Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026: Klub Eropa hingga Selebritas Ikut Bergemuruh
Baca dalam 60 detik
- Timnas Indonesia menaklukkan Thailand lewat adu penalti 4-2 setelah bermain imbang 2-2 selama 120 menit di SUGBK, sekaligus mengunci gelar perdana FIFA ASEAN Cup.
- Klub-klub Eropa seperti Rayo Vallecano, Millwall, dan Ajax Amsterdam memberi apresiasi kepada pemain mereka yang memperkuat Garuda, menandakan perhatian sepak bola global terhadap pencapaian Indonesia.
- Presiden FIFA Gianni Infantino yang hadir langsung menyebut final berjalan sengit, sementara euforia juga meluas ke kalangan selebritas dan publik figur tanah air.

Indonesia resmi mengukir sejarah sebagai juara pertama FIFA ASEAN Cup setelah menundukkan Thailand melalui drama adu penalti 4-2 (2-2) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/10/2026). Kemenangan ini tidak hanya memicu perayaan di dalam negeri, tetapi juga menarik perhatian dunia sepak bola internasional, dari klub-klub Eropa hingga Presiden FIFA Gianni Infantino yang menyaksikan langsung laga tersebut.
Partai final berlangsung ketat. Kedua tim saling berbalas gol hingga skor imbang 2-2 bertahan sepanjang 120 menit. Pada babak penentuan, kiper Emil Audero menjadi pahlawan dengan penyelamatan krusial yang menghentikan langkah Thailand, memastikan trofi bergengsi itu tetap di Jakarta. Gelar ini menjadi lebih bermakna karena merupakan edisi perdana kompetisi regional yang digelar di bawah naungan FIFA, menandai babak baru sepak bola Asia Tenggara.
Respons dari klub-klub Eropa menjadi indikator bahwa pencapaian Timnas Indonesia mulai diperhitungkan di panggung global. Rayo Vallecano, klub Spanyol yang meminjam Emil Audero dari Como 1907, secara khusus menyoroti aksi penyelamatan penalti terakhir yang memastikan kemenangan. Millwall dari Inggris memberikan apresiasi kepada Elkan Baggott atas golnya di final, sementara Go Ahead Eagles merayakan keberhasilan Dean James. Ajax Amsterdam dan Fortuna Sittard juga tidak ketinggalan memberi ucapan kepada Maarten Paes dan pemain Indonesia lainnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa diaspora pemain Indonesia di liga-liga Eropa membawa dampak timbal balik: performa di level internasional meningkatkan profil mereka di klub masing-masing.
"Selamat buat teman-teman, selamat buat fans, suporter Indonesia semuanya. Ini kemenangan kita bersama, kita rayakan," ujar aktor Ganindra Bimo, yang menyaksikan langsung final di SUGBK.
Presiden FIFA Gianni Infantino, yang hadir di stadion, menyampaikan selamat kepada Indonesia dan memberikan penghormatan kepada Thailand yang dinilainya tampil luar biasa sepanjang turnamen. Kehadiran orang nomor satu FIFA itu menegaskan posisi turnamen ini sebagai agenda resmi sepak bola Asia Tenggara, sekaligus membuka peluang Indonesia menjadi tuan rumah event internasional lebih besar di masa depan.
Euforia kemenangan tidak berhenti di kalangan pecinta bola. Sejumlah selebritas dan tokoh publik turut merayakan, baik dari tribun SUGBK maupun dari lokasi masing-masing. Selain Ganindra Bimo, nama-nama seperti Ibnu Jamil, Ariel NOAH, Raffi Ahmad, Coach Justin, dan legenda Timnas Kurniawan Dwi Yulianto ikut menyaksikan dan memberikan reaksi. Irfan Bachdim, mantan pemain Timnas, bahkan menghentikan aktivitasnya di luar negeri demi menyaksikan adu penalti. Alshad Ahmad dan Salshabilla Adriani juga menunjukkan kegembiraan, meski yang terakhir mengaku tidak terlalu mendalami sepak bola. Fenomena ini menegaskan bahwa sepak bola telah menjadi perekat sosial yang melampaui batas profesi dan latar belakang.
Bagi Indonesia, gelar ini bukan sekadar trofi. Ini adalah modal kepercayaan diri menjelang kompetisi yang lebih besar, sekaligus bukti bahwa investasi pembinaan dan naturalisasi pemain mulai menuai hasil. Namun, tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi dan regenerasi. Akankah momentum ini menjadi titik balik menuju panggung dunia, atau hanya euforia sesaat? Waktu yang akan menguji, tetapi satu hal pasti: malam di SUGBK itu telah menorehkan tinta emas dalam sejarah sepak bola Indonesia.



