Tottenham dan Kutukan Sayap Kiri: Mengapa 'Son Baru' Masih Tak Kunjung Tiba
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur belum menemukan pengganti sepadan untuk Heung-min Son di sektor sayap kiri sejak kepergiannya, dengan Mathys Tel gagal konsisten dan Roberto De Zerbi dikabarkan ingin melepasnya pada Januari.
- Kebijakan rekrutmen pemain muda Spurs menuai kritik karena banyak talenta belia seperti Luka Vuskovic dan Ashley Phillips dijual tanpa pernah tampil di tim utama, dan Yang Min-hyeok terancam mengikuti jejak serupa.
- Yang Min-hyeok, yang pernah dijuluki 'Son berikutnya', kini menjalani masa pinjaman keempatnya di Westerlo setelah gagal menembus skuad inti, mempertaruhkan masa depannya di Tottenham.

London โ Tottenham Hotspur masih belum menemukan sosok yang mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkan Heung-min Son di sektor sayap kiri. Setahun setelah kepergiannya, tak ada satu pun pemain yang benar-benar mampu mengklaim posisi tersebut, menyisakan pertanyaan besar tentang arah kebijakan transfer klub.
Son meninggalkan North London dengan cara yang dramatis: mengangkat trofi Europa League pada penampilan terakhirnya. Momen itu menjadi penutup manis bagi sepuluh tahun kariernya, sekaligus menegaskan statusnya sebagai legenda klub. Namun, di balik perpisahan itu, Spurs mewarisi lubang besar di lini serang yang hingga kini belum terisi.
Musim terakhir Son memang tidak lagi seproduktif sebelumnya, tetapi ia tetap menjadi salah satu kontributor terbaik dengan catatan 16 gol dan assist di Premier League. Angka itu bahkan tidak terlewati pada musim berikutnya, ketika Richarlison memimpin dengan 15 keterlibatan gol. Kehilangan Son, setelah sebelumnya juga ditinggal Harry Kane, membuat lini depan Tottenham mengalami penurunan tajam dalam hal konsistensi.
Posisi sayap kiri menjadi masalah paling pelik. Mathys Tel, yang dipinjam dari Bayern Munich, kesulitan menunjukkan performa stabil. Pemain muda Prancis itu bahkan tidak masuk skuad saat melawan Aston Villa, dan laporan eksklusif Football FanCast menyebut Roberto De Zerbi ingin melepasnya pada bursa transfer Januari. Alternatif lain seperti Mohammed Kudus dan Savio lebih efektif bermain dari sayap kanan, sementara Wilson Odobert dan Xavi Simons masih berkutat dengan cedera ACL.
Di tengah kesulitan itu, nama Yang Min-hyeok mencuat sebagai harapan. Pemain Korea Selatan berusia 20 tahun itu direkrut dari Gangwon pada musim panas 2024 dan sempat dijuluki 'Son berikutnya' oleh pakar sepak bola Korea, Jason Lee. Namun, ekspektasi tinggi itu belum terwujud. Yang baru bergabung ke London pada Januari 2025, tetapi belum sekalipun tampil di pertandingan kompetitif untuk Spurs.
Ia menjalani masa pinjaman pertamanya di Queens Park Rangers, mencetak dua gol dalam 14 pertandingan. Setengah musim berikutnya dipinjamkan ke Portsmouth, di mana ia mencetak tiga gol dalam 16 laga di Championship. Spurs kemudian memanggilnya kembali pada Januari, tetapi malah mengirimnya ke Coventry City. Langkah itu berbuah pahit: Yang hanya tampil empat kali dengan total 29 menit di liga kasta kedua.
"Yang Min-hyeok diharapkan menjadi superstar Korea berikutnya seperti Heung-min Son," ujar Jason Lee, pakar sepak bola Korea, saat Yang pertama kali bergabung dengan Tottenham.
Musim ini, Yang dipinjamkan ke klub Belgia Westerlo, menandai masa pinjaman keempatnya secara berturut-turut. Meski masih muda dan memiliki waktu untuk berkembang, ia perlu menunjukkan performa menjanjikan di Belgia agar kariernya kembali ke jalur yang diharapkan. Tanpa itu, ia berisiko mengikuti jejak Luka Vuskovic dan Ashley Phillipsโdua pemain yang direkrut saat remaja tetapi dijual tanpa pernah tampil satu menit pun untuk tim utama Spurs.
Kebijakan Spurs merekrut pemain muda sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, klub agresif mendatangkan talenta belia, tetapi jalur menuju tim utama sering kali tersumbat. De Zerbi, yang musim panas ini cenderung memilih pemain berpengalaman, tampaknya belum memberikan ruang bagi para pemain muda untuk berkembang. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas strategi pengembangan pemain klub.
Bagi Tottenham, kebutuhan mendesak adalah menemukan solusi di sayap kiri. Tanpa pemain yang mampu memberikan ancaman konsisten, lini serang akan terus bergantung pada pemain yang tidak dalam posisi alaminya. De Zerbi dituntut segera menemukan formula yang tepat, baik melalui pasar transfer maupun optimalisasi pemain yang ada.
Ke depan, masa depan Yang Min-hyeok dan pemain muda lainnya di Tottenham akan menjadi ujian bagi komitmen klub terhadap pembinaan. Jika pemain seperti Yang kembali gagal bersinar di Westerlo, bukan tidak mungkin Spurs akan mengambil langkah serupa seperti yang dilakukan terhadap Vuskovic dan Phillips: menjualnya tanpa pernah memberinya kesempatan. Apakah Tottenham akan terus mengulang siklus yang sama, ataukah mereka akan belajar dari kepergian Son dan membangun fondasi yang lebih berkelanjutan?



