Hannah Fry dan Oura Ring: Data Stres di Balik Celebrity Traitors yang Ramai Dibicarakan
Baca dalam 60 detik
- Hannah Fry membagikan grafik Oura Ring yang menunjukkan lonjakan stres saat syuting Celebrity Traitors, memicu diskusi publik tentang pelacakan kesehatan.
- Oura Ring 4 mengukur detak jantung, suhu kulit, HRV, dan aktivitas, lalu menerjemahkannya menjadi skor stres, kesiapan, dan tidur.
- Perangkat ini bukan alat medis, tetapi dapat menjadi sinyal awal untuk konsultasi ke dokter, sekaligus menandai pergeseran adopsi wearables di Indonesia.

Profesor matematika Universitas Cambridge, Hannah Fry, mengunggah tangkapan layar aplikasi Oura Ring ke Instagram yang memperlihatkan lonjakan stres saat syuting Celebrity Traitors. Grafik itu menunjukkan tekanan meningkat sekitar pukul 13.00 dan setelah pukul 18.00, dengan ketegangan berkelanjutan di antara keduanya. Unggahan tersebut langsung menuai respons warganet yang mengaku mengalami pola serupa saat menonton acara itu.
Oura Ring 4 yang dikenakan Fry bukan sekadar aksesori. Cincin pintar ini membaca detak jantung, suhu kulit, variabilitas detak jantung (HRV), dan aktivitas sepanjang hari. Data mentah itu kemudian diolah aplikasi menjadi beberapa skor, termasuk Stress Score yang menjadi sorotan dalam unggahan tersebut. Menurut keterangan di aplikasi, skor stres tidak selalu berarti buruk; Oura membaginya ke dalam empat label: Stressed, Engaged, Relaxed, dan Restored.
Selain skor stres, Oura menawarkan Readiness Score yang menggabungkan aktivitas dan pemulihan untuk menilai seberapa bugar tubuh. Ada pula Sleep Score yang merinci durasi tidur, tahapan tidur (light, deep, REM, awake), jadwal tidur, dan laju pernapasan. Fitur ini bahkan dapat menandai potensi tanda sleep apnoea. Sementara Activity Score mengukur dampak gerakan sehari-hari terhadap kesehatan jantung dan metabolisme.
"Cincin pintar saya selama syuting episode itu," tulis Fry di Instagram, seperti dikutip dari unggahannya.
Yang membedakan Oura dari pelacak kebugaran konvensional adalah kemampuannya melihat kesehatan jangka panjang. Di tab 'My Health', pengguna mendapat ringkasan berbasis AI atas data 90 hari terakhir, termasuk tidur, stres, dan kesehatan jantung. Pendekatan ini menegaskan bahwa satu hari buruk tidak serta-merta merusak kesehatan secara keseluruhan. Oura juga menegaskan perangkatnya bukan alat medis, melainkan alat bantu untuk mengenali sinyal awal yang perlu dibicarakan dengan dokter.
Fenomena ini menarik dicermati dari Indonesia. Kesadaran akan kesehatan mental dan manajemen stres terus tumbuh, terutama di kalangan pekerja urban. Namun, adopsi perangkat wearable seperti Oura Ring masih terkendala harga, ketersediaan resmi, dan regulasi alat kesehatan. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin produsen lokal atau distributor global mulai melirik pasar Indonesia sebagai tujuan ekspansi berikutnya.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah konsumen akan mengadopsi perangkat pemantau stres, melainkan seberapa siap ekosistem kesehatan Indonesia merespons data yang dihasilkan. Apakah klinik dan dokter akan mengintegrasikan data wearable ke dalam rekam medis elektronik, atau justru mengabaikannya sebagai gimmick? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan arah kesehatan preventif di tanah air.



