Remaja Tersesat di Pegunungan Kanada Setelah Ikuti Petunjuk Claude AI, Tim SAR Turun Tangan
Baca dalam 60 detik
- Bryce Vincent Gowryluk, 16 tahun, terjebak di tebing terjal Widowmaker Arete, British Columbia, setelah mengandalkan navigasi dari chatbot Claude.
- Tim North Shore Rescue mengevakuasi korban dengan helikopter, menandai insiden pertama pendaki tersesat akibat rekomendasi AI.
- Pakar SAR memperingatkan bahwa aplikasi digital dan AI tidak bisa menggantikan keterampilan peta-kompas serta pengalaman lapangan.

Seorang remaja berusia 16 tahun, Bryce Vincent Gowryluk, harus diselamatkan dari tebing terjal di Pegunungan North Shore, British Columbia, Kanada, setelah mengikuti arahan dari chatbot kecerdasan buatan Claude yang menuntunnya ke rute berbahaya. Insiden ini menjadi yang pertama tercatat melibatkan pendaki tersesat akibat rekomendasi AI, memicu kekhawatiran baru tentang ketergantungan pada teknologi digital untuk navigasi alam liar.
Kejadian bermula Sabtu pagi ketika Gowryluk naik gondola ke puncak Grouse Mountain. Dalam perjalanan, ia meminta Claude merancang rute menuju Crown Mountain dan kembali. Rute tersebut biasanya memakan waktu delapan jam dan oleh para pemandu dikategorikan bukan untuk pemula. Namun, Claude memberikan petunjuk yang justru mengarahkan Gowryluk keluar dari jalur semestinya.
Setelah melewati medan berbatu dan mendaki lebih dari 2.000 kaki, Gowryluk tiba di dinding terjal Widowmaker Arete—tebing setinggi 1.700 kaki yang membutuhkan tali, cam, dan perencanaan matang. Tanpa perlengkapan panjat yang memadai, ia menyadari terjebak di dasar tebing dan segera menghubungi ibunya serta layanan darurat.
Tim penyelamat dari North Shore Rescue mengerahkan helikopter, tetapi karena posisi Gowryluk terlalu dekat dengan dinding batu, dua anggota harus diturunkan dengan tali untuk mengangkatnya. Ia kemudian diterbangkan ke markas penyelamat dekat Bendungan Cleveland. Dalam laporan pasca-insiden, kru menyatakan Gowryluk berada "jauh dari rute yang dimaksudkan".
"Claude dalam situasi ini tidak pernah berada di area yang ditemukan remaja 16 tahun itu. Claude hanya bisa mendeskripsikan seperti apa area tersebut, tidak lebih," ujar Markey dari North Shore Rescue.
Markey menambahkan bahwa Gowryluk sebenarnya cukup siap untuk pendakian dan scrambling—membawa lampu kepala, pakaian layak, sepatu bot bagus, baterai cadangan, dan makanan cadangan. Namun, ia sama sekali tidak siap untuk panjat tebing. "Ada tren yang jelas menggunakan aplikasi elektronik alih-alih keterampilan peta dan kompas. Tapi itu tidak bisa menggantikan pelatihan dan pendidikan peta-kompas yang baik," tegasnya.
Insiden ini bukan yang pertama di wilayah tersebut. Pada Juli lalu, tiga orang harus diselamatkan setelah merencanakan rute di Howe Sound Crest Trail menggunakan Google Maps, yang memberikan estimasi waktu sangat tidak akurat—menyarankan rute 14 jam dapat diselesaikan dalam lima jam. Markey juga menyoroti bahwa beberapa aplikasi justru menampilkan jalur di area yang seharusnya tidak diidentifikasi sebagai rute resmi, sehingga pendaki terjebak dalam kesulitan.
"Yang utama: jangan buta mengandalkan AI sebagai alat perencanaan rute. Itu tidak akan pernah bisa menggantikan pendidikan, pelatihan, pengalaman, dan pengambilan keputusan yang baik di lapangan," pungkas Markey.
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa di era digital, kepercayaan berlebihan pada AI untuk navigasi alam liar bisa berujung fatal. Ke depan, pertanyaannya: apakah penyedia layanan AI akan menambahkan fitur peringatan untuk aktivitas berisiko tinggi, atau akankah regulasi penggunaan AI dalam konteks keselamatan jiwa segera diperlukan?



