Waabi dan Volvo Uji Truk Otonom di Koridor Dallas-Houston, Bidik Efisiensi LTL
Baca dalam 60 detik
- Waabi dan Volvo Autonomous Solutions resmi mengoperasikan truk tanpa awak untuk Warp di rute Dallas-Houston, menandai fase komersial pertama kemitraan mereka.
- Pendekatan ini menyasar segmen less-than-truckload (LTL) yang selama ini terkendala aturan jam kerja pengemudi, dengan potensi meningkatkan utilisasi armada secara berkelanjutan.
- Keberhasilan uji coba ini dapat mempercepat adopsi truk otonom di jaringan logistik, meski tantangan regulasi dan kesiapan infrastruktur masih membayangi.

Waabi dan Volvo Autonomous Solutions mengumumkan pada Senin (14/10) bahwa mereka telah memulai pengiriman barang untuk Warp, pelanggan pertama dalam kemitraan tersebut. Truk Volvo VNL Autonomous yang dilengkapi perangkat lunak Waabi Driver mengangkut muatan Warp langsung ke fasilitas pihak ketiga di koridor Dallas-Houston, dengan seorang pengamat di kursi pengemudi.
Langkah ini menandai pergeseran strategi Waabi yang tidak lagi hanya menyasar truk muatan penuh (full-truckload), tetapi juga segmen less-than-truckload (LTL) yang selama ini dianggap lebih rumit karena konsolidasi muatan dari berbagai pelanggan. Warp sendiri mengelola jaringan LTL dan full-truckload terintegrasi, dengan klien seperti Walmart, DoorDash, dan Gopuff. CEO Warp, Daniel Sokolovsky, sebelumnya mendirikan AxleHire sebelum perusahaan keluar dari mode stealth pada 2022.
Menurut Lior Ron, COO Waabi, efisiensi LTL menjadi kunci. "Warp adalah contoh fantastis di mana kami dapat menunjukkan nilai efisiensi tingkat lanjut untuk konsolidasi LTL, dan mengingatkan bahwa manfaat jam kerja tidak harus berarti pengemudi tim jarak jauh," ujarnya dalam wawancara dengan FreightWaves. Ia menambahkan bahwa keuntungan tersebut juga dapat mendorong efisiensi di koridor Dallas-Houston dan konsolidasi jaringan LTL secara berkelanjutan.
Dalam operasi LTL, pengemudi sering bekerja bergiliran (slip-seat) dengan batas maksimal 11 jam mengemudi setelah 10 jam istirahat. Ron membayangkan masa depan di mana jaringan tersebut dapat berjalan terus-menerus tanpa batasan jam kerja, sehingga meningkatkan utilisasi. "Bayangkan masa depan di mana Anda dapat menjalankan jaringan dan melakukan konsolidasi secara berkelanjutan tanpa jam kerja, dan hanya mendorong efisiensi serta utilisasi," katanya.
Ron mengakui bahwa penjadwalan dan penyeimbangan jaringan semakin sulit di tengah kondisi pasar saat ini, dengan kapasitas yang keluar dan harga bahan bakar yang fluktuatif. Namun, ia mengklaim permintaan akan otonomi telah tumbuh sejak terakhir berbicara dengan FreightWaves. Sokolovsky menambahkan, "Nilai otonomi tumbuh ketika Anda dapat mengoordinasikan muatan di sekitarnya. Warp menyatukan pengiriman dari beberapa pelanggan dan menyelaraskan rute, kapasitas, dan waktu, sehingga kemajuan di satu jalur dapat menguntungkan jaringan yang lebih luas."
Waabi melatih perangkat lunaknya pada armada uji Peterbilt 579 dan memindahkannya ke Volvo VNL Autonomous tanpa pelatihan ulang pada musim panas ini. Truk Volvo tersebut memiliki redundansi untuk enam sistem keselamatan kritis. Ron menegaskan bahwa truk tanpa pengemudi harus berasal dari pabrik OEM, sepenuhnya redundan, dan divalidasi oleh produsen. "Meskipun kami siap, kami memilih untuk tidak melakukan retrofit menuju tanpa pengemudi, dan menunggu hingga Volvo siap," ujarnya. "Kabar baiknya, Volvo sesuai jadwal. Anda melihat komitmen publik mereka, dan kami sepenuhnya berada di jalur untuk tanpa pengemudi tahun depan, dengan Volvo sebagai platform OEM pertama."
"Kami berada di jalur yang tepat, dan kami melihat permintaan pelanggan yang masif. Ini gila, karena kami sudah melewati tahap pengadopsi awal."
โ Lior Ron, COO Waabi
Pada bulan lalu, truk Waabi berhasil melintasi jalur Dallas-San Antonio untuk pertama kalinya tanpa disengagement. Ron menjelaskan bahwa Waabi memetakan jalur baru hanya dengan sekali lintasan truk, membangun peta ringan yang diperlakukan sistem sebagai sensor keselamatan tambahan. Truk tidak mendapatkan pelatihan otonomi di jalur tersebut. Waabi telah memangkas waktu pembukaan jalur dari tiga bulan menjadi tiga minggu, dan untuk San Antonio, menjadi nol. "Yang berubah adalah permintaannya," kata Ron. Waabi tidak lagi harus bertanya kepada pengirim apakah ada muatan dari Dallas ke Houston, melainkan di mana titik nyeri paling akut pengirim. "Mari selesaikan titik nyeri itu dengan otonomi sekarang, daripada menunggu otonomi menyusul," tambahnya.
Dalam keynote di konferensi eksekutif rantai pasok di Las Vegas bulan lalu, Ron bertanya kepada audiens siapa yang pernah menaiki Waymo. Sekitar tiga perempat mengangkat tangan. Sekitar setengah mengangkat tangan ketika ditanya siapa yang ingin menerapkan otonomi di jaringan mereka dalam tiga tahun ke depan. "Kami berada di jalur yang tepat, dan kami melihat permintaan pelanggan yang masif," tegas Ron. "Ini gila, karena kami sudah melewati tahap pengadopsi awal."
Bagi Indonesia, perkembangan truk otonom ini menawarkan pelajaran berharga. Negara ini memiliki tantangan logistik serupa, terutama di jalur padat seperti Jawa, di mana efisiensi LTL dapat menghemat biaya dan waktu. Namun, adopsi teknologi ini membutuhkan kesiapan regulasi, infrastruktur jalan yang mendukung, serta penerimaan sosial. Jika Waabi dan Volvo sukses, bukan tidak mungkin operator logistik nasional mulai melirik solusi serupa dalam beberapa tahun ke depan, terutama untuk rute antarkota yang memiliki volume tinggi dan pola pengiriman berulang.
Pertanyaannya, apakah regulator di berbagai negara, termasuk Indonesia, siap mengakomodasi truk tanpa pengemudi? Dan bagaimana pula dengan nasib pengemudi yang selama ini menggantungkan penghidupan dari sektor angkutan barang? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan seberapa cepat otonomi benar-benar mengaspal di jalan raya.



