Timnas Indonesia Juara ASEAN Cup 2026, The Guardian: Infantino Panen Dukungan di Tengah Perburuan Suara
Baca dalam 60 detik
- Kemenangan Indonesia atas Thailand di final ASEAN Cup 2026 dinilai The Guardian sebagai berkah politik bagi Presiden FIFA Gianni Infantino.
- Turnamen gagasan Infantino itu menuai kritik karena tumpang tindih dengan Piala AFF, minim penonton, dan minim peminat siaran di luar Indonesia.
- Dukungan Asia masih terbelah menjelang pemilihan Presiden FIFA, sehingga nasib ASEAN Cup bergantung pada hasil konsolidasi politik Infantino.

Kemenangan Timnas Indonesia atas Thailand di final ASEAN Cup 2026 bukan sekadar catatan sejarah bagi sepak bola nasional. The Guardian menilai gelar tersebut menjadi amunisi politik bagi Presiden FIFA Gianni Infantino yang tengah berburu dukungan menjelang pemilihan pemimpin federasi dunia itu.
Dalam laporan yang disusun John Duerden, media asal Inggris itu menyoroti intensitas kunjungan Infantino ke sejumlah negara Asia belakangan ini. Manuver tersebut dibaca sebagai upaya mengamankan basis suara, terutama karena posisinya di antara asosiasi anggota Asia belum sepenuhnya kokoh. Indonesia, lewat keberhasilan di turnamen yang digagas Infantino, disebut memberikan bantuan besar bagi orang nomor satu di FIFA tersebut.
"Jakarta sudah berada di pihaknya dan Indonesia memberikan Infantino sebuah bantuan besar dengan memenangkan turnamen yang sangat merupakan gagasannya," tulis The Guardian, seperti dikutip dari laporan tersebut.
ASEAN Cup sendiri diperkenalkan dalam pertemuan regional ASEAN di Kuala Lumpur pada Oktober 2025. Sejak awal, kehadirannya menuai pertanyaan karena Asia Tenggara telah memiliki turnamen dua tahunan sejak 1996, yakni Piala AFF yang kini bernama Hyundai ASEAN Championship. Edisi ke-16 kompetisi lama itu baru saja rampung pada Agustus 2026 dengan Vietnam keluar sebagai juara.
Jalan Indonesia menuju final juga tidak mulus. Pada laga terakhir fase grup, skuad Garuda wajib mengalahkan Bangladesh dengan selisih gol lebih besar daripada kemenangan Malaysia atas Singapura. Malaysia menang 6-0, sementara Indonesia membantai Bangladesh 9-2 untuk memastikan tiket ke partai puncak. Di final, Indonesia menahan Thailand 2-2 hingga perpanjangan waktu sebelum menang 4-2 dalam adu penalti.
Meski gelar sudah di tangan, The Guardian mempertanyakan daya tahan ASEAN Cup di kalender sepak bola Asia Tenggara. Minimnya penonton di tribun ketika Indonesia tidak bertanding menjadi sorotan. Selain itu, absennya Thailand dalam pendaftaran hak siar memperlihatkan rendahnya daya tarik komersial turnamen ini di luar pasar Indonesia.
Bagi Infantino, ukuran keberhasilan ASEAN Cup tampaknya tidak berhenti pada jumlah penonton atau popularitas kompetisi. The Guardian menilai hasil sesungguhnya baru akan terlihat dalam pemilihan Presiden FIFA mendatang, ketika asosiasi anggota Asia memberikan suara. Dukungan dari kawasan ini masih terpecah: sebagian mendukung petahana, sebagian menentang, dan sebagian lain masih menunggu perkembangan sebelum menentukan sikap.
Jika ASEAN Cup mampu memperkuat posisi Infantino di Asia, bukan tidak mungkin turnamen ini kembali digelar pada masa mendatang. Sebaliknya, jika dukungan politik yang diharapkan tidak terwujud, The Guardian memprediksi ASEAN Cup bisa bernasib sama seperti penciptanya dan perlahan menghilang dari kalender sepak bola Asia Tenggara.
Pertanyaannya kini, apakah gelar Indonesia benar-benar mengubah peta dukungan Asia bagi Infantino, atau justru menjadi kemenangan simbolik yang cepat pudar setelah konstelasi politik FIFA usai?



