Martin Rossiter Sebut Britpop 'Rasis dan Misoginis', Industri Musik Inggris Diminta Berkaca
Baca dalam 60 detik
- Vokalis Gene, Martin Rossiter, menilai era Britpop 1990-an sarat diskriminasi terhadap perempuan dan musisi kulit berwarna.
- Dari 52 sampul majalah NME edisi 1995, hanya segelintir perempuan dan satu-dua orang kulit berwarna yang tampil.
- Kritik ini memantik pertanyaan soal inklusivitas industri musik global, termasuk di Indonesia yang kerap mengabaikan musisi non-domestik.

Vokalis band Gene, Martin Rossiter, melontarkan kritik pedas terhadap era Britpop yang meledak pada 1990-an. Pria 56 tahun itu menilai panggung musik Inggris saat itu tidak sekadar eksklusif, tetapi juga "sangat misoginis dan rasis" karena nyaris hanya memberi ruang bagi musisi kulit putih pria.
Kritik tersebut muncul ketika Rossiter dimintai tanggapan soal gelombang nostalgia Britpop yang kembali menghangat beberapa tahun terakhir. Ia mengakui kualitas lagu-lagu era itu memang luar biasa, tetapi menurutnya rasa kagum publik seharusnya tidak menutupi persoalan struktural yang terjadi di baliknya.
Untuk memperkuat argumennya, Rossiter mengungkap hasil penelusuran sederhana. Saat diwawancarai untuk buku fotografi karya Kevin Cummings, fotografer NME, ia membuka kembali seluruh sampul majalah NME edisi 1995. Dari 52 edisi, hanya sekitar tiga perempuan dan satu hingga dua orang kulit berwarna yang muncul di halaman depan. "Itu, bagi saya, menunjukkan industri musik yang sangat misoginis dan rasis," ujarnya kepada Contact Music.
Rossiter tidak menampik bahwa Britpop menghasilkan karya-karya penting. Ia menyebut lagu "Beetlebum" dari Blur sebagai rekaman yang gelap, moody, dan tidak biasa, serta mengakui The Prodigy dengan "Breathe" dan "Firestarter" berhasil menduduki puncak tangga lagu. Namun, ia menegaskan apresiasi estetis tidak boleh menghapus kenyataan bahwa banyak pihak tersisih. "Saat itu saya mungkin belum punya kecerdasan politik untuk mengungkapkannya sebaik sekarang," tuturnya.
Yang paling menyorot perhatian adalah pengalaman musisi perempuan. Rossiter mengenang percakapannya dengan Justine Frischmann dari Elastica, yang pernah diminta melakukan pemotretan meniru pose telanjang Christine Keeler di atas kursi dari era 1960-an. "Tidak pernah ada yang meminta saya melepas baju," katanya, menyoroti standar ganda yang menimpa perempuan di industri musik.
"Saya pikir wajar mengenang masa itu dengan sedikit kehangatan. Saya tidak masalah dengan itu, tapi saya hanya berpikir akan menjadi masa yang jauh lebih kaya secara musikal jika kata Brit dalam Britpop mencakup semua orang." โ Martin Rossiter
Kritik Rossiter bukan sekadar nostalgia pahit. Ia menyentuh persoalan representasi yang hingga kini masih menghantui industri musik global, termasuk di Indonesia. Di Tanah Air, panggung musik nasional sering dikritik karena didominasi kalangan tertentu, sementara musisi dari daerah, perempuan, dan kelompok minoritas masih menghadapi hambatan untuk menembus arus utama. Meski konteksnya berbeda, pola eksklusi yang diungkap Rossiter menemukan gaungnya di banyak negara.
Sejumlah pengamat musik menilai pernyataan Rossiter relevan untuk mendorong refleksi. Menurut mereka, industri musik tidak hanya soal bakat, tetapi juga soal siapa yang diberi akses ke panggung, media, dan narasi. Ketika majalah sekelas NME pun hanya menampilkan segelintir perempuan dan orang kulit berwarna, ada persoalan sistemik dalam kurasi dan distribusi perhatian.
Rossiter juga mengakui bahwa dirinya dan rekan-rekan seangkatannya menikmati privilege sebagai pria kulit putih. Ia menyebut sikap itu sebagai bagian dari kesadaran yang datang belakangan. "Saya seorang kiri old school, apa yang sekarang disebut woke. Saya woke dan bangga," tegasnya.
Pernyataan ini membuka ruang diskusi lebih luas: apakah gelombang revival Britpop saat ini akan diikuti dengan koreksi terhadap ketimpangan masa lalu, atau justru mengulang pola yang sama dengan kemasan berbeda? Bagi Rossiter, jawabannya terletak pada seberapa luas definisi "Brit" yang ingin dirayakan.



