BMKG Bantah Suhu Surabaya 48 Derajat Celsius, Sebut Itu 'Feels Like' Bukan Data Resmi
Baca dalam 60 detik
- BMKG Juanda menegaskan suhu maksimum Surabaya hanya 37 derajat Celsius, bukan 48 derajat seperti yang beredar.
- Angka ekstrem itu diduga berasal dari aplikasi cuaca atau pengukuran suhu yang dirasakan kulit, bukan observasi stasiun meteorologi.
- Masyarakat diminta waspada terhadap dampak panas dan kelembapan tinggi yang bisa memicu dehidrasi serta masalah kulit.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda membantah kabar yang menyebut suhu udara di Surabaya mencapai 48 derajat Celsius pada Minggu (4/10). Menurut pantauan resmi, suhu maksimum di ibu kota Jawa Timur itu hanya berkisar 37 derajat Celsius—meski angka tersebut masih berpotensi naik sepanjang Oktober 2026.
Prakirawan BMKG Juanda, Oky Sukma Hakim, menjelaskan bahwa informasi suhu 48 derajat Celsius bukan berasal dari pengamatan BMKG. Ia menduga angka itu bersumber dari data non-BMKG atau merupakan suhu yang dirasakan kulit manusia (feels like temperature), bukan suhu udara sesungguhnya. "Isu suhu di atas 40 derajat Celsius kemungkinan bersumber dari data bukan BMKG atau suhu yang dimaksud adalah suhu yang dirasakan kulit manusia," ujar Oky saat dikonfirmasi, Senin (5/10).
Kontroversi ini mencuat setelah Race Director Surabaya Isoplus Marathon 2026, Safrita Aryana, mengungkapkan bahwa acara maraton yang digelarnya terpaksa dihentikan pada Minggu (4/10) karena suhu udara disebut mencapai 42, 46, bahkan 48 derajat Celsius. Angka tersebut, menurut Oky, bisa jadi berasal dari aplikasi cuaca bawaan ponsel yang menampilkan suhu terasa. Aplikasi semacam itu menghitung feels like temperature dengan mempertimbangkan kelembapan, kecepatan angin, dan suhu udara aktual.
Perbedaan antara suhu udara dan suhu yang dirasakan memang kerap menimbulkan salah paham. Oky mencontohkan, udara yang lembap membuat kulit terasa lebih panas meski suhu aktualnya sama. "Semakin lembap udaranya tetapi dengan suhu udara yang sama, maka suhu yang dirasakan kulit kita terasa lebih panas," jelasnya. Fenomena ini lazim terjadi di kota-kota pesisir seperti Surabaya, di mana kelembapan tinggi memperkuat efek gerah.
Meski angka 48 derajat Celsius tidak terbukti, BMKG tetap mengingatkan masyarakat akan risiko kesehatan akibat paparan sinar matahari langsung pada siang hari. Oky mengimbau warga menggunakan pakaian tertutup atau tabir surya, serta mencukupi kebutuhan air tubuh untuk mencegah dehidrasi. Imbauan ini relevan mengingat aktivitas luar ruang di Surabaya—mulai dari pekerja konstruksi hingga pelari—masih tinggi.
Insiden penghentian maraton menjadi sorotan karena menunjukkan betapa suhu yang dirasakan dapat memengaruhi keselamatan publik. Penyelenggara acara olahraga perlu merujuk pada data meteorologi resmi, bukan sekadar aplikasi ponsel, untuk menentukan apakah kondisi aman. Ke depan, BMKG diharapkan memperkuat literasi cuaca agar masyarakat tidak panik oleh angka ekstrem yang tidak terverifikasi. Pertanyaannya, apakah penyelenggara acara besar akan mengadopsi protokol suhu yang lebih ketat menjelang puncak musim kemarau?



