Studi Ungkap Bias Estetika dalam Konservasi: Kupu-kupu Cantik Lebih Dilindungi, Spesies Kusam Terabaikan
Baca dalam 60 detik
- Survei terhadap 21.000 responden dari 100 negara menemukan spesies kupu-kupu berwarna cerah dan bermotif konsisten dinilai lebih menarik, memengaruhi alokasi riset dan dana konservasi.
- Daftar merah nasional dan Eropa tidak menunjukkan bias serupa karena menggunakan kriteria pengukuran tetap, tetapi spesies kecil kecokelatan justru menghadapi ancaman iklim paling besar.
- Para peneliti menyerukan agar program konservasi mengakui bias estetika dan memberi perhatian lebih pada spesies tak mencolok yang berperan setara dalam ekosistem.

Sebuah studi terbaru dalam jurnal Current Biology mengungkap bahwa kecantikan visual kupu-kupu memengaruhi perhatian publik, arah penelitian ilmiah, hingga distribusi dana konservasi. Survei yang melibatkan lebih dari 21.000 orang dari seratus negara menemukan bahwa spesies berukuran besar, berwarna cerah, dan bermotif mencolok—seperti yellow swallowtail—secara konsisten dinilai lebih menarik dibandingkan spesies kecil dan kecokelatan, misalnya alpine grayling.
Bias ini bukan sekadar preferensi estetika. Para peneliti mencatat bahwa spesies yang dianggap cantik menerima porsi studi ilmiah lebih banyak, serta alokasi sumber daya dan pendanaan konservasi yang tidak proporsional. Akibatnya, kupu-kupu yang kurang mencolok cenderung terabaikan dalam program perlindungan, meskipun peran ekologisnya sama pentingnya.
Temuan ini menyoroti paradoks dalam upaya konservasi global. Di satu sisi, kampanye publik sering mengandalkan spesies karismatik untuk menarik dukungan. Di sisi lain, ketergantungan pada daya tarik visual dapat menciptakan ketimpangan perlindungan yang sistemik. Penulis studi menegaskan bahwa program konservasi perlu mengenali bias ini dan memberikan pertimbangan lebih besar kepada kupu-kupu tak mencolok.
“Kupu-kupu yang tidak mencolok menjalankan fungsi ekologis yang sama pentingnya, namun sering luput dari perhatian,” demikian argumen para penulis studi, seperti dikutip dari publikasi mereka.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat kekayaan fauna endemik yang mencakup berbagai spesies kupu-kupu, termasuk yang berukuran kecil dan berwarna sederhana. Selama ini, perhatian publik dan pendanaan konservasi di Tanah Air cenderung terfokus pada spesies ikonik seperti orangutan, harimau sumatra, atau komodo. Padahal, serangga penyerbuk—termasuk kupu-kupu—memainkan peran krusial dalam menjaga produktivitas pertanian dan keseimbangan hutan tropis.
Jika bias estetika juga terjadi di Indonesia, ada risiko spesies penyerbuk yang kurang populer kehilangan perlindungan tepat saat tekanan perubahan iklim dan alih fungsi lahan meningkat. Organisasi lingkungan dan peneliti dalam negeri dapat mengambil pelajaran dari studi ini dengan memperluas kriteria prioritas konservasi, tidak semata berdasarkan daya tarik visual atau karisma spesies.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah kupu-kupu cantik layak dilindungi, melainkan bagaimana memastikan spesies yang kurang mencolok mendapat perhatian setara. Tanpa koreksi terhadap bias ini, upaya konservasi berisiko kehilangan komponen ekosistem yang tak terlihat namun menentukan ketahanan alam jangka panjang.



