Banjir Rendam Dua Kecamatan di Langkat, Jembatan Besilam Putus Total
Baca dalam 60 detik
- Banjir melanda Kecamatan Wampu dan Kuala di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, pada Senin (5/10/2026) akibat curah hujan tinggi di hulu sungai.
- Jembatan penghubung Dusun 1 Besilam tidak dapat dilalui, memutus akses warga antarwilayah.
- Pemerintah masih mendata pengungsi dan menyiagakan tim evakuasi, sementara belum ada laporan korban jiwa.

Bencana banjir kembali menghantam Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, pada Senin (5/10/2026). Dua kecamatan—Wampu dan Kuala—terendam setelah curah hujan ekstrem di kawasan hulu memicu kenaikan debit air sungai hingga meluap ke permukiman. Peristiwa ini menambah daftar panjang masalah infrastruktur dan mitigasi bencana di wilayah rawan banjir Sumatra.
Kepala Bidang Penanganan Darurat Peralatan dan Logistik BPBD Sumatra Utara, Sri Wahyuni Pancasilawati, mengonfirmasi bahwa banjir terjadi di dua lokasi tersebut. "Tingginya curah hujan di hulu sungai menyebabkan air meluap dengan cepat," ujarnya saat dihubungi, Selasa (6/10). Ia menambahkan bahwa hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa maupun luka-luka, namun jumlah warga yang mengungsi masih dalam proses pendataan.
Di Kecamatan Wampu, banjir merendam Desa Besilam Bukit Lembasa. Dampak paling signifikan terlihat pada akses transportasi: Jembatan penghubung Dusun 1 Besilam/BL untuk sementara tidak dapat dilalui. Kondisi ini memutus jalur vital warga untuk beraktivitas sehari-hari, termasuk akses ke pasar, sekolah, dan fasilitas kesehatan. Sementara itu, di Kecamatan Kuala, pemerintah daerah bersama tim kebencanaan masih melakukan penanganan intensif.
Pemerintah Kabupaten Langkat bergerak cepat dengan berkoordinasi bersama pemerintah setempat dan melakukan asesmen di sejumlah titik terdampak. Tim BPBD Kabupaten Langkat disiagakan untuk evakuasi jika kondisi memburuk. BPBD Sumatra Utara juga terus memantau perkembangan banjir dan mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan kenaikan debit air susulan, terutama jika hujan kembali turun di wilayah hulu.
"Kami mengimbau warga untuk selalu siaga. Jika hujan deras kembali terjadi di hulu, bukan tidak mungkin banjir susulan akan datang," kata Sri Wahyuni.
Banjir di Langkat bukan kali pertama terjadi. Wilayah ini memang dikenal sebagai langganan banjir tahunan akibat kombinasi topografi, alih fungsi lahan di kawasan hulu, dan curah hujan tinggi. Namun, peristiwa kali ini menyoroti kembali lemahnya infrastruktur jembatan dan drainase yang kerap menjadi titik lemah saat bencana datang. Jembatan Besilam yang tak bisa dilalui menjadi bukti bahwa konektivitas antarwilayah masih rentan terhadap guncangan cuaca ekstrem.
Dari perspektif kebencanaan, kecepatan respons pemerintah daerah patut diapresiasi, tetapi tantangan sesungguhnya terletak pada mitigasi jangka panjang. Penataan ruang di kawasan hulu, perbaikan sistem peringatan dini, serta penguatan struktur jembatan dan jalan perlu menjadi prioritas. Tanpa itu, siklus banjir- evakuasi- perbaikan akan terus berulang setiap tahun, menguras anggaran dan mengancam keselamatan warga.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih berada di lokasi untuk memantau kondisi air dan membantu evakuasi jika diperlukan. Warga diimbau mengikuti arahan petugas dan tidak memaksakan diri melintasi jalur yang masih terendam. Pertanyaannya, sampai kapan Langkat harus berjibaku dengan banjir yang datang silih berganti tanpa solusi permanen?



