Pangeran Harry Buka Suara soal Duka Mendalam: Berbicara pada Foto Diana dan Merasakan Kehadirannya
Baca dalam 60 detik
- Pangeran Harry mengungkapkan bahwa ia rutin berbicara kepada foto mendiang ibunya, Putri Diana, untuk mencari bimbingan dan kenyamanan.
- Dalam program MasterClass menjelang Hari Kesehatan Mental Sedunia, ia menceritakan perjalanan emosional dari rasa bersalah karena bisa bahagia tanpa Diana hingga penerimaan bahwa sang ibu menginginkan kebahagiaannya.
- Kisah ini muncul saat Harry dan Meghan menetap kembali di Inggris, memicu peninjauan ulang status kerajaan dan pengaturan keamanan mereka.

Pangeran Harry kembali membuka lembaran terdalam hidupnya. Dalam program MasterClass terbaru berjudul Redefining Grief: Building Resilience Through Loss, Duke of Sussex itu mengungkapkan bahwa ia masih secara rutin berbicara kepada foto mendiang ibunya, Putri Diana, untuk mencari arahan dan rasa kedekatan. Program ini dirilis menjelang Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober, menjadikannya momen refleksi publik yang jarang dilakukan anggota keluarga kerajaan.
Harry, yang kini berusia 42 tahun, kehilangan ibunya saat masih berusia 12 tahun akibat kecelakaan mobil di Paris pada Agustus 1997. Dalam sesi bersama neuroscientist Mary-Frances O'Connor, ia membahas bagaimana hubungannya dengan kenangan sang ibu terus berkembang dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Program ini direkam di California pada musim panas lalu, jauh dari kediamannya di Montecito.
Dalam salah satu bagian, Harry menyebut potret Diana yang diambil fotografer mode Prancis Patrick Demarchelier dan dimuat di Harper's Bazaar pada Desember 1995 sebagai jendela komunikasi. "Saya bisa mendapatkan kontak mata darinya, dan ada keceriaan dalam senyumnya... Saya merasa sangat terhubung," ujarnya. Ia bahkan mengaku kerap kembali ke foto itu untuk melihat apakah ekspresi wajahnya berubah, meski tak pernah terjadi.
Perjalanan emosional Harry tidak selalu mudah. Ia mengaku sempat menekan perasaannya selama bertahun-tahun karena merasa bahagia tanpa Diana berarti mengkhianati ibunya. "Saya merasa tidak setia dan bersalah karena mungkin bisa bahagia dan gembira tanpa dia," tuturnya. Ia bahkan merasa harus tetap sedih dan mati rasa untuk membuktikan bahwa ia merindukan Diana. Titik balik terjadi ketika ia menyadari bahwa Diana justru menginginkan kebahagiaannya. "Itu adalah pergeseran mental yang besar bagi saya. Itu membebaskan saya," ujarnya.
Kini, Harry mengaku mengingat ibunya hampir setiap malam dan pagi. Saat menghadapi masa sulit, ia berbicara langsung: "Hai, saya butuh bantuan di sini. Tuntun saya ke jalan yang benar." Ia juga merasakan kehadiran Diana dalam momen-momen penting, terutama enam tahun terakhir. "Saya merasakannya sebagai energi. Juga visual. Sebuah tanda. Dan itu sangat terhubung dengannya," jelasnya.
"Saya menghabiskan waktu lama menjadi mati rasa secara emosional, sebagian besar karena saya merasa tidak setia dan bersalah atas kemungkinan bahagia tanpa dia." โ Pangeran Harry
Pengakuan ini muncul di tengah periode perubahan besar bagi keluarga Sussex. Setelah enam tahun menetap di California, Harry, Meghan Markle (45), dan kedua anak mereka, Pangeran Archie (7) dan Putri Lilibet (5), kembali ke Inggris pada Agustus. Meski tetap mempertahankan properti Montecito, kepulangan mereka memicu spekulasi baru tentang hubungan dengan monarki dan pengaturan kegiatan publik.
Pada September, King Charles III menegaskan bahwa Harry dan Meghan tetap bukan anggota kerajaan yang bekerja (non-working royals). Surat melalui Lord Chamberlain memperjelas bahwa kegiatan amal dan komersial mereka dilakukan secara privat, dan status kerajaan tidak berubah. Selain itu, pengaturan keamanan mereka yang didanai publik sedang ditinjau ulang oleh Royal and VIP Executive Committee.
Program MasterClass ini bukan pertama kalinya Harry membahas kesehatan mental. Sebelumnya, ia menuangkannya dalam memoar Spare dan serial dokumenter Apple TV+ The Me You Can't See yang digarap bersama Oprah Winfrey. Dalam sesi terbaru, ia juga menyinggung bagaimana dinas militer dan penekanan emosi memengaruhi kemampuannya memproses kepergian Diana. Ia mengaku pernah mengalami serangan panik saat tugas kerajaan dan depresi setelah meninggalkan tugas kerajaan serta pindah ke Kanada.
Meski demikian, Harry terus melanjutkan misi amal yang terkait dengan warisan Diana, seperti dukungan bagi orang dengan HIV/AIDS, anak-anak kurang mampu, dan komunitas rentan. Keterlibatannya dengan para veteran melalui Invictus Games juga menjadi bagian penting dari kehidupan publiknya.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa jauh keterbukaan Harry tentang duka dan kesehatan mental akan memengaruhi persepsi publik terhadapnya dan keluarganya, terutama saat mereka menavigasi peran baru di luar institusi kerajaan. Apakah ini akan menjadi babak baru rekonsiliasi, atau justru memperlebar jarak dengan istana?



