Kalah dari Indonesia di Final, Hudson Beber Masalah Kronis Thailand: Skuad Tak Pernah Utuh
Baca dalam 60 detik
- Thailand takluk dari Timnas Indonesia lewat adu penalti di final FIFA ASEAN Cup 2026, dan Anthony Hudson menyebut inkonsistensi komposisi pemain sebagai persoalan mendasar.
- Pelatih asal Inggris itu mengeluhkan sulitnya menurunkan kekuatan terbaik karena setiap turnamen diikuti situasi dan ketersediaan pemain yang berbeda-beda.
- Hudson berencana mengunci inti skuad final sebagai fondasi menuju Asian Cup, dengan King's Cup 2026 di Sisaket pada November sebagai ujian pertama.

Kegagalan Thailand merebut trofi FIFA ASEAN Cup 2026 di Jakarta menyisakan persoalan yang lebih dalam daripada sekadar kekalahan adu penalti dari Timnas Indonesia. Pelatih Anthony Hudson menilai akar masalahnya adalah komposisi skuad yang terus berubah di setiap turnamen, sehingga ia nyaris tidak pernah bisa menurunkan kekuatan terbaiknya.
Laga final di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin (5/10/2026), berjalan dramatis. Kedua tim bertahan imbang 2-2 hingga 120 menit, dan Thailand harus bermain dengan sepuluh pemain sejak menit ke-80 setelah Nicholas Mickelson menerima kartu kuning kedua. Dari titik putih, Indonesia keluar sebagai juara dan meninggalkan luka bagi Gajah Perang.
Namun bagi Hudson, hasil di Jakarta bukan sekadar soal eksekusi penalti. Ia menggarisbawahi bahwa Thailand selama ini menghadapi situasi berbeda di setiap kompetisi, yang membuatnya kerap kehilangan pemain-pemain kunci karena alasan di luar kendalinya. Kondisi itu, menurutnya, juga terjadi pada edisi ASEAN Cup kali ini.
"Selama ini kami selalu memiliki skuad yang berbeda karena situasi dari setiap kompetisi juga berbeda. Tantangannya adalah kami tidak bisa memilih pemain terbaik," ujar Hudson, seperti dikutip Khaosod.
Pernyataan itu menyiratkan persoalan struktural yang lebih besar: jadwal kompetisi domestik, klub, dan agenda FIFA yang saling bertabrakan membuat tim nasional Thailand sulit membangun chemistry jangka panjang. Hudson pun menegaskan bahwa ia kini ingin mempertahankan inti skuad yang tampil di final sebagai fondasi pembangunan tim.
Di tengah kekecewaan, Hudson melihat sisi positif dari perjalanan Thailand. Sejumlah pemain muda mendapat menit bermain dan menunjukkan potensi, dengan Kakana Khamyok dan Yotsakorn Burapha disebut sebagai bagian generasi baru yang layak dipertahankan. Ia juga menyebut masih ada pemain muda lain yang belum masuk skuad dan berpeluang mendapat kesempatan pada agenda berikutnya.
"Saya bangga karena ada banyak pemain muda yang bisa masuk ke dalam tim. Mereka memiliki potensi yang tinggi dan masih ada pemain muda lainnya yang belum bergabung dengan skuad ini," kata Hudson.
Kombinasi antara pemain senior dan generasi muda akan menjadi kunci. Hudson menyadari bahwa membangun tim yang konsisten bukan persoalan satu turnamen, melainkan proses panjang yang menuntut kesinambungan pemain, staf, dan program latihan. Ia berencana mengambil waktu istirahat sejenak sebelum kembali mempersiapkan tim menghadapi Asian Cup.
Bagi Indonesia, kemenangan ini mempertegas posisi Timnas sebagai kekuatan yang mampu menundukkan rival tradisional di panggung regional. Bagi Thailand, kekalahan justru membuka ruang evaluasi menyeluruh atas manajemen skuad dan kalender kompetisi yang selama ini dianggap mengganggu persiapan.
Pertanyaannya kini: mampukah Hudson benar-benar mengunci inti skuadnya, ataukah perubahan komposisi akan kembali menghantui Thailand saat King's Cup dan Asian Cup bergulir?



