Ketika Perilaku Orang Tua di Lapangan Bola Anak Rusak Hubungan 25 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Seorang pembaca Guardian mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap pasangannya yang kerap memaki dan mengkritik remaja di pertandingan sepak bola anak mereka.
- Psikoterapis menilai perilaku tersebut bukan sekadar kompetitif, melainkan cerminan ego dan frustrasi pribadi yang perlu ditelusuri akarnya.
- Dampaknya bukan hanya pada hubungan pasangan, tetapi juga pada mental anak dan atmosfer tim, sehingga intervensi tenang di luar lapangan menjadi krusial.

Selama seperempat abad menjalin hubungan, seorang perempuan yang tidak disebutkan namanya mulai meragukan perasaannya terhadap pasangannya. Pemicunya bukan perselingkuhan atau masalah finansial, melainkan tingkah laku sang pria di pinggir lapangan sepak bola anak-anak mereka. Setiap kali kedua putra mereka—berusia 14 dan 16 tahun—bertanding, pria itu kerap membentak, mengkritik, bahkan mengumpat kepada remaja-remaja yang sedang berjuang di lapangan. Perilaku ini tidak hanya memalukan, tetapi juga menimbulkan ketegangan di antara rekan setim dan membuat anak-anak enggan bermain leluasa.
Dalam suratnya kepada kolom konsultasi Guardian, perempuan tersebut mengaku telah berulang kali menegur pasangannya, begitu pula anak-anak dan pelatih. Namun, semua upaya itu sia-sia. Sang pria selalu mengelak dan menganggap remeh masalah tersebut. “Saya merasa sedang jatuh cinta pada seseorang yang tidak menghormati anak-anaknya sendiri, teman-teman mereka, pelatih, dan wasit,” tulisnya. Ia pun mempertanyakan apakah hubungan 25 tahun itu masih layak dipertahankan jika perilaku tersebut terus berlanjut.
Menanggapi hal ini, psikoterapis terdaftar UKCP, Lucy Fuller, menekankan pentingnya mencari akar kemarahan tersebut. “Sifat kompetitif yang dulu dianggap menarik kini berubah menjadi ledakan emosi yang tidak pada tempatnya,” ujar Fuller. Ia menduga pria itu mungkin tumbuh dengan model dukungan yang keliru—di mana semangat diberikan melalui bentakan dari pinggir lapangan. “Ego dan kompetisinya membanjiri situasi, dan itu tidak pantas,” tambahnya.
Fuller juga menyoroti aspek “mengapa sekarang, mengapa di sini”. Ia bertanya-tanya apakah perilaku itu sudah berlangsung lama atau justru meningkat ketika anak-anak beranjak remaja. “Ketika anak mencapai usia tertentu, terkadang hal itu memicu perasaan tertentu dalam diri orang tua,” jelasnya. Menurut Fuller, kemarahan di lapangan bisa jadi merupakan proyeksi dari kekecewaan pribadi—misalnya karier sepak bola yang gagal atau ambisi yang tidak tercapai. “Semua perilaku adalah komunikasi. Dia mungkin sangat tenggelam dalam permainan sampai marah pada dirinya sendiri,” ujarnya.
Yang lebih memprihatinkan, perilaku ini tidak hanya merusak hubungan pasangan, tetapi juga berdampak pada psikologis anak-anak. Mereka menjadi malu, tegang, dan kehilangan kegembiraan bermain. Fuller menyarankan agar sang istri memilih momen tenang—bukan saat pertandingan—untuk berbicara dari hati ke hati. “Coba tanyakan bagaimana perasaannya jika diperlakukan seperti itu. Apakah dia bisa membayangkan dampaknya pada orang lain?” saran Fuller. Ia juga menekankan bahwa kompetisi sejati tidak berarti harus bersikap kasar; sportivitas tetap nomor satu.
Kasus ini bukanlah fenomena langka. Di banyak negara, termasuk Indonesia, tekanan orang tua di pertandingan anak sering menjadi masalah. Kompetisi usia dini yang semakin ketat, ditambah ekspektasi berlebihan, kerap membuat orang tua melupakan esensi olahraga sebagai sarana pendidikan karakter. Padahal, menurut psikolog olahraga, dukungan positif dari orang tua terbukti meningkatkan performa dan kesehatan mental anak. Sebaliknya, kritik pedas dan umpatan dapat memicu kecemasan, menurunkan rasa percaya diri, bahkan membuat anak berhenti dari olahraga yang dicintainya.
Bagi pasangan yang mengalami situasi serupa, langkah pertama adalah mengenali bahwa perilaku tersebut bukan sekadar “semangat”, melainkan bentuk agresi verbal yang perlu diatasi. Konseling pasangan atau terapi individu bisa menjadi jalan keluar untuk menggali akar frustrasi dan memperbaiki pola komunikasi. Jika tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin hubungan yang telah dibangun puluhan tahun akan runtuh—bukan karena perbedaan prinsip, tetapi karena ketidakmampuan mengendalikan emosi di tempat yang seharusnya menjadi ajang kegembiraan keluarga.
Pertanyaannya kini: apakah sang pria mampu merenung dan berubah sebelum kehilangan kepercayaan dari orang-orang terdekatnya? Ataukah ia akan terus menganggap remeh masalah ini sampai semuanya terlambat?



