Rally Trump di Texas Diwarnai Demo, Sinyal Kerentanan Partai Republik di Kandang Sendiri
Baca dalam 60 detik
- Aksi unjuk rasa berulang kali mengganggu kampanye Donald Trump di San Antonio, Texas, dengan setidaknya enam demonstran diusir aparat.
- Trump mendukung penuh calon Senat Ken Paxton, tetapi jajak pendapat terbaru menunjukkan pesaing dari Partai Demokrat, James Talarico, unggul 51% berbanding 45%.
- Kampanye Partai Republik di Texas telah menelan biaya lebih dari US$300 juta, menandakan bahwa kursi yang biasanya aman kini berubah menjadi medan pertempuran sengit.

Donald Trump kembali menghadapi gelombang protes saat berkampanye di San Antonio, Texas, Rabu (8/10/2026) waktu setempat. Setidaknya enam demonstran mengganggu jalannya pidato presiden Amerika Serikat tersebut, memaksa aparat kepolisian menyeret mereka keluar dari arena. Seorang pengunjuk rasa bahkan menjadi korban pemukulan oleh pendukung Trump yang lebih tua ketika hendak meninggalkan lokasi.
Insiden itu memaksa Trump sempat menjauh dari mikrofon ketika seorang pria tampak mendekati panggung. "Dia pulang ke rumah ibunya," ujar Trump setelah pria tersebut diamankan. "Tapi dia tidak tahu kalau ibunya memilih Trump." Pendukung yang melambaikan topi koboi dan meneriakkan "USA" menenggelamkan suara para pengunjuk rasa, sementara Trump memerintahkan mereka untuk "keluar dari sini". Tanpa bukti, ia menuduh para demonstran "dibayar oleh musuh bangsa kita".
Rally tersebut menjadi panggung ketiga Trump di Texas dalam waktu kurang dari sebulan, sebuah indikasi bahwa Partai Republik kini mengucurkan dana besar ke wilayah yang biasanya mereka menangkan dengan mudah pada pemilihan paruh waktu November mendatang. Fokus utama adalah mendongkrak elektabilitas calon Senat Ken Paxton, yang sebelumnya didukung Trump setelah ia berbalik melawan petahana John Cornyn. Paxton, yang naik ke panggung untuk berterima kasih, menyatakan: "Kita akan memenangkan pertarungan ini." Trump memujinya sebagai "jaksa agung terhebat di Amerika Serikat".
Meski hubungannya dengan Paxton terkadang tampak tidak mulus—Trump sempat menyebutnya "terkadang menyebalkan" pekan lalu—presiden tidak menyinggung rekaman bocor yang berisi keluhan Paxton soal perang di Iran, kenaikan harga bahan bakar, dan jalannya kampanye. Sebaliknya, Trump menghabiskan sebagian besar waktu untuk menyerang Talarico dengan julukan "Tala-freako" dan klaim tanpa dasar bahwa rivalnya itu seorang vegan yang jatuh sakit karena dipaksa makan daging.
"Rakyat Texas tidak akan membiarkan pertunjukan aneh yang lemah, tanpa nyali, membenci diri sendiri, dan mempromosikan transgender menghancurkan semua yang telah kita bangun." — Donald Trump
Yang menarik, Gubernur Texas Greg Abbott—sekutu dekat Trump yang juga menghadapi pemilihan ketat melawan kandidat Demokrat Gina Hinojosa—tidak hadir dalam rally. Abbott lebih memilih menghadiri peresmian rumah sakit sekitar 330 mil jauhnya. Partai Demokrat langsung memanfaatkan ketidakhadiran tersebut sebagai sinyal bahwa bahkan politisi lokal mulai menjaga jarak dari presiden yang popularitasnya menurun.
Kampanye Trump selama 32 hari juga menyasar beberapa negara bagian yang cenderung Republik seperti Oklahoma, Alabama, Ohio, dan Nebraska, menunjukkan strategi bertahan di wilayah yang seharusnya sudah aman. Sementara itu, Partai Demokrat semakin percaya diri bahwa Texas dapat berubah menjadi medan pertempuran sesungguhnya pada November nanti.
Bagi Indonesia, dinamika politik Amerika Serikat ini patut dicermati karena kebijakan luar negeri Washington—terutama terkait Iran, perdagangan, dan keamanan Indo-Pasifik—akan sangat dipengaruhi oleh komposisi Kongres. Jika Partai Republik kehilangan kursi di Texas, tekanan terhadap agenda Trump bisa meningkat, yang pada gilirannya memengaruhi stabilitas hubungan bilateral dan iklim investasi global. Pertanyaannya, akankah gelombang protes dan penurunan popularitas ini cukup untuk membalikkan dominasi Republik di Texas, atau justru menjadi bahan bakar mobilisasi basis konservatif?



