Xbox XP Resmi Dibentuk: Microsoft Serius Garap Film dan TV
Baca dalam 60 detik
- Microsoft membentuk divisi Xbox XP yang menaungi film, TV, produk konsumen, kemitraan strategis, dan pengalaman langsung.
- Kayleen Walters, eks Lucasfilm dan Mojang, ditunjuk memimpin XP; Mari Angelidou-Smith menggantikannya di Mojang.
- Langkah ini menandai upaya serius Microsoft menggarap adaptasi waralaba gim ke layar lebar setelah sukses A Minecraft Movie dan Fallout.

Microsoft resmi membentuk divisi baru bernama Xbox XP yang akan menangani film, televisi, produk konsumen, kemitraan strategis, dan pengalaman langsung. Pengumuman ini disampaikan melalui Xbox Wire oleh Matthew Ball, chief strategy officer Xbox, sebagai bagian dari upaya perusahaan merombak lini bisnis gimnya.
Divisi ini dipimpin oleh Kayleen Walters, yang sebelumnya berkarier di Lucasfilm dan terakhir menjabat sebagai presiden Mojang, pengembang Minecraft. Walters juga dikenal sebagai produser eksekutif film A Minecraft Movie. Posisinya di Mojang akan digantikan oleh Mari Angelidou-Smith, yang sebelumnya bekerja di Meta dan Reddit. Keduanya akan melapor langsung kepada Asha Sharma, CEO Xbox.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Film A Minecraft Movie yang dirilis 2025 menjadi hit box office, sementara serial Fallout di Prime Video juga meraih sukses. Kesuksesan itu menjadi fondasi bagi Xbox untuk lebih agresif menggarap adaptasi waralaba gimnya ke medium lain. Ball menyatakan bahwa XP menyatukan kemampuan yang selama ini tersebar di berbagai tim Xbox, dengan misi membantu waralaba menjangkau lebih banyak orang dan memperkuat koneksi dengan penggemar.
Meski Xbox Pictures hanya salah satu dari empat area investasi, perannya paling menonjol. Selain Minecraft dan Fallout, Xbox pernah merilis serial Halo di Paramount Plus yang meski berumur pendek tetap memiliki penggemar. Ke depan, daftar adaptasi semakin panjang: sekuel Minecraft berjudul A Minecraft Movie Squared, musim ketiga Fallout, film Call of Duty garapan Peter Berg dan Taylor Sheridan, serta serial animasi Diablo di Netflix. Kerja sama dengan Hideo Kojima untuk proyek Physint juga membuka peluang kolaborasi lintas film dan televisi.
Ini bukan kali pertama Microsoft mencoba masuk ke Hollywood. Pada 2013, sebelum peluncuran Xbox One, perusahaan mendirikan Xbox Entertainment Studios yang dipimpin eksekutif CBS Nancy Tellem. Namun, studio itu ditutup setahun kemudian. Kini, dengan portofolio waralaba yang lebih kuat dan pasar yang terbukti menerima adaptasi gim, Microsoft tampaknya lebih siap.
Di sisi lain, kepemimpinan Asha Sharma sebagai CEO Xbox diwarnai upaya koreksi arah yang melibatkan sejumlah pemutusan hubungan kerja, penutupan studio, dan pembatalan proyek. Xbox juga masih menjadi target kampanye Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS). Pembentukan XP bisa dibaca sebagai diversifikasi pendapatan di tengah tekanan pada bisnis inti gim.
"XP menyatukan kemampuan yang telah ada di berbagai tim Xbox selama bertahun-tahun dan menyelaraskannya di bawah misi bersama: membantu waralaba kami menjangkau lebih banyak orang, menciptakan koneksi lebih dalam dengan pemain dan penggemar baru, serta membuka peluang baru bagi fandom ini untuk tumbuh di seluruh dunia," ujar Ball.
Bagi pasar Indonesia, langkah ini bisa menjadi sinyal bahwa adaptasi gim ke layar lebar semakin menjadi arus utama. Dengan basis penggemar gim yang besar, Indonesia berpotensi menjadi pasar konsumen produk dan pengalaman langsung Xbox XP, sekaligus lahan bagi kreator lokal untuk terlibat dalam ekosistem waralaba global. Namun, tantangannya adalah memastikan tidak sekadar menjadi penonton, melainkan juga pemain dalam rantai produksi.
Ke depan, pertanyaannya apakah Xbox XP akan mampu menghindari nasib Xbox Entertainment Studios, atau justru menjadi mesin pertumbuhan baru Microsoft di industri hiburan. Semua bergantung pada eksekusi dan seberapa besar keberanian perusahaan menempatkan gim sebagai pusat, bukan sekadar pelengkap.



