Joey Pelupessy Rela Tinggalkan Euforia Juara di Jakarta Demi Lommel SK
Baca dalam 60 detik
- Joey Pelupessy harus segera meninggalkan Jakarta setelah Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 karena kewajiban bersama klubnya, Lommel SK.
- Gelandang 33 tahun itu hanya sempat merayakan gelar secara singkat sebelum terbang ke Belgia untuk menghadapi Waasland-Beveren di Jupiler Pro League.
- Pengorbanan Pelupessy mencerminkan dilema pemain abroad yang harus membagi loyalitas antara tim nasional dan klub profesional.

Gelandang Timnas Indonesia, Joey Pelupessy, tidak bisa berlama-lama menikmati euforia juara FIFA ASEAN Cup 2026. Beberapa jam setelah mengangkat trofi di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/10/2026), ia sudah harus menuju bandara untuk kembali ke Belgia memperkuat Lommel SK.
Timnas Indonesia memang baru saja menorehkan sejarah dengan menaklukkan Thailand melalui adu penalti 4-2 (2-2) di hadapan puluhan ribu suporter. Namun, bagi Pelupessy, perayaan harus dipangkas. Lommel SK, klub yang dibelanya di Jupiler Pro League, sudah menunggu untuk laga pekan ke-8 melawan Waasland-Beveren di Freethiel Stadion, Sabtu (10/10/2026) dini hari WIB.
Keputusan Pelupessy meninggalkan pesta juara bukan tanpa alasan. Lommel sedang dalam situasi sulit setelah gagal menang dalam tiga pertandingan terakhir di Liga Belgia. Kehadiran pemain berusia 33 tahun itu dianggap vital untuk menambah poin dan memperbaiki posisi tim di klasemen. Ia hanya memiliki waktu sekitar lima hari untuk memulihkan kondisi fisik, termasuk menempuh perjalanan panjang JakartaโBelgia.
Dalam wawancara dengan media Belanda, Tubantia, Pelupessy mengungkapkan bahwa rekan-rekannya yang lain pergi ke pusat kota Jakarta untuk merayakan gelar. Ia sebenarnya ingin ikut, tetapi hanya dirinya dan Kevin Diks yang harus segera terbang. "Saya sempat mengangkat trofi sebentar, merayakannya secara singkat di ruang ganti, lalu kami langsung menuju bandara," ujarnya.
"Rasanya luar biasa, sungguh menyenangkan. Saat saya berangkat ke sini empat belas hari yang lalu, saya tidak tahu apa yang harus diharapkan, tetapi begitu tiba, saya langsung sadar bahwa ini adalah peristiwa yang sangat besar."
โ Joey Pelupessy
Pelupessy juga mengaku terkesan dengan besarnya perhatian terhadap turnamen ini. Ia menyebut spanduk FIFA ada di mana-mana, dan kehadiran Presiden Indonesia, Presiden FIFA Gianni Infantino, serta legenda sepak bola seperti Dimitar Berbatov dan Pedro di laga final menjadi bukti bahwa ajang ini benar-benar nyata dan prestisius.
Bagi sepak bola Indonesia, kisah Pelupessy menyoroti tantangan yang dihadapi pemain abroad ketika harus membela tim nasional di tengah jadwal klub yang padat. Meski demikian, dedikasi seperti ini justru memperkuat fondasi Timnas Indonesia yang semakin diperhitungkan di kancah regional. Keberhasilan menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi modal berharga menjelang kompetisi yang lebih besar.
Ke depan, manajemen waktu antara klub dan negara akan terus menjadi isu krusial, terutama bagi pemain yang berkarier di Eropa. Apakah federasi dan klub dapat menemukan solusi yang lebih adil, ataukah pengorbanan seperti yang dilakukan Pelupessy akan terus menjadi konsekuensi tak terhindarkan dari kesuksesan internasional?



