Dr Philippa Kaye Ungkap 'Kelegaan Berair Mata' Usai Hasil Pindai Kanker Bersih: Bukan Sukacita, tapi Campuran Emosi
Baca dalam 60 detik
- Dokter sekaligus presenter This Morning, Dr Philippa Kaye, mengaku hasil pemindaian kanker yang bersih tidak serta-merta memunculkan kebahagiaan, melainkan kelegaan bercampur rasa syukur, bersalah, dan sedih.
- Kaye, penyintas kanker usus stadium dua sejak 2019, masih menjalani pemantauan tahunan dan pada Maret 2026 menjalani histerektomi karena risiko kanker.
- Pengalaman Kaye menyoroti fenomena 'scanxiety' dan kompleksitas psikologis penyintas kanker yang kerap terabaikan dalam perawatan pasca-terapi.

Dokter umum yang juga dikenal sebagai presenter acara This Morning, Dr Philippa Kaye, mengungkapkan bahwa hasil pemindaian kanker terbarunya yang dinyatakan bersih tidak memberinya ledakan kebahagiaan seperti yang ia bayangkan. Sebaliknya, ia merasakan kelegaan yang begitu dalam hingga membuat lutut lemas dan tangan gemetar, disertai air mata.
Kaye, yang berpraktik di bidang kesehatan perempuan, anak, dan seksual, didiagnosis kanker usus stadium dua pada 2019 saat usianya 39 tahun. Ia menjalani kemoterapi selama enam bulan dan operasi 12 jam untuk mengangkat lesi kanker yang tersisa. Setahun kemudian, ia menyatakan diri bebas kanker, namun tetap harus menjalani pemantauan tahunan. Pada Maret 2026, ia menjalani histerektomi yang berhasil karena adanya risiko kanker. Lima bulan berselang, Kaye mengaku kesulitan menerima perubahan permanen pada tubuhnya pasca-pengobatan, termasuk rambut, kulit, dan bentuk tubuh.
Melalui unggahan di Instagram pada Selasa (6/10/2026), Kaye membagikan swafoto dengan keterangan yang menggambarkan perbedaan emosinya sebelum dan sesudah mendengar hasil pemindaian serta endoskopi. "Saya selalu mengira akan dipenuhi sukacita dan kebahagiaan saat menerima hasil yang bersih. Namun kenyataannya, seperti biasa, lebih rumit," tulisnya. Ia menyebut perasaan utamanya adalah kelegaan yang luar biasa, disertai rasa syukur, bersalah, sedih, dan banyak lagi. "Kanker tidak selalu berakhir saat pengobatan selesai. Perasaan itu rumit, dan Anda berhak merasakan semuanya," tambahnya.
Dalam keterangan unggahannya, Kaye juga menyoroti fenomena yang ia sebut "scanxiety" โ kecemasan menjelang pemindaian โ yang tidak hilang begitu saja setelah hasil keluar. "Gambar-gambarnya terlihat sama, bukan? Kecemasan menjelang pindai tidak langsung lenyap saat Anda mendengar hasilnya. Apa pun perasaan Anda, itu valid," ujarnya.
Unggahan tersebut mendapat respons hangat dari para pengikutnya. Seorang warganet menulis, "Saya sangat senang pindaiannya bersih dan saya sangat memahami mengapa Anda tidak tersenyum." Pengikut lain berkomentar, "Senang mendengar hasilnya bersih. Tidak ada yang mempersiapkan Anda untuk campuran emosi yang luar biasa. Pelukan erat." Ada pula yang menyebut Kaye "sangat berani, cantik luar dalam, dan inspiratif bagi semua orang yang menjalani perjalanan serupa."
Pada Agustus 2026, Kaye pernah membuka diri tentang betapa sulitnya melihat dampak jangka panjang kanker pada tubuhnya. "Saya berjuang... dengan perubahan tubuh akibat kanker. Ini bukan soal bekas luka. Itu adalah tato pertempuranku. Itu menceritakan betapa tangguhnya tubuhku. Yang sulit adalah perubahan lain: menopause dini akibat pengobatan, dan sekarang ovarium saya diangkat secara surgikal. Meski menjalani terapi hormon, tetap ada perubahan. Rambut saya menipis. Kulit saya berubah dengan lebih banyak kerutan dan tanda gelap. Tubuh saya lebih lunak meski rajin olahraga. Saya melihat perubahan di mana-mana," tuturnya.
Meski demikian, Kaye menegaskan rasa syukurnya. "Saya benar-benar bersyukur. Tubuh saya tidak bekerja seperti dulu dan sekarang tidak terlihat seperti dulu. Saya tahu ini terdengar dangkal, tapi kadang saya ingin bercermin dan melihat diri saya yang dulu," akunya. Ia menambahkan, "Saya sangat sadar ini unggahan yang superficial. Saya juga sangat bersyukur atas tubuh saya yang luar biasa dan cara kerjanya untuk saya. Tapi kadang sulit untuk tidak memperhatikan semua perubahan yang saya lihat."
Kisah Kaye menggambarkan tantangan psikologis yang kerap dihadapi penyintas kanker di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Data Global Cancer Observatory (Globocan) 2020 menunjukkan kanker kolorektal menjadi salah satu jenis kanker dengan insiden tertinggi di Indonesia, dengan lebih dari 34.000 kasus baru per tahun. Sementara itu, kesadaran akan pentingnya dukungan kesehatan mental pasca-kanker masih rendah. Banyak penyintas mengalami kecemasan, depresi, dan gangguan citra tubuh yang tidak tertangani karena fokus perawatan lebih pada aspek fisik.
Pakar onkologi dan psikolog kesehatan menilai bahwa pendekatan holistik yang mencakup skrining psikologis rutin dan kelompok dukungan sebaya sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup penyintas. Di Indonesia, beberapa rumah sakit kanker utama seperti Dharmais dan RSCM telah mulai mengintegrasikan layanan psikologi onkologi, namun jangkauannya masih terbatas pada kota-kota besar.
Ke depan, kisah Kaye dapat menjadi pemicu diskusi lebih luas tentang perlunya protokol perawatan pasca-kanker yang tidak hanya memantau kekambuhan, tetapi juga mendampingi penyintas menghadapi perubahan identitas dan emosi. Apakah sistem kesehatan di Indonesia siap memberikan dukungan serupa bagi ratusan ribu penyintas kanker yang terus bertambah setiap tahun?



