Tingkat Kepuasan Trump Anjlok ke Rekor Terendah 32%, Sinyal Bahaya bagi Partai Republik
Baca dalam 60 detik
- Survei Reuters/Ipsos mencatat persetujuan publik terhadap Donald Trump merosot ke level terendah sepanjang masa, yakni 32%.
- Dukungan dari pemilih independen dan komunitas Latin menyusut tajam, memukul balik basis koalisi yang mengantarkannya menang pada 2024.
- Dengan pemilu sela tinggal sebulan lagi, hasil jajak pendapat ini bisa menjadi alarm bagi Partai Republik yang berjuang mempertahankan kendali Kongres.

Jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos yang dirilis Senin (5/10/2026) menempatkan tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump di angka 32%—rekor terendah selama masa kepemimpinannya. Penurunan ini bukan sekadar fluktuasi biasa: survei yang sama menunjukkan erosi dukungan dari dua blok pemilih kunci, yakni independen dan warga Latin, yang sebelumnya menjadi tulang punggung kemenangannya pada 2024.
Angka 32% itu muncul hanya sebulan sebelum pemilu sela yang akan menentukan siapa yang menguasai Kongres. Bagi Partai Republik, peringatan ini tidak bisa diabaikan. Sejumlah kandidat dari partai berkuasa mulai menjaga jarak dari Trump, terutama dalam isu imigrasi, demi mempertahankan simpati pemilih lokal di daerah pemilihan yang semakin kompetitif.
Alih-alih mengakui tren tersebut, Trump meremehkan pertanyaan tentang penurunan popularitasnya. Sebelum bertolak ke Nebraska pada Senin, ia menyatakan dirinya "baik-baik saja" dan menuding CNN serta media massa sebagai penyebab buruknya citra tersebut. Namun data di lapangan berbicara lain.
Survei NBC News/Telemundo yang dirilis Minggu (4/10/2026) memperkuat sinyal pergeseran politik di kalangan pemilih Latin. Hampir enam dari sepuluh responden Hispanik menghendaki Kongres dikendalikan Partai Demokrat, naik dua kali lipat dari angka dua tahun sebelumnya. Hanya sekitar seperempat yang masih memberikan restu pada pemerintahan Trump. Ini adalah pukulan telak mengingat pada 2024 Trump berhasil mencatatkan perolehan suara signifikan dari komunitas tersebut.
Faktor ekonomi menjadi pemicu utama kekecewaan publik. Inflasi yang membandel, kekhawatiran resesi, serta keterlibatan AS dalam konflik bersenjata dengan Iran dinilai responden sebagai hasil kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan rumah tangga. Sentimen negatif ini tidak lagi terbatas di negara bagian liberal, tetapi mulai merembet ke wilayah konservatif yang biasanya menjadi benteng Republik.
"Saya baik-baik saja," ujar Trump kepada wartawan, seraya menyalahkan CNN dan media arus utama atas pemberitaan yang dianggapnya tidak adil.
Bagi Indonesia, dinamika politik AS ini patut dicermati. Sebagai mitra dagang dan tujuan investasi utama, perubahan komposisi Kongres dapat mempengaruhi arah kebijakan luar negeri AS, termasuk kerja sama di sektor energi, teknologi, dan keamanan maritim. Ketidakpastian politik di Washington kerap berdampak pada volatilitas pasar keuangan global, yang pada gilirannya memengaruhi nilai tukar rupiah dan arus modal ke negara berkembang.
Jika tren ini berlanjut, Partai Republik berisiko kehilangan kursi di Senat dan DPR, yang akan mempersulit agenda legislatif Trump di sisa masa jabatannya. Pertanyaannya kini: mampukah Trump membalikkan persepsi publik dalam waktu kurang dari 30 hari, ataukah gelombang ketidakpuasan ini akan menjadi awal dari pergeseran kekuatan politik di Amerika Serikat?



