GTA 6 Disambut Rating M, Jack Thompson Tetap Menyerang: 'Fasisme Korporat'
Baca dalam 60 detik
- GTA 6 resmi mendapat rating M dari ESRB dan 18+ dari PEGI, menandai pergeseran besar dari kontroversi Hot Coffee 2005.
- Jack Thompson, mantan pengacara yang dulu vokal menentang game kekerasan, kini mengkritik kemitraan promosi GTA 6 di Florida sebagai 'aliansi korporatis tidak suci'.
- Industri game telah menjadi arus utama, dengan rata-rata pemain berusia 36 tahun, sementara kejahatan kekerasan justru menurun dalam dua dekade terakhir.

Grand Theft Auto 6 telah resmi mendapatkan rating M (Mature) dari Entertainment Software Rating Board (ESRB), menandai babak baru dalam evolusi industri game yang dulu dianggap kontroversial. Rating ini menandakan bahwa game tersebut ditujukan untuk pemain berusia 17 tahun ke atas, sementara badan rating Eropa PEGI memberikan klasifikasi 18+ dengan catatan adanya adegan dekapitasi detail dan penggunaan narkoba yang sering. Perubahan lanskap ini kontras dengan skandal Hot Coffee pada 2005, ketika modifikasi GTA: San Andreas memicu reaksi keras dari regulator dan politisi.
Dua dekade lalu, Hot Coffee—mod yang mengaktifkan kode tersembunyi untuk adegan seks interaktif—membuat GTA: San Andreas ditarik dari peredaran dan dilarang di Australia. Federal Trade Commission AS pun turun tangan, menuduh Rockstar dan Take-Two Interactive tidak transparan tentang konten game. Kini, dengan GTA 6 yang akan segera dirilis untuk konsol, kontroversi semacam itu tampak kuno. Rating M yang diberikan justru menegaskan bahwa kekerasan dan tema dewasa telah menjadi bagian yang diterima dalam media arus utama.
Perubahan ini tidak lepas dari pergeseran demografi pemain. Entertainment Software Association melaporkan pada 2025 bahwa rata-rata gamer di AS berusia 36 tahun dan telah bermain game selama 18 tahun. Artinya, banyak polisi, politisi, dan orang tua yang tumbuh dengan game seperti GTA dan memandangnya setara dengan tayangan dewasa di televisi. Kekhawatiran akan ledakan kejahatan akibat game kekerasan pun tidak terbukti; sebaliknya, tingkat kejahatan kekerasan justru menurun seiring meningkatnya popularitas game.
Meskipun masyarakat telah menerima GTA, Jack Thompson—mantan pengacara yang dulu terkenal karena kampanye anti-game kekerasan—tetap pada pendiriannya. Thompson, yang tinggal di Florida, mengkritik kemitraan promosi GTA 6 di negara bagian tersebut. "Jika Anda tidak memahami bahwa promosi pemerintah terhadap kepentingan komersial adalah fasisme, maka tidak ada yang perlu dibicarakan," ujarnya. Ia juga menantang sheriff setempat untuk menentang apa yang disebutnya sebagai "aliansi korporatis tidak suci". Namun, departemen sheriff menyatakan tidak khawatir dengan keputusan promosi yang dilakukan pihak swasta.
"Jika Anda tidak memahami bahwa promosi pemerintah terhadap kepentingan komersial adalah fasisme maka kita sangat sedikit yang bisa dibicarakan," kata Jack Thompson.
Thompson bahkan menuduh penulis yang menghubunginya telah meminum "Kool-Aid fasisme" dan menyamakannya dengan Joseph Goebbels. Ia menegaskan bahwa penulis tersebut bukan jurnalis jujur. Sikap Thompson yang tidak melunak menunjukkan bahwa bagi sebagian orang, GTA tetap menjadi simbol korosi moral, meskipun game itu kini diadopsi oleh Netflix, NBA, Walmart, dan bahkan negara bagian Florida.
Di Indonesia, fenomena GTA 6 juga patut dicermati. Meskipun game ini belum tentu dirilis secara resmi di sini, diskusi tentang rating dan konten dewasa sering menjadi perdebatan. Indonesia memiliki sistem klasifikasi usia untuk game, namun implementasinya masih longgar. Kehadiran GTA 6 bisa menjadi momentum untuk memperkuat literasi digital dan regulasi konten, tanpa harus terjebak pada panik moral yang tidak berdasar. Industri game lokal juga bisa belajar dari bagaimana Rockstar menghadapi kontroversi dan tetap menjadi raksasa global.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah game kekerasan akan memicu kekerasan di dunia nyata, melainkan bagaimana masyarakat dan regulator menyesuaikan diri dengan media yang semakin matang. GTA 6 akan menjadi ujian bagi cara kita menilai hiburan interaktif: apakah kita masih terjebak pada stigma lama, atau mulai melihatnya sebagai bagian dari budaya populer yang kompleks? Yang jelas, perdebatan antara Thompson dan pendukung GTA mencerminkan dinamika yang akan terus berlanjut seiring evolusi teknologi dan norma sosial.



