Augsburg di Bawah Manuel Baum: Ancaman Nyata bagi Bayern Munich di Matchday 5
Baca dalam 60 detik
- Augsburg menjelma menjadi kekuatan mengejutkan Bundesliga musim ini dengan rekor 11 gol dalam empat laga, capaian terbaik sepanjang sejarah klub.
- Manuel Baum sukses mengubah wajah Augsburg dari tim papan bawah menjadi penantang Eropa, termasuk kemenangan bersejarah atas Bayern musim lalu.
- Efisiensi lini serang Augsburg—hanya butuh lima tembakan per gol—menjadi senjata utama menghadapi Bayern yang rata-rata memerlukan tujuh tembakan.

Bayern Munich akan menghadapi ujian tak terduga saat bertandang ke markas Augsburg pada pekan kelima Bundesliga akhir pekan ini. Meski berstatus favorit, Die Roten memiliki alasan kuat untuk waspada: Augsburg di bawah asuhan Manuel Baum tengah menjelma menjadi kekuatan yang sulit ditaklukkan, dengan rekor klub 11 gol dalam empat pertandingan pembuka.
Kebangkitan Augsburg bukanlah kebetulan. Ketika musim 2025/26 memasuki Desember, klub berjuluk Fuggerstädter itu terpuruk di ambang zona degradasi dengan hanya mengoleksi 10 poin dari 12 laga. Manajemen kemudian menunjuk Sandro Wagner sebagai pelatih kepala, namun eksperimen itu gagal total. Wagner, mantan penyerang Bayern, dipecat setelah hanya mampu meraih tiga poin di atas zona merah. Baum, yang sebelumnya menangani Augsburg pada 2016–2019, masuk sebagai solusi sementara sebelum akhirnya diberi kontrak permanen 18 bulan.
Keputusan itu terbukti tepat. Dalam 22 laga tersisa, Baum mengumpulkan 33 poin dan membawa Augsburg finis di peringkat kesembilan—nyaris menembus kompetisi Eropa. Stabilitas pertahanan menjadi ciri khas awal kepemimpinannya: hanya kebobolan satu gol dalam tiga pertandingan pertamanya, dan secara keseluruhan hanya lima tim yang kebobolan lebih sedikit dari 34 gol Augsburg antara pekan ke-13 hingga ke-34.
Puncak kebangkitan terjadi di Allianz Arena musim lalu. Bayern saat itu belum terkalahkan dalam 18 laga Bundesliga dan akhirnya menjuarai liga dengan mudah. Namun, satu-satunya kekalahan liga mereka datang dari Augsburg. Kemenangan itu bukan keberuntungan: kedua tim melepaskan 15 tembakan, dengan Augsburg unggul expected goals (xG) 1,2 berbanding 0,9 dan berhasil membalikkan keadaan.
"Saya berharap tim saya turun ke lapangan dengan sikap ingin mengalahkan mereka. Ini bukan soal khawatir membatasi kerusakan," ujar Baum menjelang laga tersebut.
Filosofi itu terus berlanjut musim ini. Augsburg tidak lagi hanya mengandalkan pertahanan kokoh; mereka juga produktif. Dua kemenangan di dua laga pembuka membawa mereka ke puncak klasemen untuk pertama kalinya dalam sejarah klub. Hanya Bayern dan Freiburg yang mencetak lebih banyak gol dari 11 gol Augsburg—sebuah rekor setelah empat pertandingan.
Efisiensi di depan gawang bisa menjadi pembeda melawan Bayern. Rata-rata, juara bertahan itu membutuhkan tujuh tembakan untuk mencetak gol, sementara Augsburg hanya perlu lima. Kehadiran kembali Michael Gregoritsch secara permanen terbukti krusial; penyerang Austria itu sudah mencetak tiga gol. Fabian Rieder melengkapi ancaman dengan tiga assist, memimpin daftar top assist sementara.
Bayern memang tidak pernah takut pada lawan mana pun, tetapi mereka pasti waspada terhadap Augsburg, terutama setelah kekalahan menyakitkan awal tahun ini. Baum kini mulai dikenal sebagai pembuat kejutan, dan ia jelas ingin kembali menjungkalkan Bayern dari puncak.
Pertanyaan besarnya: apakah Augsburg mampu mempertahankan momentum dan menantang dominasi Bayern secara konsisten, ataukah ini hanya gejolak awal musim yang akan mereda? Jawabannya akan mulai terlihat akhir pekan ini.



