Toyota Masih Kuasai Pasar Mobil September 2026, BYD Kukuh di Tiga Besar
Baca dalam 60 detik
- Gaikindo mencatat wholesales nasional September 2026 mencapai 79.540 unit, turun 2,7 persen dari bulan sebelumnya.
- Toyota memimpin dengan 21.877 unit, diikuti Daihatsu 11.558 unit, dan BYD 6.031 unit di posisi ketiga.
- Penjualan ritel juga menurun 2,6 persen menjadi 81.243 unit, menandakan tekanan permintaan di pasar otomotif domestik.

Pasar otomotif Indonesia pada September 2026 menunjukkan perlambatan, dengan penjualan wholesales dari pabrik ke dealer tercatat 79.540 unit atau turun 2,7 persen dibandingkan Agustus yang mencapai 81.757 unit. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menempatkan Toyota sebagai penguasa pasar dengan 21.877 unit, diikuti Daihatsu 11.558 unit, dan BYD 6.031 unit di posisi ketiga.
Penurunan ini mencerminkan tantangan yang dihadapi industri otomotif nasional, mulai dari daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih hingga persaingan yang semakin ketat antar merek. Meski demikian, dominasi Toyota tetap tak tergoyahkan, dengan pangsa pasar yang jauh melampaui pesaing terdekatnya. Daihatsu, yang fokus pada segmen kendaraan niaga ringan dan LCGC, tetap menjadi penantang utama, sementara BYD berhasil mempertahankan posisinya di tiga besar berkat penetrasi agresif di segmen kendaraan listrik.
Menariknya, BYD tidak hanya unggul dalam wholesales, tetapi juga mencatatkan penjualan ritel yang solid sebesar 7.421 unit, jauh di atas Suzuki yang membukukan 5.625 unit. Selisih ini mengindikasikan bahwa model-model BYD, seperti Atto 3 dan Seal, semakin diterima konsumen Indonesia, terutama di segmen kendaraan listrik yang terus tumbuh. Keberhasilan BYD menembus posisi ketiga juga menandai pergeseran lanskap kompetisi, di mana merek-merek China mulai mengancam dominasi pemain Jepang yang telah lama bercokol.
"Pasar otomotif Indonesia sedang mengalami transisi menuju elektrifikasi, dan merek-merek yang mampu beradaptasi dengan cepat akan menuai keuntungan," ujar seorang analis industri otomotif yang tidak ingin disebutkan namanya.
Dari sisi segmen, Toyota masih mengandalkan model-model seperti Avanza, Innova, dan Calya yang telah menjadi tulang punggung penjualan. Daihatsu, dengan Sigra dan Ayla, tetap menjadi pilihan utama untuk kendaraan perkotaan yang terjangkau. Sementara itu, BYD mengandalkan lini kendaraan listriknya yang mendapat insentif dari pemerintah, meskipun infrastruktur pengisian daya masih menjadi tantangan di beberapa daerah.
Posisi keempat hingga keenam diisi oleh Suzuki (5.316 unit), Mitsubishi Fuso (4.725 unit), dan Mitsubishi (4.661 unit). Honda menyusul di peringkat ketujuh dengan 3.466 unit, disusul Jaecoo 3.400 unit, Hino 3.262 unit, dan Isuzu 3.155 unit. Komposisi ini menunjukkan bahwa segmen komersial seperti truk dan bus masih dikuasai oleh merek-merek Jepang, sementara merek China seperti Jaecoo mulai merangsek di segmen SUV dan kendaraan penumpang.
Jika dilihat dari data historis, penjualan ritel pada September 2026 juga mengalami kontraksi 2,6 persen menjadi 81.243 unit dari 83.421 unit pada Agustus. Angka ini mengonfirmasi bahwa perlambatan tidak hanya terjadi di level distribusi, tetapi juga di tingkat konsumen akhir. Faktor musiman, seperti berakhirnya periode promo dan libur panjang, turut memengaruhi minat beli masyarakat.
Ke depan, industri otomotif Indonesia akan menghadapi ujian berat pada kuartal IV 2026. Peluncuran model-model baru, terutama di segmen EV, diprediksi akan menjadi katalis pertumbuhan. Namun, tanpa perbaikan daya beli dan stimulus yang tepat, target penjualan tahunan mungkin sulit tercapai. Pertanyaannya, akankah BYD mampu menyalip Daihatsu di posisi kedua, atau justru Toyota yang semakin tak terkejar?


