GP Bahrain di Sepang Pecahkan Rekor: 261 Ribu Penonton, Verstappen Menang
Baca dalam 60 detik
- Sepang International Circuit mencatatkan 261.000 pengunjung selama akhir pekan GP Bahrain, dengan 103.000 hadir pada hari balapan.
- Max Verstappen meraih kemenangan pertama musim ini sekaligus kemenangan perdana Red Bull Powertrains, disusul Kimi Antonelli dan Lewis Hamilton.
- Balapan yang semula dijadwalkan April ini dipindahkan ke Malaysia dalam waktu dua bulan, menjadi bagian dari triple-header setelah Azerbaijan dan sebelum Singapura.

Sepang International Circuit menorehkan sejarah baru sebagai tuan rumah balapan Formula 1 dengan jumlah penonton terbesar yang pernah tercatat, yakni 261.000 orang sepanjang akhir pekan Grand Prix Bahrain. Pada hari balapan, Minggu (4/10), sebanyak 103.000 penonton memadati sirkuit yang terakhir kali menggelar F1 pada 2017.
Balapan ini semula dijadwalkan berlangsung April lalu, namun ditunda akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Penyelenggara kemudian memindahkannya ke Malaysia dengan waktu persiapan hanya dua bulan—sebuah tenggat yang menurut sejumlah pengamat nyaris mustahil untuk ukuran event sekelas F1. Keputusan itu menjadikan GP Bahrain sebagai balapan kedua dalam rangkaian triple-header, setelah GP Azerbaijan dan sebelum GP Singapura pekan depan.
Dari sisi kompetisi, Max Verstappen keluar sebagai pemenang. Pebalap Red Bull itu tidak hanya mengamankan kemenangan grand prix pertamanya musim ini, tetapi juga mempersembahkan kemenangan perdana bagi Red Bull Powertrains—unit tenaga yang dikembangkan sendiri oleh tim asal Milton Keynes tersebut. Verstappen naik podium bersama pemimpin klasemen saat ini, Kimi Antonelli, yang finis kedua, dan Lewis Hamilton dari Ferrari di posisi ketiga.
CEO Formula 1 Stefano Domenicali menyampaikan apresiasi kepada Yang Mulia Pangeran Salman bin Hamad Al Khalifa atas visi dan ketangkasan pengambilan keputusan yang memungkinkan event ini terselenggara. Menurut Domenicali, keberhasilan ini tidak lepas dari kerja sama tim Bahrain dan Sepang International Circuit yang mampu menjawab tantangan dalam waktu singkat. Ia juga menyoroti sambutan hangat masyarakat Malaysia setelah hampir satu dekade absen, seraya menegaskan bahwa antusiasme penonton menjadi fondasi utama kesuksesan balapan.
"Kami benar-benar membawa Bahrain ke Malaysia. Platform F1 memberi kami kesempatan memperkenalkan budaya dan keramahan kami kepada penggemar di kawasan ini," ujar CEO Bahrain International Circuit, Shaikh Salman bin Isa Al Khalifa.
Shaikh Salman menambahkan bahwa lebih dari 260.000 penonton hadir menyaksikan event terbesar yang pernah digelar di Sepang. Ia menilai kolaborasi lintas negara—melibatkan F1, FIA, Bahrain Motor Federation, dan Motorsports Association of Malaysia—menjadi kunci sukses penyelenggaraan. Pihaknya berharap dapat menyambut kembali ajang balap bergengsi itu ke Bahrain pada Maret tahun depan.
Bagi Malaysia, lonjakan kunjungan ini berpotensi mengerek pendapatan sektor pariwisata dan industri pendukung, mulai dari perhotelan, transportasi, hingga UMKM di sekitar sirkuit. Sepang terakhir menjadi tuan rumah F1 pada 2017 sebelum kontraknya tidak diperpanjang karena pertimbangan biaya. Kembalinya event sekelas ini—meski bersifat sementara—menghidupkan kembali diskusi mengenai kelayakan Malaysia masuk kembali ke kalender reguler F1.
Di sisi lain, kepindahan mendadak GP Bahrain ke Sepang menimbulkan pertanyaan tentang fleksibilitas kalender F1 ke depan. Dengan semakin banyaknya venue yang mengantre, termasuk potensi sirkuit di Asia Tenggara, F1 menghadapi dilema antara memperluas pasar dan menjaga kualitas penyelenggaraan. Keberhasilan Sepang dalam tempo dua bulan bisa menjadi preseden bahwa relokasi darurat bukan hal mustahil—selama ada komitmen politik dan dukungan finansial yang memadai.
Yang jelas, rekor 261.000 penonton menjadi sinyal bahwa pasar Asia masih menjadi magnet bagi F1. Pertanyaannya, akankah Malaysia serius memperjuangkan slot permanen, ataukah ini hanya momen sekali seumur hidup yang lahir dari keadaan darurat?



