Chris Rock Terapi demi Atasi Rasa Insecure: 'Seniman Itu Egomaniak dengan Kompleks Inferioritas'
Baca dalam 60 detik
- Chris Rock mengaku menjalani terapi intensif pasca-Covid untuk mengatasi rasa tidak percaya diri saat membandingkan pencapaiannya dengan orang lain.
- Ia menyebut Adam Sandler, Rick Rubin, dan Eddie Murphy sebagai figur yang kerap memicu rasa insecure karena etos kerja dan bakat mereka.
- Terapi tersebut juga membuatnya lebih empatik, yang ia nilai penting untuk mendalami karakter dalam akting dan penyutradaraan.

Chris Rock mengungkapkan bahwa ia telah menjalani terapi psikologis secara rutin dalam beberapa tahun terakhir untuk mengatasi rasa tidak aman yang muncul ketika membandingkan karyanya dengan orang lain. kepada The New York Times, komedian berusia 61 tahun itu mengatakan bahwa terapi tersebut membantunya merasa "cukup" sebagai pribadi, meski ia menegaskan tidak pernah meragukan statusnya di industri hiburan.
Dalam wawancara tersebut, Rock menyebut bahwa rasa insecure justru sering muncul saat ia bertemu dengan figur yang dinilainya bekerja lebih keras, seperti Adam Sandler dan Rick Rubin. "Kadang saya bertemu orang yang jelas bekerja lebih keras dari saya, dan itu membuat saya merasa tidak aman. Anda seperti bertanya, 'Berapa banyak hal yang sedang kamu kerjakan sekarang?'" ujarnya. Ia juga mengakui bahwa beberapa orang tampak lebih baik dalam mengasuh anak, meski ia merasa dirinya adalah ayah yang baik.
Rock meyakini bahwa hampir semua seniman, terutama yang dianggap hebat, bergulat dengan pertanyaan seputar harga diri. Ia menyebut seniman sebagai "egomaniak dengan kompleks inferioritas" โ sebuah paradoks yang ia rasakan sendiri: merasa hebat, tetapi berharap orang lain menyadarinya. Kehadiran Eddie Murphy, kata Rock, cukup membuatnya merasa kecil. "Di hadapan Eddie Murphy, saya bisa sedikit kehilangan kepercayaan diri," tuturnya.
Bagi Rock, terapi bukan hanya soal meredakan kecemasan, tetapi juga mengasah empati. Ia mengaku dalam empat atau lima tahun terakhir menjadi pribadi yang jauh lebih memahami perasaan orang lain. Kemampuan itu, katanya, sangat berguna saat harus memerankan karakter dalam film. Ia juga menyebut kedua putrinya, Lola (24) dan Zahra (22), sebagai sumber pembelajaran tentang sudut pandang perempuan. "Putri-putri saya tidak memaafkan dosa-dosa saya, tetapi mereka memberi saya pendidikan yang tidak saya dapatkan di tempat lain," ujarnya.
Rock juga menyinggung soal pendekatan dalam komedi dan drama. Menurutnya, menonjolkan perbedaan tajam antara pria dan wanita adalah perangkat komedi yang sempurna, tetapi tidak berfungsi dalam drama. Ia menyadari bahwa empati yang diasah melalui terapi membantunya masuk ke dalam karakter secara lebih meyakinkan.
Dalam wawancara itu, Rock mengungkap alasan di balik jeda 12 tahun sebelum kembali menyutradarai film. Ia menyebut faktor kehidupan, pandemi Covid-19, dan perceraian yang menuntutnya mencari penghasilan lebih besar. "Saya juga punya beberapa naskah yang tidak mendapat respons pasar. Bukan berarti saya hanya duduk diam. Tapi Covid adalah waktu untuk bertanya, apa yang sedang saya lakukan dengan hidup saya?" kenangnya. Ia juga mengaku memiliki banyak hal lain yang terjadi dalam 12 tahun terakhir yang enggan ia ceritakan.
Keterbukaan Rock ini menyoroti pergeseran cara publik memandang kesehatan mental di kalangan selebritas. Jika dulu topik terapi dianggap tabu, kini semakin banyak figur publik yang membicarakannya secara terbuka. Bagi penggemar di Indonesia, pengakuan Rock bisa menjadi cermin bahwa tekanan untuk selalu tampil produktif dan membandingkan diri dengan orang lain juga dialami oleh mereka yang sudah sukses sekalipun. Pertanyaannya, akankah gelombang keterbukaan ini mendorong lebih banyak pekerja seni dan profesional muda di dalam negeri untuk mencari bantuan psikologis tanpa rasa malu?



