Perang Saudara Simpanse di Uganda: Ketika Primatolog Menahan Diri Menuliskan Temuan yang Mengguncang
Baca dalam 60 detik
- John Mitani dan timnya mendokumentasikan konflik berdarah antar-kelompok simpanse di Ngogo, Uganda, yang menewaskan sembilan jantan dan 19 bayi.
- Temuan ini memaksa ilmuwan merevisi asumsi tentang kerja sama dan agresi pada primata, sekaligus memicu perdebatan tentang paralelisme dengan manusia.
- Ancaman pemotongan dana riset di AS membayangi keberlanjutan proyek jangka panjang yang telah berjalan tiga dekade.

John Mitani, primatolog berusia 72 tahun, mengungkapkan bahwa dirinya sempat menunda selama lebih dari satu dekade untuk mempublikasikan temuan tentang perang saudara di antara simpanse Ngogo, Uganda. Penelitian yang akhirnya terbit di jurnal Science edisi April 2026 itu mendokumentasikan konflik mematikan antar-kelompok simpanse liar—fenomena yang belum pernah tercatat sebelumnya.
Mitani pertama kali menginjakkan kaki di Taman Nasional Kibale, Uganda, pada musim panas 1995. Saat itu ia baru kembali dari Tanzania dan terkesan dengan populasi simpanse di Ngogo yang jumlahnya hampir 200 individu—jauh melampaui populasi Mahale yang hanya sekitar 100 ekor. Bersama David Watts dari Universitas Yale, ia mendirikan Proyek Simpanse Ngogo dengan dana awal $500.000 dari National Science Foundation (NSF) AS. Kini, proyek tersebut menjadi salah satu dari 12 studi jangka panjang simpanse liar di dunia.
Selama tiga dekade, tim peneliti mengungkap berbagai temuan penting: tingkat kematian terendah pada populasi simpanse liar, kemampuan jantan tak berkerabat membentuk aliansi, serta peran berburu dan makan daging—terutama monyet colobus merah—dalam mempererat ikatan sosial jantan. Namun, pada Juni 2015, perilaku tak terduga muncul. Sekelompok simpanse tiba-tiba panik dan berpencar tanpa sebab jelas. "Kekacauan pecah. Mereka berlarian dan saling mengejar," kenang Mitani. Momen itu menjadi awal dari konflik bersenjata yang berlangsung bertahun-tahun.
Pada 2018, dua kelompok simpanse yang sebelumnya bersatu telah terbentuk. Meski secara ilmiah temuan ini mengejutkan, bagi Mitani dampaknya sangat personal. "Saya berada dalam fase penyangkalan. Saya masih berpikir mereka baik-baik saja sebagai kelompok besar," ujarnya. Ia mengaku semakin sulit kembali ke Ngogo untuk menyaksikan pembunuhan berlanjut. "Dulu, 20 tahun pertama, mengunjungi simpanse adalah hal yang menyenangkan. Sekarang, semakin berat," tambahnya.
"Jika ada satu hal yang saya pelajari dari mempelajari simpanse selama ini, itu adalah bahwa mereka bukan kita." — John Mitani
Mitani menolak anggapan bahwa perang saudara ini membuktikan kecenderungan evolusioner manusia terhadap kekerasan. Ia menekankan bahwa perilaku serupa tidak teramati pada bonobo, yang juga berbagi nenek moyang dengan manusia sekitar 8 juta tahun lalu. "Banyak dari kami yang mempelajari simpanse menekankan kesamaan, dan itu wajar. Tapi terkadang kolega saya terlalu menarik kesimpulan," tegasnya.
Meski demikian, keberadaan peneliti di lapangan selama puluhan tahun turut membantu konservasi. Mereka bekerja sama dengan otoritas satwa liar untuk melepas jerat yang sering menjerat simpanse secara tidak sengaja. Namun, Mitani kini khawatir dengan masa depan riset Ngogo. Sebagian besar pendanaan berasal dari divisi ilmu perilaku dan kognitif NSF, yang menurut proposal anggaran 2027 pemerintahan Trump akan dihapus. "Simpanse di sana masih punya banyak cerita penting untuk kita," ujarnya. "Ini salah satu alasan saya sangat prihatin dengan perang terhadap sains dan kebenaran di negara ini."
Bagi Indonesia, kisah Ngogo menjadi cermin penting. Sebagai negara dengan keanekaragaman hayati tinggi, Indonesia memiliki primata endemik seperti orangutan yang juga menghadapi ancaman deforestasi dan perburuan. Riset jangka panjang semacam Ngogo dapat menjadi model untuk memahami perilaku satwa dan mendorong kebijakan konservasi berbasis bukti. Namun, ketergantungan pada pendanaan asing—seperti yang dialami Ngogo—menjadi kerentanan tersendiri. Pengalaman Mitani menunjukkan bahwa investasi jangka panjang dalam riset lapangan tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga memperkuat upaya pelestarian.
Mitani berencana kembali ke Ngogo bulan ini dan akan terus kembali selama mampu. "Bukit-bukit di Ngogo semakin curam setiap tahun, dan jarak antar-jalur tampak semakin panjang. Tapi saya merasa diberkati masih bisa melakukannya," tuturnya. Ia berharap warisannya dapat menumbuhkan apresiasi publik terhadap simpanse, sehingga mendorong upaya menjaga kelangsungan hidup mereka di planet ini. "Itu harapan besar saya."



