Steve Jobs Wafat 14 Tahun Lalu: Warisan yang Tetap Hidup di Apple
Baca dalam 60 detik
- Steve Jobs meninggal pada 5 Oktober 2011 di Palo Alto akibat komplikasi kanker pankreas langka, delapan tahun setelah diagnosis dan beberapa pekan setelah mundur dari jabatan CEO Apple.
- Warisan terbesarnya bukan sekadar produk, melainkan budaya perusahaan yang menolak terjebak masa lalu—tercermin dari pesan singkatnya kepada mantan karyawan pada 2006.
- Apple pasca-Jobs justru membuktikan arah yang ia inginkan: berani meninggalkan doktrin lamanya sendiri, seperti kehadiran Apple Pencil dan fokus pada isu lingkungan.

Pada 5 Oktober 2011, Steve Jobs menghembuskan napas terakhir di kediamannya di Palo Alto, California, pada usia 56 tahun. Penyebab resmi kematiannya adalah gagal napas akibat komplikasi kanker pankreas jenis langka yang didiagnosis delapan tahun sebelumnya. Ia resmi melepaskan jabatan CEO Apple pada Agustus 2011, hanya beberapa pekan sebelum kepergiannya.
Kepergian Jobs bukan sekadar berita duka bagi industri teknologi. Peristiwa itu menandai berakhirnya era kepemimpinan visioner yang mengubah cara dunia berinteraksi dengan komputer, musik, dan telepon seluler. Reaksi publik yang meluas saat itu menunjukkan bahwa teknologi telah lama meninggalkan statusnya sebagai hobi niche—ia telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari miliaran orang.
Yang jarang disorot adalah bagaimana Jobs memandang warisannya sendiri. Ia dikenal tidak sentimental terhadap masa lalu. Ketika meninggalkan Apple pada pertengahan 1980-an, ia bahkan tidak mengosongkan kantornya; sertifikat saham Apple pertamanya ikut terbuang. Setelah kembali ke Apple pada akhir 1990-an, ia menyerahkan arsip sejarah perusahaan ke Stanford University Libraries. Alasannya sederhana: ia tidak ingin Apple terpaku pada masa lalu.
"David, Apple is focused on the future, not the past." — Steve Jobs, dalam balasan email kepada mantan karyawan David Pakman pada 2006.
Sikap itu juga berlaku pada dirinya. Jobs secara tegas menolak jika kampus baru Apple dinamai sesuai namanya, meski ia sempat berbicara mendukung proyek tersebut. Kampus itu akhirnya diberi nama Apple Park, sementara pusat medianya dinamai Steve Jobs Theater. Ia juga menyiapkan Apple agar bisa berjalan tanpa kehadirannya. Tim Cook, yang bekerja bersamanya, mengungkapkan bahwa Jobs tidak ingin karyawan bertanya "Apa yang akan dilakukan Steve?" Ia ngeri melihat budaya Disney yang mandek setelah Walt Disney wafat, dan bertekad hal itu tidak terjadi di Apple.
Jobs juga tidak berilusi bahwa produk-produknya akan terus menjadi pusat perhatian setelah ia tiada. Dalam wawancara 1994, saat berusia 39 tahun, ia mengatakan bahwa semua karyanya akan usang saat ia berusia 50 tahun. Ramalan itu, setidaknya secara teknis, terbukti. Namun justru semangat untuk terus melampaui pencapaian lama yang ia tanamkan menjadi fondasi bagi Apple hari ini.
Sejak kepergiannya, Apple telah berubah banyak—dan perubahan itu memang ia kehendaki. Doktrinnya yang menolak kehadiran stylus di iPad akhirnya ditinggalkan dengan hadirnya Apple Pencil. Jobs selalu mendorong insinyurnya untuk membuktikan bahwa ia salah, sehingga keputusan itu justru sejalan dengan filosofinya. Kini Apple juga gencar mengusung isu lingkungan, sesuatu yang tidak terlalu ia tonjolkan semasa hidup.
Meski demikian, perusahaan yang ia bangun tetap membawa visi kuat dari era 1980-an. Lini produk yang ia rintis masih sangat menguntungkan, begitu pula film-film Pixar yang ia bantu besarkan. Bagi Indonesia, kisah Jobs menawarkan pelajaran berharga: keberlanjutan sebuah perusahaan teknologi tidak bergantung pada satu figur, melainkan pada budaya inovasi yang mampu beregenerasi. Ekosistem startup Tanah Air yang tengah tumbuh bisa mengambil contoh bagaimana membangun fondasi yang tidak rapuh saat pendirinya lengser.
Empat belas tahun setelah kepergiannya, pertanyaan yang tersisa bukan lagi tentang apa yang akan dilakukan Steve, melainkan sejauh mana Apple—dan industri teknologi global—berani menantang asumsi lamanya sendiri. Apakah warisan terbesar Jobs adalah produk-produknya, atau justru keberanian untuk menjadi usang?



