata, pelestarian budaya, hingga pemberdayaan ekonomi warga. Karena itu, ia menegaskan bahwa program ini bukan hanya kepentingan dua kabupaten. "Ini bukan hanya kepentingan Kabupaten Serang dan Kabupaten Situbondo. Ini kepentingan Indonesia," imbuhnya.
Langkah ini menempatkan jalur Anyer-Panarukan sebagai kawasan strategis yang bisa diusulkan masuk agenda pembangunan nasional. Jika rekomendasi dari ekspedisi benar-benar sampai ke pemerintah pusat, ada peluang jalur tersebut mendapat perhatian lebih besar, mulai dari perbaikan infrastruktur hingga insentif bagi daerah. Namun, tantangannya tidak kecil: diperlukan koordinasi lintas provinsi dan kabupaten agar visi ini tidak berhenti di tataran wacana.
Pertanyaan yang tersisa, akankah ekspedisi ini benar-benar menghasilkan kebijakan yang mengubah wajah jalur Anyer-Panarukan, atau hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa dampak signifikan bagi masyarakat di sepanjang jalur?



