Karhutla Banyuasin Mendekati Permukiman, Warga Berjibaku Selamatkan Harta
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran hutan dan lahan di Banyuasin, Sumatera Selatan, belum berhasil dipadamkan hingga Rabu (7/10) dan api mulai merangsek ke kawasan pemukiman.
- Situasi ini memaksa warga setempat bergerak cepat mengamankan barang berharga dan ternak, sementara upaya pemadaman terus dilakukan.
- Peristiwa ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah dan pusat untuk memperkuat mitigasi karhutla menjelang puncak musim kemarau.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Banyuasin, Sumatera Selatan, hingga Rabu (7/10) belum menunjukkan tanda-tanda padam. Api dilaporkan kian mendekat ke kawasan permukiman penduduk, memaksa warga berjibaku menyelamatkan harta benda mereka.
Pantauan di lapangan memperlihatkan kepulan asap tebal membubung tinggi dan langit berwarna kekuningan—indikasi kuat bahwa kebakaran masih aktif dan meluas. Warga terlihat sibuk memindahkan barang-barang berharga, seperti dokumen penting, perabot, dan hewan ternak, ke tempat yang lebih aman. Situasi ini menciptakan kepanikan di tengah keterbatasan akses dan sumber daya pemadaman.
Banyuasin memang menjadi salah satu wilayah langganan karhutla setiap musim kemarau, terutama karena karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan. Namun, eskalasi tahun ini terbilang mengkhawatirkan karena titik api tidak hanya berada di area terpencil, tetapi sudah merangsek mendekati zona hunian. Jika tidak segera diatasi, dampaknya bisa meluas ke sektor kesehatan, transportasi, dan aktivitas ekonomi warga.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, dalam keterangan terpisah, menyatakan bahwa tim gabungan masih berupaya melakukan pemadaman darat dan udara. "Kendala utama adalah akses menuju titik api yang sulit dan angin kencang yang mempercepat penyebaran api," ujarnya. Ia menambahkan bahwa prioritas saat ini adalah melindungi pemukiman warga dan mencegah korban jiwa.
Pakar lingkungan dari Universitas Sriwijaya, Dr. Ir. Andi, menilai bahwa karhutla di Banyuasin tidak bisa dilepaskan dari praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. "Sebagian besar titik api berasal dari aktivitas manusia, baik yang disengaja maupun akibat kelalaian," jelasnya. Ia mendesak penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran lahan agar efek jera benar-benar terwujud.
Dari sisi kesehatan, paparan asap karhutla yang berkepanjangan dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama pada anak-anak dan lansia. Dinas Kesehatan setempat telah menyiagakan puskesmas dan posko kesehatan di titik-titik pengungsian. Namun, keterbatasan masker dan obat-obatan menjadi tantangan tersendiri.
Pemerintah Kabupaten Banyuasin bersama instansi terkait terus melakukan koordinasi untuk mempercepat penanganan. Bantuan dari pemerintah provinsi dan pusat diharapkan segera tiba, termasuk tambahan personel dan peralatan pemadaman. Sementara itu, warga diminta tetap waspada dan mengikuti arahan petugas.
Ke depan, peristiwa ini menjadi ujian bagi kesiapsiagaan pemerintah dalam menghadapi bencana karhutla yang kerap berulang. Tanpa langkah preventif yang sistematis—seperti patroli rutin, penegakan hukum, dan edukasi masyarakat—ancaman serupa akan terus membayangi. Mampukah Banyuasin bangkit dari asap tahunan, atau justru terjebak dalam siklus bencana yang sama?


