Messi Tutup Bab 21 Tahun di Timnas Argentina: Air Mata, Warisan, dan Masa Depan Albiceleste
Baca dalam 60 detik
- Lionel Messi mengakhiri karier internasionalnya bersama Argentina setelah laga pamungkas melawan Benin di Stadion Monumental, Buenos Aires.
- Dengan 208 caps dan empat trofi mayor, Messi meninggalkan warisan yang mengubah cara Argentina memandang sepak bola modern.
- Pertanyaan terbesar kini beralih ke skuad muda Argentina: siapa yang mampu mengisi kekosongan kepemimpinan dan kreativitas yang ditinggalkan La Pulga?

Lionel Messi resmi menutup perjalanan 21 tahun bersama tim nasional Argentina. Setelah kemenangan 3-0 atas Benin dalam laga persahabatan di Stadion Monumental, Buenos Aires, Rabu (7/10) pagi WIB, kapten Albiceleste itu menyampaikan perpisahan emosional di hadapan publik sendiri. Momen tersebut menjadi titik akhir era paling gemilang dalam sejarah sepak bola Argentina modern.
Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) merancang pertandingan tersebut sebagai panggung penghormatan khusus. Usai laga, Messi mengambil mikrofon dan berbicara langsung kepada para penggemar yang memadati stadion. Ia mengaku keputusan pensiun dari tim nasional bukanlah hal mudah. "Tidak lagi membela Argentina rasanya sangat menyakitkan. Saya bersumpah demi hidup saya, bermain untuk tim nasional adalah hal terindah yang bisa dirasakan," ujarnya seperti dikutip TyC Sports.
Dalam pidato perpisahannya, Messi menyebut sosok ayahnya, Jorge, sebagai figur yang pertama kali muncul di pikirannya. Kepergian sang ayah menjadi salah satu pertimbangan utama di balik keputusan pensiun. "Sulit mengungkapkan kata-kata hari ini. Terlalu banyak perasaan dan pikiran yang berkecamuk," tuturnya. "Hal pertama yang saya pikirkan adalah ayah saya. Saya hanya ingin berterima kasih, seperti yang saya sampaikan dalam surat perpisahan. Kebanggaan besar bisa mengenakan seragam ini lebih dari 20 tahun."
Perjalanan Messi bersama Albiceleste tidak selalu berjalan mulus. Ia sempat mengalami kekalahan menyakitkan di final Piala Dunia 2014, tiga final Copa America beruntun yang berakhir dengan kekecewaan, hingga sempat menyatakan pensiun pada 2016 sebelum kembali. Namun, ketangguhan mentalnya membuahkan hasil: puncak karier internasionalnya tercapai saat Argentina menjuarai Piala Dunia 2022 di Qatar, mengakhiri penantian 36 tahun.
"Bahkan di momen paling pedih, saya tidak pernah berhenti berjuang dan memberikan yang terbaik, serta selalu berada di tengah-tengah kita." โ Lionel Messi
Warisan Messi bagi Argentina melampaui trofi. Ia mengubah standar ekspektasi, membentuk generasi muda yang tumbuh dengan keyakinan bahwa gelar dunia bukanlah mimpi kosong. Kepergiannya meninggalkan kekosongan besar, tidak hanya dalam hal kualitas teknis tetapi juga kepemimpinan dan daya tarik global. Pelatih dan federasi kini dihadapkan pada tugas berat: membangun identitas baru tanpa sosok yang selama dua dekade menjadi wajah sepak bola Argentina.
Bagi publik Indonesia, momen ini juga menyimpan pelajaran. Figur seperti Messi menunjukkan bagaimana konsistensi, kerja keras, dan ketahanan mental dapat mengangkat prestasi sebuah negara di panggung dunia. Sepak bola Indonesia yang tengah mencari jati diri bisa mengambil inspirasi dari cara Argentina membangun ekosistem pembinaan yang akhirnya melahirkan generasi emas. Pertanyaannya, apakah Indonesia mampu menciptakan sosok dengan dedikasi serupa dalam satu atau dua dekade ke depan?
Ke depan, fokus akan tertuju pada skuad muda Argentina seperti Nico Paz, Julian Alvarez, dan Enzo Fernandez. Mereka mewarisi fondasi kuat, tetapi juga bayang-bayang raksasa yang sulit disaingi. Mampukah Argentina mempertahankan dominasi tanpa Messi, ataukah era keemasan ini akan dikenang sebagai puncak yang sulit diulang?



