Persita Panggil Pulang Cristian Carrasco, Legenda Chile yang Janji Pensiun di Tangerang
Baca dalam 60 detik
- Persita Tangerang mengundang kembali Cristian Carrasco, penyerang legendaris asal Chile, untuk memompa semangat skuad jelang laga melawan Garudayaksa FC di BRI Super League.
- Carrasco, 48 tahun, pernah membela Persita 2009โ2013 dan mengantar klub finis runner-up Divisi Utama 2011/2012, kini hadir sebagai motivator sekaligus simbol kesetiaan.
- Kehadiran ikon masa lalu ini diharapkan mendongkrak performa Hokky Caraka dkk yang belum terkalahkan dalam tiga laga, tetapi masih tertahan di peringkat ke-10 klasemen sementara.

Persita Tangerang mengambil langkah tak biasa dengan memulangkan Cristian Carrasco, legenda hidup klub asal Chile, untuk menyuntikkan energi baru sebelum menghadapi Garudayaksa FC pada pekan lanjutan BRI Super League 2026/2027 di Banten International Stadium, Serang, Sabtu (10/10/2026) pukul 15.30 WIB.
Langkah ini bukan sekadar nostalgia. Manajemen Pendekar Cisadane menilai kehadiran sosok yang akrab disapa Carrasco itu bisa menjadi pemantik mental bertanding Hokky Caraka dan kolega, terutama setelah jeda internasional yang berpotensi mengendurkan fokus. Pelatih kepala Carlos Pena sendiri terus mengasah fisik, stamina, dan kohesi antarlini melalui sesi latihan internal di Indomilk Arena Stadium.
Secara statistik, Persita belum menelan kekalahan dalam tiga pertandingan pembuka dengan raihan dua imbang dan satu kemenangan. Lima poin yang dikumpulkan menempatkan mereka di posisi ke-10 klasemen sementara. Kemenangan atas Garudayaksa FC, tim promosi yang sedang mencari identitas, akan mendongkrak posisi mereka ke papan tengah atas dan menjaga momentum positif.
Bagi publik sepak bola Indonesia, nama Cristian Carrasco bukan sosok asing. Penyerang berusia 48 tahun itu pernah menjadi ikon selebrasi topeng Spiderman dan memperkuat sejumlah klub papan atas seperti PSMS Medan, Persebaya Surabaya, Persipura Jayapura, PSM Makassar, dan terakhir Persita. Kiprahnya di Tangerang berlangsung cukup lama, dari 2009 hingga 2013, sebelum ia menutup karier di Timor Leste bersama Assalam.
"Waktu saya masuk ke sini, saya berjanji ini akan menjadi klub terakhir saya di Indonesia. Saya akan pensiun di sini," ujar Carrasco, mengenang komitmennya kepada salah satu petinggi Persita, Ahmed Rully Zulfikar.
Kesetiaan itu pula yang membuat Carrasco kembali ke Tangerang. Ia mengaku masih menjalin komunikasi dengan manajemen, dan merasa terikat secara emosional dengan klub yang membesarkan namanya di penghujung karier. Menurutnya, Persita dan sepak bola Indonesia secara umum menyimpan masa depan cerah bagi banyak pemain muda, asalkan mereka konsisten, profesional, dan mendapat dukungan keluarga.
Dari sekian banyak momen, Carrasco menyebut promosi ke Divisi Utama dan gelar pemain terbaik pada tahun yang sama sebagai kenangan paling berkesan. Pencapaian itu menjadi puncak kariernya bersama Pendekar Cisadane, sekaligus bukti bahwa dedikasi pada satu klub bisa berbuah pengakuan.
Kehadiran Carrasco di tengah persiapan tim memunculkan pertanyaan menarik: apakah aura legenda mampu mentransfer mentalitas juara kepada skuad saat ini? Persita bukan tim dengan sumber daya sebesar Persija atau Persib, tetapi sejarah menunjukkan mereka bisa bersaing ketika memiliki figur pemimpin yang kuat. Jika Hokky Caraka dkk mampu menyerap semangat itu, bukan tidak mungkin posisi mereka melesat ke papan atas dan mengubah peta persaingan BRI Super League musim ini.



