Arthur Hayes: Triliunan Dolar AI Bakal Berujung Krisis dan Bailout, Kripto Jadi Pemenang?
Baca dalam 60 detik
- Mantan CEO BitMEX Arthur Hayes menilai investasi pusat data AI yang membengkak triliunan dolar akan berujung kelebihan kapasitas dan koreksi tajam.
- Ia memperkirakan ujian sesungguhnya terjadi pada akhir 2027 atau 2028 saat kapasitas baru beroperasi dan pelanggan mulai ditagih komitmen komputasi.
- Hayes bertaruh kripto akan menyerap likuiditas dari dana talangan pemerintah lewat proyek Flop, pasar spot komputasi untuk agen AI.

Mantan CEO BitMEX Arthur Hayes meyakini euforia kecerdasan buatan (AI) saat ini tengah mengarah pada pola klasik dalam sejarah teknologi: investasi berlebihan, keruntuhan, lalu penyelamatan pemerintah. Dalam sesi tanya jawab dengan CNBC di Gamma Prime Investing Conference, Singapura, Hayes menyatakan umat manusia sedang "membuang triliunan dolar" untuk membangun pusat data AI.
Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Perusahaan teknologi global berlomba mengamankan daya komputasi untuk mengembangkan model AI yang semakin canggih. Hayes, yang kini menjabat co-founder dan chief investment officer Maelstrom, menilai perlombaan ini akan menghasilkan kapasitas komputasi yang "sangat murah dan sangat melimpah" โ kondisi yang justru membuka jalan bagi koreksi besar.
Menurut Hayes, pola overbuild selalu berulang pada setiap gelombang teknologi besar. Ia merujuk pada krisis keuangan 2008 dan sejumlah episode lain dalam dua dekade terakhir sebagai bukti bahwa crash dan bailout adalah konsekuensi yang nyaris tak terhindarkan. "Jika Anda mempelajari sejarah keuangan dan setiap peluncuran teknologi besar, selalu terjadi kelebihan pembangunan. Selalu ada crash, dan selalu ada bailout," ujarnya.
Hayes menyoroti bahwa sebagian pengguna akhir โ termasuk SpaceX, OpenAI, dan Anthropic โ belum mencetak keuntungan. Ketika pusat data yang sedang dibangun rampung, penyedia infrastruktur akan menagih pembayaran atas komitmen komputasi yang telah disepakati. Menurut perkiraannya, momen itu tiba pada akhir 2027 atau 2028, saat sebagian besar kapasitas baru mulai dikirimkan.
Meski demikian, Hayes tidak sepenuhnya pesimistis terhadap AI. Ia mengakui skenario bullish tetap terbuka: jika AI menjadi "sangat berguna" dalam 12 bulan ke depan, permintaan bisa tumbuh cukup kuat sehingga perusahaan AI berbalik untung. Ia juga mencatat sejumlah pemasok sudah menikmati laba, terutama produsen chip memori dan Nvidia. Pertanyaan bagi investor, kata dia, adalah apakah valuasi yang dibayarkan sudah tepat untuk proyeksi laba perusahaan-perusahaan tersebut.
"Yang beruntung, kita punya bitcoin dan kripto lain untuk menyerap likuiditas berlebih itu, sehingga kita tahu aset yang akan tampil paling baik saat bailout datang. Anda hanya perlu bersabar." โ Arthur Hayes
Hayes mengaku tidak tertarik bertaruh pada penurunan harga atau short saham perusahaan AI. Baginya, strategi itu "bukan peluang investasi yang bagus". Ia lebih memilih memposisikan diri pada aset yang diyakini akan diuntungkan oleh likuiditas pasca-bailout, yakni bitcoin dan mata uang kripto lain.
Keyakinan itu pula yang mendasari proyek terbarunya, Flop, sebuah proyek pembayaran berbasis agen AI yang dijadwalkan meluncur pada kuartal pertama 2027. Flop bertujuan menciptakan pasar spot untuk daya komputasi, di mana peserta mendapat token Flop sebagai imbalan karena menyediakan GPU dan menjalankan inferensi AI. Hayes berargumen belum ada jaringan pembayaran khusus untuk agen AI saat ini. "Jika agen bisa mengonversi mata uang langsung menjadi komputasi โ yang mereka makan dan konsumsi โ maka mereka akan memakai mata uang itu. Itulah taruhan kami," jelasnya.
Bagi Indonesia, narasi Hayes menyentuh dua arus sekaligus. Di satu sisi, gelombang investasi pusat data AI global berpotensi menular ke kawasan Asia Tenggara, termasuk proyek pusat data di Batam, Jakarta, dan sekitarnya yang menyasar kebutuhan komputasi regional. Jika skenario overcapacity terwujud, sebagian proyek infrastruktur di kawasan bisa menghadapi tekanan pembiayaan. Di sisi lain, volatilitas aset kripto yang diprediksi Hayes berpotensi memengaruhi minat investor ritel domestik, seiring meningkatnya adopsi aset digital di Indonesia.
Pertanyaan yang tersisa: apakah siklus AI benar-benar akan menempuh jalur overbuild-crash-bailout seperti yang diprediksi Hayes, atau justru menciptakan lompatan produktivitas yang menyerap seluruh kapasitas lebih cepat dari perkiraan? Jawabannya baru akan terlihat ketika gelombang pusat data berikutnya beroperasi penuh pada 2027โ2028.



