Gelombang Demo Sekolah di Prancis: 1.800 SMA Lumpuh, 200 Ribu Massa Turun ke Jalan
Baca dalam 60 detik
- Serikat pelajar melaporkan 1.800 sekolah menengah atas terhenti operasionalnya saat aksi nasional dimulai.
- BFM TV memperkirakan sekitar 200.000 demonstran akan bergabung sepanjang hari, dengan konsentrasi awal di Marseille.
- Ketegangan mulai terdeteksi di Paris dan Lyon, meski mayoritas unjuk rasa di seluruh negeri masih berlangsung damai.

Lebih dari seribu sekolah menengah atas di Prancis terpaksa menghentikan kegiatan belajar-mengajar pada Senin (6/10/2026) ketika gelombang protes nasional yang digerakkan serikat pelajar memasuki fase puncak. Serikat pelajar mengklaim 1.800 SMA mengalami gangguan operasional, sementara serikat pekerja dan kelompok orang tua turut bergabung di depan gerbang sekolah—menandai apa yang mereka sebut sebagai “hari mobilisasi” melawan kebijakan pendidikan pemerintah.
BFM TV melaporkan sekitar 200.000 orang diperkirakan akan turun ke jalan sepanjang hari, menjadikannya salah satu aksi massa terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Demonstrasi awal sudah berlangsung di Marseille, dan media Prancis mulai melaporkan tanda-tanda ketegangan di Paris serta Lyon. Meski demikian, mayoritas unjuk rasa di berbagai kota masih berjalan damai hingga berita ini diturunkan.
Aksi ini bukan sekadar protes rutin. Kombinasi antara serikat pelajar, serikat pekerja, dan orang tua menunjukkan bahwa isu pendidikan telah menjelma menjadi simpul ketidakpuasan yang lebih luas—mulai dari pemotongan anggaran, kondisi kerja guru, hingga akses layanan publik yang dianggap semakin timpang. Pemerintah Prancis menghadapi tekanan ganda: menenangkan basis pemilihnya sendiri sekaligus mencegah eskalasi yang bisa merembet ke sektor lain.
Yang membedakan aksi kali ini adalah keterlibatan orang tua secara langsung. Di banyak titik, mereka tidak hanya mengantar anak, tetapi ikut berdiri di barisan depan—sebuah sinyal bahwa kekecewaan terhadap kebijakan pendidikan telah merambah ke ruang domestik. Serikat pelajar memanfaatkan momentum ini untuk menekan pemerintah agar membuka dialog terbuka, bukan sekadar janji perbaikan jangka pendek.
“Hari mobilisasi ini adalah pesan bahwa kami tidak akan diam,” kata perwakilan serikat pelajar, seperti dikutip media Prancis, seraya menambahkan bahwa aksi akan berlanjut jika tuntutan tidak direspons.
Dari perspektif keamanan, otoritas setempat belum melaporkan bentrokan besar. Namun, kemunculan ketegangan di Paris dan Lyon menjadi peringatan bahwa situasi bisa berubah cepat, terutama jika massa bertambah pada jam-jam sibuk. Pemerintah kota disebut telah menyiagakan personel tambahan di sekitar gedung-gedung pemerintahan dan simpul transportasi utama.
Bagi Indonesia, dinamika di Prancis ini relevan sebagai cermin. Kedua negara sama-sama menghadapi tantangan pembiayaan pendidikan, ketimpangan akses, dan tekanan anggaran yang bersaing dengan prioritas lain. Ketika serikat pelajar dan orang tua di Prancis mampu membentuk aliansi lintas kelompok, pertanyaannya adalah sejauh mana dialog sosial di Indonesia—antara pemerintah, guru, dan orang tua—mampu mengantisipasi gesekan serupa sebelum meledak menjadi aksi massa.
Yang perlu dicermati dalam beberapa hari ke depan adalah apakah aksi ini akan mereda setelah hari mobilisasi, atau justru menjadi pemicu gelombang protes lanjutan. Jika tuntutan tidak diakomodasi, bukan tidak mungkin serikat pekerja di sektor lain akan ikut menarik garis. Pemerintah Prancis kini berada di persimpangan: membuka ruang negosiasi atau menghadapi risiko eskalasi yang lebih sulit dikendalikan.



