Bandara Riyadh Lumpuh: Houthi Klaim Serangan Rudal, Maskapai Setop Penerbangan
Baca dalam 60 detik
- Houthi mengklaim telah menembak Bandara Riyadh dengan rudal balistik, merusak pesawat Saudia Airlines dan memaksa sejumlah maskapai menghentikan penerbangan ke ibu kota Arab Saudi.
- Otoritas Saudi belum mengomentari klaim tersebut, namun tiga orang yang mengetahui masalah ini mengatakan serpihan dari intersepsi atau proyektil lain membuat pesawat terbakar dan rusak berat saat parkir di terminal.
- Serangan ini memperburuk konflik Yaman dan berpotensi mengganggu pasar energi global, terutama menjelang pertemuan WPC Energy Congress di Riyadh.

Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah meluncurkan rudal balistik ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada Kamis (9/10/2026). Klaim ini memicu penangguhan penerbangan oleh sejumlah maskapai internasional dan memunculkan kekhawatiran baru atas keamanan wilayah.
Houthi tidak memberikan bukti atas klaim tersebut, dan pemerintah Saudi belum memberikan pernyataan resmi. Namun, tiga sumber yang mengetahui situasi itu mengatakan kepada Reuters bahwa serpihan dari intersepsi atau proyektil lain menyebabkan pesawat komersial Saudia Airlines terbakar dan mengalami kerusakan berat saat terparkir di terminal. Tidak ada penumpang di dalam pesawat saat kejadian, meskipun korban luka belum dapat dikesampingkan.
Saksi mata mendengar ledakan keras di Riyadh, termasuk di bandara. Seorang saksi mengatakan tim pemadam kebakaran dan ambulans dikerahkan. Video yang diverifikasi Reuters menunjukkan asap hitam tebal dan api membumbung dari lokasi. Penerbangan keluar dihentikan sementara, dan penumpang diminta meninggalkan bandara.
Serangan ini merupakan eskalasi terbaru dalam kampanye Houthi melawan Arab Saudi, yang mereka tuduh mendukung pasukan pemerintah Yaman dalam perang saudara yang kembali memanas. Houthi telah melakukan kemajuan cepat di sepanjang dataran pantai Yaman selama sebulan terakhir, dan pada Rabu dilaporkan mendekati kota Taiz. Pengamat independen menilai ada bahaya bahwa kelompok itu akan merebut Taiz, sementara pasukan yang terkait dengan pemerintah yang didukung Saudi tampak menarik diri untuk mengamankan pelabuhan utama Aden.
"Serangan ini tidak hanya mengganggu penerbangan sipil, tetapi juga mengirim sinyal bahwa Houthi mampu menjangkau jantung Arab Saudi," ujar seorang analis keamanan regional yang meminta namanya tidak disebutkan.
Di sisi lain, pejabat Saudi melaporkan bahwa serpihan dari rudal yang dicegat menghantam sebuah taman kanak-kanak dan kompleks medis di Riyadh. Insiden ini menambah daftar korban sipil dari konflik yang semakin intens.
Bagi Indonesia, eskalasi di Timur Tengah ini dapat berdampak pada stabilitas harga minyak dunia. Sebagai importir minyak, Indonesia rentan terhadap lonjakan harga jika konflik mengganggu pasokan dari kawasan. Selain itu, banyak tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Arab Saudi, sehingga keamanan mereka menjadi perhatian. Pemerintah Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan dan berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk melindungi warga negara.
Riyadh dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan besar pembuat kebijakan energi, WPC Energy Congress, pekan ini. Serangan ini dapat mempengaruhi agenda pertemuan dan menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan infrastruktur energi. Jika ketegangan berlanjut, harga minyak global bisa melonjak, memukul ekonomi negara-negara berkembang.
Pertanyaannya kini: akankah Arab Saudi membalas serangan ini dengan kekuatan penuh, atau akankah ada upaya diplomatik untuk meredakan konflik? Dunia menunggu langkah berikutnya, sementara warga sipil di kedua negara menanggung beban terberat.



