Piastri Bongkar Akar Masalah McLaren: Bukan Sekadar Aspal Sepang
Baca dalam 60 detik
- McLaren tertinggal 240 poin dari Mercedes di klasemen konstruktor setelah Piastri hanya finis keenam di Malaysia.
- Piastri menolak menyalahkan aspal kasar Sepang sepenuhnya atas defisit 0,733 detik per lap, menyebut masalahnya multi-faktor.
- Sirkuit jalanan Singapura yang mulus menjadi ujian berikutnya bagi McLaren untuk menemukan jendela setelan yang konsisten.

McLaren memasuki Grand Prix Bahrain dengan ambisi menantang Mercedes dan Ferrari di barisan depan. Namun, harapan itu pupus di Sirkuit Internasional Sepang. Oscar Piastri hanya mampu menyelamatkan finis keenam setelah strategi ban lap pembuka yang gagal dan pace yang jauh dari kompetitif. Kini, dengan defisit 240 poin dari Mercedes di klasemen konstruktor, tekanan untuk menemukan solusi semakin besar menjelang Grand Prix Singapura.
Dalam sesi media di bawah lampu Marina Bay, Piastri ditanya apakah aspal Sepang yang kasar dan abrasif menjadi biang keladi hilangnya aerodinamika MCL40. Regulasi teknis 2026 memang memperkenalkan lantai mobil yang lebih datar untuk mengurangi sensitivitas terhadap perubahan ketinggian, tetapi pembalap Australia itu menegaskan bahwa cengkeraman permukaan tetap menjadi faktor krusial. "Ya, sulit untuk mengetahuiinya. Terutama dengan generasi mobil sebelumnya, kekasaran atau kehalusan trek membuat perbedaan besar. Dan itu masih akan berpengaruh pada mobil tahun ini," ujarnya kepada pers.
Meski demikian, Piastri enggan menyalahkan aspal Sepang sepenuhnya atas defisit rata-rata 0,733 detik per lap dari para pemimpin balapan. "Saya tidak yakin itu alasan utamanya kami kurang kompetitif. Tapi jelas, kami berharap lebih kuat di Malaysia. Jadi ada beberapa faktor," akunya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa masalah McLaren bukan sekadar karakteristik sirkuit, melainkan kombinasi dari berbagai elemen teknis dan strategi.
Di balik kesulitan itu, Piastri menyoroti potensi MCL40 ketika para insinyur berhasil menemukan setelan yang tepat. "Pada titik tertentu dalam balapan, kami terlihat sangat cepat. Di stint kedua saya dengan ban keras, saya yang tercepat. Lando juga dengan ban lunak. Kami hampir menjadi mobil tercepat di trek," kenangnya. Namun, masalah fundamental tim Woking adalah konsistensi. "Ini sejalan dengan sisa musim. Jika Anda bisa membawa mobil ke jendela yang tepat, mobilnya sangat cepat. Tapi kami kesulitan mendapatkannya dalam dua akhir pekan terakhir," tambah Piastri.
Sirkuit jalanan Singapura yang mulus menghadirkan tantangan teknik yang sama sekali berbeda. Piastri berharap timnya dapat menemukan titik manis tanpa harus bergulat dengan aspal kasar. "Semoga kami bisa membuat segalanya lebih mudah akhir pekan ini. Ini trek yang sangat berbeda, permukaan berbeda. Tapi ya, tingkat cengkeraman di Malaysia sedikit mengejutkan kami," tutupnya.
Bagi McLaren, balapan di Singapura bukan sekadar soal mencari poin, tetapi juga momentum untuk membuktikan bahwa mereka masih bisa bersaing di jalur pengembangan. Jika konsistensi tetap sulit diraih, defisit poin bisa melebar dan ambisi juara semakin jauh. Akankah Marina Bay menjadi titik balik, atau justru mempertegas bahwa McLaren masih tertinggal satu langkah dari para rival?



