Agung Setyabudi Puji Mental Juara Timnas Indonesia, Soroti Celah Pertahanan di Transisi
Baca dalam 60 detik
- Agung Setyabudi menilai keberhasilan Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 tidak lepas dari faktor keberuntungan di adu penalti.
- Kualitas permainan skuad Garuda kini lebih agresif berkat dominasi pemain yang berkarier di Eropa.
- Kelemahan utama yang masih terlihat adalah rapuhnya lini belakang saat menghadapi serangan balik cepat.

Mantan kapten Timnas Indonesia, Agung Setyabudi, menyambut positif keberhasilan Kevin Diks dan kawan-kawan mengangkat trofi FIFA ASEAN Cup 2026. Menurutnya, gelar yang diraih setelah menundukkan Thailand melalui adu penalti 4-2 (2-2) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/10/2026), menjadi penanda berakhirnya penantian panjang selama 35 tahun di level senior.
Meski turut berbangga, Agung tidak menutup mata pada sejumlah catatan kritis. Ia menilai kemenangan atas Thailand tidak diraih dengan jalan mudah. Bahkan ketika Thailand harus bermain dengan sepuluh orang, perlawanan mereka tetap merepotkan dan memaksa laga berlanjut ke babak tos-tosan.
"Kita patut bersyukur akhirnya juara. Tapi secara permainan, saya melihatnya cukup berimbang. Thailand yang kekurangan pemain saja masih bisa memaksa adu penalti," ujar Agung kepada Bola.com, Rabu (7/10/2026).
Pemain yang memperkuat Timnas Indonesia pada periode 1993 hingga 2004 itu mengakui bahwa faktor keberuntungan atau Dewi Fortuna turut berperan dalam laga final. Menurutnya, keberpihakan nasib menjadi salah satu variabel yang tidak bisa diabaikan dalam pertandingan seketat itu.
Dari sisi kualitas permainan, Agung melihat adanya perubahan signifikan dalam gaya bertanding skuad asuhan John Herdman. Ia menyebut agresivitas ala Eropa menjadi nilai tambah utama. Hal ini tidak terlepas dari komposisi pemain yang hampir seluruhnya berkarier di klub-klub Benua Biru, mulai dari posisi kiper hingga lini depan.
"Cara bermain tim ini sudah berbeda. Banyak pemain abroad yang membuat permainan lebih berani, umpan terobosan lebih variatif, dan penyelesaian akhir lebih tajam. Ini perkembangan positif," tuturnya.
Hanya segelintir pemain yang masih berkompetisi di dalam negeri, seperti Rizky Ridho, Ivar Jenner, dan Thom Haye, yang sempat menjadi starter di turnamen tersebut. Dominasi pemain abroad ini dianggap menjadi fondasi baru bagi identitas permainan Timnas Indonesia.
Namun, Agung juga menyoroti kelemahan yang masih membayangi. Ia menilai lini belakang kerap kesulitan menghadapi transisi dari menyerang ke bertahan. Dua gol Thailand di final, menurutnya, lahir dari celah yang muncul saat pemain terlalu fokus menyerang dan lalai menjaga ruang kosong.
"Thailand memang tangguh. Saya melihat pemain kita terburu-buru karena merasa sudah unggul jumlah. Akibatnya, ada celah di pertahanan saat transisi. Bahkan melawan Bangladesh sebelumnya, celah itu juga terlihat," tandasnya.
Catatan ini menjadi pekerjaan rumah bagi tim pelatih. Jika tidak segera dibenahi, kelemahan dalam menghadapi serangan balik bisa menjadi bumerang saat menghadapi lawan dengan kualitas transisi lebih cepat di ajang yang lebih tinggi.
Ke depan, tantangan Timnas Indonesia tidak akan semakin ringan. Gelar ASEAN Cup 2026 seharusnya menjadi pijakan, bukan puncak. Pertanyaannya, mampukah skuad Garuda mempertahankan level permainan agresif sekaligus menutup celah di lini belakang ketika berhadapan dengan tim-tim elite Asia?



