Amazon Tantang iPad dan Galaxy Tab dengan Tablet Alexa 12 Inci Berlayar Anti-Silau
Baca dalam 60 detik
- Amazon resmi meluncurkan tiga tablet anyar berukuran 12, 11, dan 8 inci yang mengusung asisten Alexa+ sebagai jantung perangkat.
- Tablet Alexa 12 Pro hadir dengan opsi layar Nanomatte hasil kolaborasi dengan Corning, menawarkan tekstur anti-silau tanpa mengorbankan ketajaman warna.
- Perangkat mulai dijual 14 Oktober di Amerika Utara dan 19 Oktober di Eropa, menandai langkah agresif Amazon menggarap segmen produktivitas.

Amazon resmi memperkenalkan jajaran tablet terbarunya yang mengusung merek Alexa, terdiri dari tiga ukuran layar: 12 inci, 11 inci, dan 8 inci. Langkah ini menandai babak baru strategi perangkat keras Amazon yang tidak lagi sekadar menempelkan nama Fire pada lini tabletnya, melainkan mengintegrasikan asisten suara Alexa+ sebagai fondasi utama pengalaman pengguna.
Varian tertinggi, Alexa Tablet 12 Pro, diposisikan sebagai perangkat unggulan yang menyasar pengguna produktivitas. Amazon mengklaim tablet ini memiliki pemrosesan tiga kali lebih cepat dan grafis sembilan kali lebih gesit dibanding tablet terbaik yang pernah mereka produksi. Klaim tersebut didukung oleh chip 4nm delapan inti, RAM hingga 16GB, serta dukungan Wi-Fi 6E. Baterainya diklaim mampu bertahan sampai 16 jam untuk pemutaran video.
Yang paling mencuri perhatian dari model 12 Pro adalah opsi layar bernama Nanomatte. Amazon bekerja sama dengan Corning untuk menciptakan proses etsa presisi pada level sub-piksel, menghasilkan tekstur yang sejajar dengan piksel. Berbeda dengan layar matte konvensional yang sering membuat warna pudar karena hamburan cahaya tidak merata, teknologi ini diklaim tetap mempertahankan kontras dan akurasi warna meski digunakan di bawah cahaya terang. Teks pun tampak seperti mengambang di atas permukaan kaca.
Bagi pengguna yang mengutamakan hiburan, Alexa Tablet 11 menawarkan layar 2.5K dengan refresh rate 90Hz dan rasio sinematik 16:10. Ditenagai prosesor delapan inti, RAM 8GB, dan penyimpanan 64GB, tablet ini dilengkapi speaker Dolby Atmos serta daya tahan hingga 15 jam untuk menonton video. Tersedia dalam warna Graphite, Amethyst, dan Matcha dengan harga mulai US$330.
Sementara itu, Alexa Tablet 8 hadir dengan layar 8,7 inci dan menjadi yang tertipis di jajaran ini dengan ketebalan 7,95 mm serta bobot 329 gram. Cocok untuk mobilitas tinggi, tablet ini mengandalkan prosesor delapan inti, RAM 4GB, dan penyimpanan 64GB. Pilihannya mencakup warna Graphite, Rosette, dan Teal, dibanderol mulai US$230.
Ketiga model tersebut membawa pengalaman Kindle yang diperbarui. Saat pengguna membuka buku di aplikasi Kindle, notifikasi otomatis dibisukan, cahaya biru dikurangi, dan konsumsi baterai diminimalkan. Tersedia tiga tema tampilan, termasuk nuansa kertas lembut dan skala abu-abu murni. Pada model 12 inci dengan layar Nanomatte, sensasi membaca e-book diklaim mendekati kertas asli, dan pengguna dapat menulis catatan atau menyorot teks menggunakan Pro Pen.
Fitur kecerdasan buatan juga menjadi nilai jual utama. Alexa+ dengan kemampuan On-Screen Intelligence memungkinkan asisten memahami apa yang sedang tampil di layar. Misalnya, ketika pengguna melihat jadwal pertandingan olahraga, mereka bisa meminta Alexa menambahkan semua tanggal ke kalender. Atau saat menonton video yang menampilkan suatu produk, pengguna dapat meminta Alexa mencarikannya di Amazon. Fitur ini nonaktif secara default dan memerlukan persetujuan pengguna untuk mengaktifkannya.
"Kami ingin menghadirkan perangkat yang tidak hanya cerdas, tetapi juga terasa personal. Alexa+ adalah jantung dari pengalaman itu," ujar seorang perwakilan Amazon dalam pengumuman peluncuran.
Langkah Amazon ini mempertegas persaingan di pasar tablet global yang selama ini didominasi Apple iPad dan Samsung Galaxy Tab. Dengan harga yang agresif dan fitur inovatif seperti layar Nanomatte, Amazon berupaya menarik segmen profesional muda dan pelajar yang membutuhkan perangkat serbaguna. Namun, tantangan terbesarnya adalah meyakinkan pengguna bahwa ekosistem aplikasi dan layanan Amazon mampu bersaing dengan platform mapan.
Di Indonesia, meskipun belum ada pengumuman resmi mengenai ketersediaan, peluncuran ini patut dicermati. Pasar tablet Tanah Air masih tumbuh, terutama untuk kebutuhan hiburan dan pendidikan. Jika Amazon memutuskan masuk, mereka harus bersaing dengan pemain lokal seperti Advan dan Polytron yang menawarkan harga lebih terjangkau, serta merek global yang sudah memiliki basis pengguna kuat. Kehadiran tablet Alexa bisa menjadi katalis bagi adopsi asisten suara di rumah tangga Indonesia, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang privasi data dan kesiapan infrastruktur digital.
Dengan peluncuran yang dijadwalkan dalam hitungan hari, pertanyaannya kini: apakah tablet Alexa mampu menggoyang dominasi iPad, atau justru menjadi alternatif niche bagi penggemar ekosistem Amazon? Yang jelas, persaingan di segmen tablet semakin menghangat, dan konsumen akan diuntungkan dengan lebih banyak pilihan.



