Liverpool Diminta Tegas: Wataru Endo Harus Segera Dilepas, Ulangan Kasus Naby Keita
Baca dalam 60 detik
- Wataru Endo dinilai gagal memenuhi ekspektasi sejak dibeli dari Stuttgart, dengan kontribusi minim di Premier League.
- Rekam jejak cedera dan peran sebagai pemain pelapis membuatnya dianggap beban bagi skuad Liverpool yang tengah membangun ulang.
- Sporting Director Julian Ward didesak bersikap tegas melepas Endo demi mencegah pengulangan kesalahan transfer seperti Naby Keita.

Liverpool menghadapi tekanan untuk segera mengambil keputusan tegas terhadap gelandang bertahan Wataru Endo, yang dinilai belum memberikan dampak signifikan sejak bergabung dari VfB Stuttgart pada musim panas 2023. Dengan kontrak yang masih berjalan dan performa yang jauh dari harapan, muncul seruan agar Sporting Director Julian Ward tidak ragu melepas pemain Jepang tersebut, bahkan hanya tujuh pertandingan memasuki musim baru.
Endo didatangkan dengan biaya sekitar £16 juta sebagai tambahan kedalaman di lini tengah. Namun, dalam tiga tahun berseragam The Reds, ia baru tampil 87 kali di semua kompetisi, dengan hanya 57 penampilan di Premier League dan sebagian besar sebagai pemain pengganti. Musim lalu, ia hanya delapan kali turun di liga, dan hanya satu kali menjadi starter—sebuah indikasi jelas bahwa ia bukan bagian dari rencana inti.
Masalah cedera turut memperburuk situasi. Sejak tiba di Anfield, Endo beberapa kali absen karena gangguan fisik, membuatnya sulit menemukan konsistensi. Kondisi ini mengingatkan pada kasus Naby Keita, yang juga didatangkan dari Bundesliga dengan harga mahal namun kerap dihantam cedera. Keita, yang dibeli seharga £52 juta dari RB Leipzig pada 2018, hanya mencatat 129 penampilan dalam lima musim dan melewatkan 113 pertandingan karena 21 cedera berbeda. Ia akhirnya pergi gratis pada 2023, meninggalkan kerugian besar bagi klub.
Manajemen Liverpool di bawah Arne Slot sebenarnya telah menunjukkan perbaikan dalam bursa transfer, dengan meraih gelar Premier League pada musim pertamanya. Namun, tidak semua rekrutan bersinar, dan Slot sendiri kemudian dipecat musim panas lalu setelah belanja besar £450 juta. Kini di bawah Andoni Iraola, yang telah menghabiskan lebih dari £150 juta, Liverpool dituntut lebih selektif dalam mempertahankan pemain yang tidak lagi produktif.
Endo sering dimasukkan di menit-menit akhir untuk mengamankan kemenangan, tetapi kualitasnya dianggap tidak cukup untuk bersaing di level tertinggi. Alih-alih menjadi pengganti yang dapat diandalkan, ia justru menyita kuota pemain non-Uni Eropa dan beban gaji. Dalam konteks persaingan Premier League yang semakin ketat, memiliki pemain yang jarang berkontribusi bisa menjadi penghambat.
"Liverpool perlu bersikap brutal dalam merombak skuad. Endo bukan pemain yang bisa membawa klub ke level berikutnya," tulis analis Football FanCast.
Bagi penggemar Liverpool di Indonesia, situasi ini menjadi cerminan pentingnya manajemen skuad yang efisien. Klub-klub besar Eropa semakin dituntut untuk tidak terjebak dalam loyalitas berlebihan terhadap pemain yang sudah tidak sesuai kebutuhan taktik. Keputusan cepat untuk melepas Endo dapat membuka ruang bagi gelandang muda atau rekrutan baru yang lebih sesuai dengan visi Iraola.
Jika Ward tidak bertindak tegas, Liverpool berisiko mengulang siklus Keita: menahan pemain karena alasan kedalaman, tetapi justru kehilangan peluang regenerasi. Pertanyaannya, akankah manajemen Liverpool belajar dari kesalahan masa lalu, atau kembali terjebak dalam zona nyaman yang menghambat ambisi juara?



