Jeremy Strong dan Filosofi 'Lari ke Arah Bahaya' di Balik Peran Mark Zuckerberg
Baca dalam 60 detik
- Jeremy Strong memerankan Mark Zuckerberg dalam film The Social Reckoning, sekuel The Social Network garapan Aaron Sorkin.
- Aktor 47 tahun itu mengaku harus berani mengambil risiko ekstrem dan menanggung ketidaknyamanan demi totalitas akting.
- Pendekatan method acting-nya kembali menjadi sorotan setelah ia menolak meminta maaf atas dampak yang mungkin timbul di lokasi syuting.

Aktor Jeremy Strong kembali menegaskan komitmennya pada risiko kreatif. Dalam wawancara terbaru dengan The Hollywood Reporter, pria 47 tahun itu mengungkapkan bahwa ia menerapkan prinsip "run towards the danger" atau berlari menuju bahaya dalam setiap peran yang diambilnya, termasuk saat memerankan CEO Meta, Mark Zuckerberg, di film The Social Reckoning.
Film tersebut merupakan sekuel mandiri dari The Social Network (2010) yang kembali ditulis dan disutradarai oleh Aaron Sorkin. Strong mengakui bahwa memerankan figur publik sekaliber Zuckerberg menuntut keyakinan diri yang tinggi. "Apa yang kami lakukan memang absurd. Saya bukan Mark Zuckerberg, tetapi tugas saya adalah meyakini bahwa saya adalah dia dengan penuh wibawa," ujarnya. Ia menambahkan bahwa kolaborasi dengan Sorkin dibangun di atas kepercayaan besar, yang harus dibayar dengan keberanian dan kesediaan menanggung risiko gagal.
Bagi Strong, dunia akting bukan sekadar profesi, melainkan medan uji mental. Ia mengutip buku Run Towards the Danger karya Sarah Polley sebagai inspirasi. "Ketika Aaron meminta saya mengerjakan ini, saya tahu saya harus berlari menuju bahaya," katanya. Prinsip ini sejalan dengan reputasinya sebagai salah satu aktor method acting paling intens di Hollywood, yang kerap larut total dalam karakter hingga mengubah atmosfer di lokasi syuting.
Pendekatan ekstrem Strong bukan tanpa kontroversi. Awal bulan ini, ia membela gaya aktingnya di hadapan publik setelah sejumlah pihak menilai kehadirannya di lokasi syuting menciptakan ketegangan. Dalam wawancara di The New Yorker Radio Hour, ia menegaskan tidak pernah berniat mengganggu pengalaman orang lain. "Pertama, jangan menyakiti. Tapi berkomitmenlah pada apa yang kau kerjakan, sepenuhnya," tegasnya. Ketika diminta mengklarifikasi, ia menyatakan tidak merasa perlu meminta maaf jika ada yang menganggap ia terlalu serius. "Jika itu mengubah molekul di ruangan sehingga terasa tidak nyaman, saya rasa itu bukan sesuatu yang harus saya sesali," ujarnya.
Pernyataan tersebut memperkuat citra Strong sebagai aktor yang menolak kompromi. Di industri hiburan yang semakin didorong oleh efisiensi produksi dan tuntutan pasar, pendekatan semacam ini bisa jadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ia dihormati karena dedikasi; di sisi lain, metode tersebut berpotensi memicu gesekan dengan rekan kerja. Namun, Strong tampaknya sudah menerima segala konsekuensinya.
Bagi penonton Indonesia, fenomena method acting Strong mencerminkan perdebatan yang juga muncul di dunia seni peran tanah air. Sejumlah aktor senior kerap menekankan pentingnya disiplin dan pendalaman karakter, sementara generasi muda mulai mengeksplorasi pendekatan yang lebih spontan. Terlepas dari perbedaan itu, kasus Strong menunjukkan bahwa batas antara profesionalisme dan obsesi bisa sangat tipis.
Ke depan, apakah pendekatan "lari menuju bahaya" akan terus relevan di tengah industri film yang kian terindustrialisasi? Atau justru sebaliknya, semakin banyak aktor yang memilih keseimbangan antara totalitas dan kesehatan mental? Yang jelas, Jeremy Strong telah memilih jalannya, dan ia tidak berniat menoleh ke belakang.



