Russell T. Davies Tolak Peluang Menulis Film MCU: Saya Terlalu Tua, Ada Penulis Muda yang Lebih Baik
Baca dalam 60 detik
- Russell T. Davies menegaskan tidak berniat menulis film Marvel Cinematic Universe meski mengaku penggemar berat waralaba tersebut.
- Ia menilai generasi penulis yang lebih muda dan lebih cerdas lebih layak menggarap proyek sebesar MCU, sementara dirinya memilih fokus pada drama bernuansa Manchester dan budaya queer Inggris.
- Di sisi lain, Doctor Who yang pernah ia bangkitkan kini mencari rumah produksi baru setelah Disney+ mengakhiri kemitraan dengan BBC.

Russell T. Davies, sosok di balik kebangkitan Doctor Who pada 2005, menegaskan bahwa dirinya tidak berambisi menulis film untuk Marvel Cinematic Universe (MCU) meskipun mengaku sebagai penggemar berat waralaba tersebut. Pernyataan itu disampaikannya saat menghadiri Virgin Atlantic Attitude Awards di The Roundhouse, London, Rabu malam (7/10/2026), sebuah ajang penghargaan yang merayakan capaian komunitas LGBTQ+ di dunia seni.
Davies, 63 tahun, memang dikenal sebagai penulis dengan jejak panjang di televisi Inggris—mulai dari Queer as Folk, Casanova, Years and Years, hingga It's a Sin. Namun, ketika ditanya soal kemungkinan menulis naskah MCU, ia justru merendah. Menurutnya, menulis untuk Marvel bukan sekadar soal memahami komik dan filmnya, melainkan juga soal perspektif yang ia rasa sudah tidak lagi menjadi wilayahnya.
"Saya menyukainya. Tapi saya rasa saya tidak bisa menulis untuk itu. Ada penulis yang lebih muda, lebih baik, dan lebih cerdas dari saya. Saya sudah 63 tahun, saya menulis pertunjukan Manchester saya dan bersenang-senang. Semoga sukses untuk mereka," ujar Davies.
Pernyataan itu muncul di tengah ekspektasi besar terhadap Avengers: Doomsday, film ke-39 dalam waralaba MCU yang dijadwalkan rilis Desember mendatang dan menjadi kelanjutan dari Avengers: Endgame. Davies sendiri mengaku tidak sabar menonton film tersebut, bahkan secara terbuka ia berkeliling mencari cara agar bisa mendapatkan akses ke pemutaran perdana di London. "Saya benar-benar bertanya kepada semua orang di bagian publisitas bagaimana caranya bisa masuk ke pemutaran Avengers: Doomsday karena saya ingin berada di sana," tambahnya.
Kendati menolak peluang menulis MCU, Davies tetap menunjukkan antusiasme terhadap industri hiburan arus utama. Baginya, menjadi bagian dari perayaan komunitas LGBTQ+ di panggung seperti Attitude Awards adalah momen penting, terlebih ketika karyanya diakui. "Akan aneh rasanya jika pertunjukan gay saya tidak dinominasikan di malam gay besar ini. Saya senang bisa berada di sini, ini malam perayaan, kita semua bersama, sungguh menyenangkan. Tapi tentu saja saya ingin menang," tuturnya sebelum menerima trofi.
Di sisi lain, lanskap Doctor Who yang pernah ia bangun kini berada di persimpangan. Setelah Disney+ memutuskan tidak melanjutkan kemitraan produksi dengan BBC—setelah tiga spesial ulang tahun ke-60 dan dua musim yang dibintangi Ncuti Gatwa sebagai Doctor kelima belas—serial ikonik itu resmi hiatus dan tengah mencari rumah produksi baru. Nama Jed Mercurio, kreator Line of Duty, disebut-sebut mengajukan proposal melalui perusahaannya, Hat Trick Mercurio, untuk menghidupkan kembali sang Doctor.
Bagi penggemar Doctor Who, keputusan Davies untuk tidak menyentuh MCU bisa dibaca sebagai penegasan identitas: ia lebih memilih cerita yang berakar pada realitas sosial Inggris dan pengalaman queer ketimbang bergulat dengan narasi superhero global. Namun, pertanyaan yang tersisa adalah apakah waralaba sebesar MCU justru membutuhkan suara seperti Davies—yang mampu menyuntikkan kompleksitas manusiawi ke dalam spektakel—atau justru sebaliknya, Marvel sudah cukup mapan dengan formula yang ada. Sementara itu, masa depan Doctor Who masih menunggu kejelasan, dan nama Davies tetap menjadi bayang-bayang yang sulit dihindari dalam setiap diskusi tentang arah serial tersebut.



