Anne Hathaway Buka Suara Soal Ending 'Verity': Saya Tim Surat, Bukan Manuskrip
Baca dalam 60 detik
- Anne Hathaway secara terbuka menyatakan dukungannya pada teori 'surat' dalam perdebatan ending film Verity.
- Aktris ini menilai manuskrip Verity yang buruk justru membuktikan bahwa tokoh tersebut tidak menulisnya sendiri.
- Pengakuan Hathaway menambah dimensi baru bagi penonton yang masih terbelah antara dua interpretasi akhir cerita.

Anne Hathaway akhirnya angkat bicara mengenai salah satu perdebatan paling panas di dunia hiburan tahun ini: apa sebenarnya makna ending film Verity? Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter, aktris peraih Oscar itu menegaskan posisinya berada di kubu "surat" โ bukan "manuskrip" โ dalam kontroversi yang membelah penggemar.
Film thriller psikologis erotis ini mengisahkan Lowen, seorang penulis tengah kesulitan yang disewa untuk menuntaskan seri buku terlaris milik Verity, penulis yang tengah cedera. Lowen kemudian menemukan manuskrip rahasia yang mengungkap kebenaran mengerikan tentang Verity. Endingnya sengaja dibuat ambigu: apakah manuskrip Verity yang jujur, atau surat tulisan tangan yang justru memuat kebenaran?
Hathaway, yang memerankan Verity, memberikan argumennya dengan logika yang cukup tajam. Ia menilai bahwa jika Verity benar-benar pembunuh keji dan jahat seperti yang digambarkan dalam manuskrip, maka buku yang ditulis Verity tentang dirinya sendiri seharusnya jauh lebih baik. "Ada bagian di mana Lowen menggambarkan manuskrip itu dan berkata, 'Aku harus jujur, buku ini tidak bagus, dan isinya hanya tentang seks.' Dia bahkan bosan selama 100 halaman berikutnya," ujar Hathaway menirukan alur cerita.
Menurut Hathaway, justru kelemahan manuskrip itulah yang memperkuat teorinya. "Jika Verity benar-benar perempuan jahat dan pembunuh mengerikan, tidakkah kamu berpikir buku yang dia tulis tentang dirinya sendiri akan sangat bagus?" tambahnya. Ia juga menyoroti bahwa surat tersebut ditulis oleh seorang perempuan yang ketakutan dan sangat berhati-hati โ bukan sekadar upaya menutupi kebenaran.
Perdebatan ini bukan sekadar soal selera. Bagi industri film, ambiguity dalam ending menjadi strategi pemasaran yang efektif untuk memicu diskusi panjang di media sosial. Film yang diadaptasi dari novel laris Colleen Hoover ini telah menjadi fenomena budaya, dengan penonton yang rela menonton ulang untuk mencari petunjuk. Hathaway sendiri menyadari betul bahwa posisinya sebagai aktris yang memerankan Verity bisa dianggap bias, namun ia tetap yakin dengan tafsirannya.
"Surat. Alasannya aku memilih surat, dan aku tahu banyak orang di tim manuskrip berkata, 'Tidak, dia hanya menulis surat untuk menutupi keburukannya.' Tapi dia perempuan yang ketakutan dan sangat berhati-hati." โ Anne Hathaway
Di sisi lain, Hathaway juga tengah menikmati fase karier yang padat. Ia mengumumkan kehamilannya pada Juni lalu, sembari membintangi sejumlah proyek besar seperti Mother Mary, The Devil Wears Prada 2, The Odyssey, The End of Oak Street, dan Verity. Dalam wawancara terpisah dengan Extra, ia menyebut 2026 sebagai "perjalanan luar biasa" yang membuatnya menemukan kekuatan diri.
"Hal menakjubkan yang disadari adalah kamu bisa melakukan begitu banyak hal meski benar-benar kelelahan. Ini perjalanan yang mengasyikkan karena kamu tidak hanya menguras diri demi sesuatu, tapi juga diberi makan dengan begitu banyak kegembiraan dan cinta," ujarnya. Hathaway juga mengaku lebih sabar dan penuh kasih, baik untuk diri sendiri maupun orang lain, berkat peran barunya sebagai ibu dari dua anak, Jonathan (10) dan Jack (6).
Bagi penonton Indonesia, fenomena Verity ini mencerminkan bagaimana diskursus film global cepat merambah ke ruang percakapan digital tanah air. Platform streaming dan media sosial membuat perdebatan semacam ini tidak lagi terbatas pada penonton bioskop di Amerika. Ke depan, apakah studio akan semakin sering menggunakan ending ambigu sebagai alat membangun komunitas penggemar? Atau justru penonton akan mulai lelah dengan tafsir yang tak kunjung usai? Yang jelas, Hathaway telah memberikan bahan bakar baru bagi perdebatan yang tampaknya belum akan padam dalam waktu dekat.



