Super El Niño Hantam India: Krisis Pangan dan Guncangan Ekonomi di Depan Mata
Baca dalam 60 detik
- India mencatat curah hujan terendah dalam lebih dari satu dekade, memicu kekhawatiran gagal panen dan lonjakan inflasi.
- Menteri Luar Negeri India memperingatkan krisis pangan besar akibat kombinasi El Niño dan kelangkaan pupuk global.
- Ekonomi pedesaan yang menopang 46% tenaga kerja terancam, berimbas pada permintaan domestik dan perusahaan multinasional.

India sedang bersiap menghadapi pukulan ganda: fenomena iklim super El Niño dan kelangkaan pupuk global yang dipicu konflik geopolitik. Menteri Luar Negeri Subrahmanyam Jaishankar secara terbuka memperingatkan bahwa kombinasi keduanya berpotensi memicu krisis pangan besar dalam beberapa bulan mendatang. Peringatan ini muncul setelah India mencatat curah hujan terendah dalam lebih dari satu dekade selama periode muson Juni–September, menurut laporan media lokal dan data Departemen Meteorologi India.
Dampaknya tidak main-main. Sektor pertanian memang hanya menyumbang sekitar 17% dari produk domestik bruto India, tetapi menopang hampir setengah dari total angkatan kerja nasional. Ketika hasil panen anjlok, daya beli pedesaan melemah, dan inflasi sisi penawaran melonjak. Bank Dunia dalam laporannya pekan ini menyebut defisit muson India "lebih besar dari perkiraan awal" dan memperkirakan penurunan output pertanian serta permintaan pedesaan, yang pada gilirannya memperkuat tekanan inflasi pangan.
Negara bagian lumbung padi seperti Maharashtra, Andhra Pradesh, Punjab, dan Haryana dilaporkan mengalami kondisi kekeringan ekstrem. Nomura dalam catatannya menyoroti bahwa risiko terhadap panen musim dingin semakin nyata. Sementara itu, industri gula—yang menopang sekitar 50 juta petani dan 500.000 pekerja pabrik—terpukul oleh muson lemah yang menurunkan rendemen dan produksi tebu. India adalah produsen tebu terbesar kedua dunia, sehingga gangguan di sektor ini berpotensi mengerek harga gula global.
"Ada krisis pangan besar yang akan datang," ujar Jaishankar dalam acara Asia Society di New York, seraya menambahkan bahwa guncangan energi dan arus modal ke aset aman sangat menekan ekonomi negara-negara Selatan.
Tekanan ini memperparah situasi ekonomi India yang sudah menghadapi ketidakpastian dagang dengan Amerika Serikat dan arus keluar investor asing dari pasar ekuitas. Bank Sentral India (RBI) pekan ini menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak 2023, menaikkan repo rate 25 basis poin menjadi 5,50%, sebagai respons terhadap inflasi yang terus merangkak naik. Langkah ini menandai pergeseran kebijakan moneter yang lebih ketat di tengah perlambatan ekonomi global.
Bagi perusahaan multinasional, sinyal ini menjadi peringatan dini. Hindustan Unilever, Colgate-Palmolive India, Nestle India, serta produsen otomotif Maruti Suzuki dan Hyundai Motors sangat bergantung pada permintaan pedesaan, yang menyumbang hampir 40% penjualan barang konsumsi cepat saji (FMCG) nasional. S&P Global Market Intelligence memperkirakan ekonomi pedesaan India akan melambat secara material pada 2026–2027 akibat kekeringan, curah hujan di bawah normal, dan deplesi waduk. Tanda-tanda awal stres sudah terlihat: penjualan traktor melambat dan permintaan program bantuan kerja pedesaan meningkat.
Morgan Stanley memproyeksikan pertumbuhan nilai tambah bruto sektor pertanian India hanya 1,6% pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2027, jauh di bawah rata-rata 3,5% dalam tiga tahun terakhir. S&P Global memangkas proyeksi pertumbuhannya menjadi 1,9%. Verisk Maplecroft, firma penasihat risiko global, memperingatkan bahwa risiko keamanan pangan di Asia Selatan dan Tenggara akan meningkat, berpotensi memicu kerusuhan sosial dan ketidakstabilan politik di negara-negara paling terpapar seperti India, Indonesia, Pakistan, Bangladesh, dan Filipina.
Konteks Indonesia menjadi relevan mengingat posisi negara ini sebagai importir beras dan gula, serta produsen pertanian yang juga rentan terhadap anomali iklim. Jika El Niño memperparah defisit pangan di India, harga komoditas pangan global—terutama beras dan gula—berpotensi melonjak, yang akan langsung terasa pada inflasi pangan domestik Indonesia. Pemerintah dan pelaku usaha perlu mengantisipasi tekanan ini dengan memperkuat cadangan pangan dan diversifikasi sumber impor.
Pertanyaannya kini: seberapa besar ruang fiskal dan moneter yang dimiliki India—dan negara-negara berkembang lainnya—untuk menyerap guncangan ini tanpa memicu gejolak sosial? Dalam beberapa bulan ke depan, data inflasi September yang akan dirilis 12 Oktober dan indeks harga grosir 14 Oktober akan menjadi indikator awal seberapa dalam krisis ini akan mengakar.



