Ben Affleck Ungkap Rahasia Lima Tahun Bebas Alkohol: Butuh 'Titik Terendah' untuk Berubah
Baca dalam 60 detik
- Ben Affleck menegaskan bahwa pemulihan jangka panjang dari kecanduan alkohol menjadi lebih ringan setelah ia melewati fase terburuk dalam hidupnya.
- Aktor 54 tahun itu menyebut kehilangan kedua orang tua dalam setahun memaksanya berdamai dengan kematian dan memperkuat tekadnya untuk tetap sadar.
- Pengalaman Affleck menyoroti pentingnya dukungan berkelanjutan dan pemahaman bahwa setiap orang memiliki jalan pemulihan yang berbeda.

Aktor Hollywood Ben Affleck mengungkapkan bahwa perjalanan pemulihannya dari ketergantungan alkohol selama lebih dari lima tahun tidak dimulai dari niat baik semata, melainkan dari sebuah titik terendah yang memaksanya berubah. Dalam wawancara eksklusif dengan Variety, pria 54 tahun itu menuturkan bahwa kesadaran untuk berhenti total baru muncul ketika ia merasakan cukup penderitaan dan menyadari ada hal berharga yang hampir hilang.
Affleck, yang dikenal lewat peran-peran dalam film seperti Argo dan Gone Girl, menjelaskan bahwa keinginan untuk berubah tidak cukup hanya dengan berpikir rasional. "Sesuatu harus benar-benar mengena di tingkat emosional terdalam," ujarnya, merujuk pada istilah populer 'rock bottom'. Menurutnya, seseorang perlu merasakan konsekuensi yang cukup menyakitkan sebelum benar-benar tergerak untuk meninggalkan kebiasaan lama. Ia menambahkan bahwa anugerah dari pemulihan jangka panjang adalah prosesnya yang perlahan-lahan menjadi lebih mudah, meski setiap orang memiliki ambang batas yang berbeda.
Dalam wawancara tersebut, Affleck juga membuka tentang duka mendalam setelah kepergian kedua orang tuanya pada tahun yang sama. Ia mengaku bahwa peristiwa itu memberinya perspektif baru tentang kefanaan hidup. "Ketika orang tua meninggal di usia saya, ada semacam kenyamanan dan kesadaran bahwa memang seperti itulah seharusnya," katanya. Ia mengenang pesan ibunya menjelang akhir hayat: "Tuhan, kupikir 84 tahun akan terasa lebih lama." Affleck pun merenung, "Aku membayangkan, karena aku pun merasa 54 tahun akan terasa lebih panjang."
Affleck bukanlah sosok yang asing dengan isu kecanduan. Selama bertahun-tahun, ia beberapa kali menjalani rehabilitasi dan terbuka tentang perjuangannya. Pada 2019, dalam acara Today, ia mengatakan bahwa berbicara tentang alkoholisme tidak lagi mengganggunya. "Itu adalah bagian dari hidup saya, sesuatu yang harus saya hadapi. Itu tidak harus mengambil alih seluruh identitas saya, tetapi tetap menjadi hal yang harus saya kerjakan," tuturnya saat itu. Ia juga menekankan pentingnya mengakui masalah dan mengambil kebanggaan dalam upaya mengatasinya.
"Anda harus memahami apa yang bisa Anda kendalikan dan apa yang tidak. Kabar baiknya, titik terendah itu berbeda bagi setiap orang." โ Ben Affleck
Kisah Affleck mencerminkan realitas yang dihadapi banyak orang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, di mana stigma terhadap kesehatan mental dan kecanduan masih menjadi penghalang utama untuk mencari bantuan. Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa prevalensi gangguan penggunaan alkohol di Indonesia memang relatif rendah dibandingkan negara lain, namun masalah penyalahgunaan zat lain dan kesehatan mental justru meningkat. Kesadaran akan pentingnya dukungan sosial dan akses ke layanan konseling masih sangat kurang, terutama di daerah terpencil.
Pemulihan Affleck juga menyoroti peran keluarga dan lingkungan terdekat. Ia mengakui bahwa kehilangan orang tua membuatnya semakin menghargai hubungan dengan anak-anaknya. "Ketika saya pergi, anak-anak saya akan merasakannya, tetapi tidak ada dari kita yang menginginkan cara lain," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa pemulihan bukan hanya soal menahan diri dari zat adiktif, melainkan juga membangun kembali makna hidup dan hubungan yang sehat.
Ke depan, kisah Affleck dapat menjadi cermin bagi industri hiburan dan masyarakat luas tentang pentingnya pendekatan yang empatik terhadap pemulihan. Pertanyaannya, apakah sistem dukungan kesehatan mental di Indonesia siap menangani kasus serupa dengan pendekatan yang tidak menghakimi? Ataukah kita masih terjebak pada stigma yang membuat banyak orang enggan mencari pertolongan?



