Menara 20 Lantai di Lahan 0,23 Hektare: Taruhan Rp2,9 Triliun Data Center Vertikal Kansas City
Baca dalam 60 detik
- Revitalization Unlimited mengusulkan gedung data center 20 lantai di pusat Kansas City dengan luas lahan hanya 0,23 acre, menghadirkan kapasitas IT 24 MW.
- Biaya konstruksi mencapai US$183 juta atau sekitar US$1.300 per kaki persegi, jauh di atas ekonomi pembangunan data center pinggiran kota pada umumnya.
- Proyek masih menunggu persetujuan otoritas setempat, dengan ordinasi pengembangan yang baru akan dibahas pada Oktober 2026.

Sebuah perusahaan pengembang properti di Kansas City, Revitalization Unlimited, mengajukan proposal pembangunan menara data center setinggi 20 lantai di atas lahan seluas hanya 0,23 acre—atau sekitar 930 meter persegi. Jika disetujui, fasilitas ini akan menjadi salah satu data center vertikal pertama di Amerika Serikat yang berdiri di jantung kawasan urban, bukan di kawasan industri pinggiran yang selama ini menjadi standar industri.
Langkah ini menantang tren umum. Riset terbaru dari firma properti Cushman & Wakefield mencatat bahwa rata-rata transaksi lahan untuk data center di AS mencakup 224 acre—setara 90 hektare. Skala lahan sebesar itu mendorong hampir semua proyek besar menjauh dari pusat kota dan memilih lokasi suburban yang lebih murah dan luas. Revitalization Unlimited justru membalik logika tersebut: alih-alih melebar, mereka membangun ke atas.
Dari 20 lantai yang direncanakan, hanya dua lantai yang akan diisi peralatan komputasi. Delapan belas lantai lainnya dialokasikan untuk sistem pendingin, kelistrikan, dan infrastruktur pendukung. Dari total 141.000 kaki persegi bruto, sekitar 109.000 kaki persegi—nyaris 80 persen—dipakai untuk sistem mekanikal dan elektrikal. Artinya, menara ini lebih mirip pembangkit listrik vertikal ketimbang gedung server konvensional.
Steve Austin, pendiri dan CEO Revitalization Unlimited, menyatakan bahwa pihaknya tidak berambisi memindahkan semua data center ke pusat kota. "Kami tidak mengatakan setiap data center harus berada di downtown. Kami hanya mengatakan yang ini memang layak, dan kami membayar premi konstruksi untuk membuktikannya," ujarnya, seperti dikutip dari pernyataan resmi perusahaan.
Argumen utama di balik proyek ini adalah latensi. Untuk layanan inferensi AI yang menuntut respons cepat, jarak fisik antara server dan pengguna sangat menentukan. Luis Fernandes, manajer riset senior di IDC, menambahkan bahwa trader saham kerap mencari alamat sedekat mungkin dengan server bursa demi memangkas sepersekian detik dalam transaksi. "Bukan hal aneh jika mereka rela membayar mahal untuk keunggulan waktu yang sangat kecil," katanya.
Selain perdagangan finansial, sektor telekomunikasi, distribusi konten, dan inferensi AI dinilai paling diuntungkan oleh lokasi urban yang padat. Namun, untuk pelatihan model AI skala besar yang membutuhkan lahan dan listrik dalam jumlah raksasa, data center suburban tetap lebih masuk akal secara ekonomi.
Biaya menjadi sorotan. Total investasi US$183 juta setara dengan sekitar US$1.300 per kaki persegi—jauh lebih tinggi dibandingkan pembangunan data center pinggiran kota yang biasanya berkisar US$700–900 per kaki persegi. Dari US$167 juta biaya konstruksi keras, sekitar US$107 juta habis untuk sistem mekanikal, elektrikal, plumbing, dan proteksi kebakaran. Angka ini menunjukkan bahwa kompleksitas vertikal memang menelan porsi besar anggaran.
Soal pasokan daya, fasilitas ini menargetkan Power Usage Effectiveness (PUE) 1,25 dan akan mengandalkan 30 MW sel bahan bakar Bloom sebagai sumber listrik utama. Meski menggunakan gas alam sebagai bahan bakar, pendekatan ini tidak sepenuhnya menghilangkan emisi karbon. Sistem pendingin pun masih melibatkan peralatan evaporatif, sehingga klaim bahwa konsumsi air bisa dihilangkan sepenuhnya melalui sistem tertutup perlu ditinjau lebih kritis.
Pembangunan vertikal juga menghadirkan tantangan teknis tersendiri: bobot peralatan yang berat, kapasitas elevator, serta akses crane yang terbatas. Faktor-faktor ini berpotensi menaikkan biaya konstruksi dan menyulitkan logistik penggantian komponen saat pemeliharaan rutin di masa depan.
"Kami tidak mengatakan setiap data center harus berada di downtown. Kami hanya mengatakan yang ini memang layak, dan kami membayar premi konstruksi untuk membuktikannya." — Steve Austin, CEO Revitalization Unlimited
Desain menara ini digarap oleh Skidmore, Owings & Merrill (SOM), firma arsitektur kenamaan yang dikenal lewat proyek One World Trade Center. Meski demikian, proyek ini belum final. Sebuah ordinasi pengembangan terkait masih berstatus pending hingga 13 Oktober 2026, artinya proses persetujuan bisa memakan waktu lebih dari dua tahun.
Jika terealisasi, proyek ini bisa menjadi preseden bagi kota-kota padat lain yang kesulitan mencari lahan luas untuk data center. Namun, pertanyaan besarnya: apakah model vertikal ini bisa direplikasi secara ekonomis, atau hanya masuk akal untuk beban kerja tertentu yang sangat sensitif terhadap latensi? Publik dan pelaku industri akan menantikan apakah Kansas City benar-benar menjadi laboratorium bagi masa depan data center urban.



