Bio Paulin: Egy Maulana Vikri dan Rizky Ridho Bukti Pemain Lokal Layak Diperhitungkan di Timnas Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Persekabpas Pasuruan, Bio Paulin, menegaskan pemain lokal seperti Egy Maulana Vikri dan Rizky Ridho mampu bersaing di level tertinggi setelah Timnas Indonesia juara FIFA ASEAN Cup 2026.
- Kontribusi Egy dan Ridho saat masuk dari bangku cadangan menjadi faktor kunci kemenangan atas Thailand di final, meski Bio menyoroti kurangnya agresivitas saat lawan bermain dengan 10 orang.
- Gelar ini mengakhiri penantian 35 tahun trofi senior Indonesia, namun evaluasi taktis tetap diperlukan untuk menghadapi kompetisi yang lebih berat.

Pelatih Persekabpas Pasuruan, Bio Paulin, menilai keberhasilan Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 membuktikan bahwa pemain lokal tidak kalah kualitas dari pemain keturunan. Menurutnya, Egy Maulana Vikri dan Rizky Ridho menjadi contoh nyata bahwa talenta dalam negeri mampu tampil bersaing di level tertinggi.
Timnas Indonesia memastikan gelar juara setelah mengalahkan Thailand melalui adu penalti 4-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/10/2026). Laga berjalan ketat hingga babak extra time dengan skor 2-2, sebelum pasukan John Herdman menunjukkan ketenangan dari titik putih.
Bio menyoroti peran penting kedua pemain tersebut ketika masuk sebagai pengganti. "Kita bisa lihat ketika ada pergantian Egy Maulana dan Rizky Ridho yang masuk, mereka berani membawa bola ke depan. Itu yang menjadi faktor utama," ujar Bio kepada Bola.com, Rabu (7/10/2026).
Meski mengapresiasi pencapaian tersebut, Bio tetap memberikan catatan kritis terhadap performa tim di final. Ia menilai Indonesia seharusnya lebih agresif ketika Thailand harus bermain dengan 10 orang. "Strategi yang pelatih kemarin memang tidak agresif. Dengan pertandingan seperti kemarin sebenarnya mereka harus lebih agresif, lebih menguasai laga apalagi lawan tinggal 10 pemain," tuturnya.
"Jangan meremehkan pemain lokal. Pemain lokal juga punya potensi yang sangat bagus untuk bermain di level tertinggi."
โ Bio Paulin, Pelatih Persekabpas Pasuruan
Kritik Bio bukan tanpa dasar. Ia melihat adanya masalah komunikasi di lini belakang saat menghadapi tekanan Thailand, terutama dalam mengantisipasi umpan silang. "Di mana harus stop crossing, lawan yang muncul, saya lihat itu pasti ada komunikasi yang kurang dan juga harus evaluasi," pungkasnya.
Pernyataan Bio ini menjadi relevan di tengah perdebatan soal dominasi pemain keturunan di skuad Timnas Indonesia. Keberhasilan Egy dan Ridho memberi angin segar bagi pengembangan pemain lokal di kompetisi domestik. Jika pemain seperti mereka terus diberi kepercayaan, bukan tidak mungkin Indonesia akan lebih mandiri dalam menyusun kekuatan tim nasional ke depan.
Pertanyaannya, akankah pelatih John Herdman dan federasi memberikan porsi lebih besar kepada pemain lokal di turnamen-turnamen berikutnya? Atau justru sebaliknya, gelar ini hanya menjadi pengecualian di tengah derasnya arus naturalisasi?



