Amazon Akhiri Eksklusivitas App Store, Tablet Alexa Kini Dukung Google Play
Baca dalam 60 detik
- Amazon meluncurkan lini tablet Alexa yang untuk pertama kalinya menjalankan Google Play Store, menandai pergeseran strategi setelah 15 tahun mengandalkan toko aplikasi sendiri.
- Langkah ini menghapus kelemahan utama Fire Tablet yang selama ini dianggap kurang fleksibel dibanding tablet Android lain, sekaligus memperkuat posisi Amazon di segmen tablet terjangkau.
- Dengan harga mulai 230 dolar AS, perangkat ini berpotensi mengguncang pasar tablet global, termasuk Indonesia, di mana tablet murah masih menjadi primadona.

Amazon secara resmi mengumumkan lini tablet terbarunya, Alexa Tablet, yang untuk pertama kalinya mengadopsi Google Play Store. Keputusan ini mengakhiri ketergantungan pada toko aplikasi Appstore milik Amazon yang sudah berlangsung sejak peluncuran Kindle Fire 15 tahun lalu. Langkah tersebut dinilai sebagai pengakuan bahwa ekosistem aplikasi pihak ketiga menjadi faktor krusial bagi konsumen.
Selama ini, Fire Tablet memang dikenal sebagai alternatif murah tablet Android dan iPad. Namun, keterbatasan pilihan aplikasi sering menjadi keluhan. Beberapa aplikasi populer seperti YouTube dan Netflix sebenarnya tersedia, tetapi banyak layanan penting lain—terutama dari Google, Telegram, hingga Snapchat—absen. Kehadiran Google Play Store otomatis menghilangkan hambatan tersebut dan menempatkan Alexa Tablet sejajar dengan tablet Android lainnya.
Bukan hanya soal toko aplikasi, Amazon juga merombak desain dan performa. Alexa Tablet 8, 11, dan 12 Pro hadir dengan bodi aluminium, peningkatan daya prosesor, serta fitur AI Alexa+ yang lebih dalam. Harga yang dipatok pun kompetitif: 230 dolar AS untuk model 8 inci, 330 dolar AS untuk 11 inci, dan 500 dolar AS untuk 12 Pro. Sebagai perbandingan, iPad generasi dasar dibanderol 449 dolar AS, meski sering diskon menjadi sekitar 400 dolar AS.
Model tertinggi, Alexa Tablet 12 Pro, menawarkan opsi keyboard dan pena stylus yang mengubahnya menjadi workstation portabel. Ada pula layar "Nanomatte" opsional yang mengurangi silau dan memberikan sensasi menulis di atas kertas. Peningkatan ini menyasar pengguna yang menginginkan perangkat serbaguna tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
"Keputusan Amazon membuka Google Play adalah pengakuan bahwa ekosistem tertutup tidak lagi relevan di pasar tablet yang semakin matang," ujar seorang analis teknologi yang enggan disebutkan namanya.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Ekosistem aplikasi iPadOS masih lebih unggul dalam hal aplikasi yang dioptimalkan untuk layar besar. Android secara historis kerap dikritik karena kurangnya dukungan pengembang untuk antarmuka tablet. Namun, dengan harga yang lebih ramah kantong, Alexa Tablet bisa menjadi pilihan menarik bagi konsumen yang mengutamakan nilai.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran tablet ini berpotensi mengubah peta persaingan di segmen tablet murah. Selama ini, merek seperti Samsung, Xiaomi, dan Advan mendominasi. Jika Amazon memutuskan masuk secara resmi, konsumen Indonesia akan mendapat alternatif dengan akses penuh ke Google Play dan fitur AI canggih. Namun, tanpa jaringan distribusi dan layanan purna jual yang mapan, peluangnya masih terbuka lebar.
Pertanyaannya, apakah langkah ini akan memicu pesaing seperti Samsung dan Lenovo untuk lebih agresif menekan harga? Atau justru Amazon yang akan kesulitan meyakinkan pengguna setia iPad bahwa tablet murahnya layak dilirik? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: era eksklusivitas toko aplikasi di perangkat Amazon telah berakhir.



