Paul Rudd Tolak Ponsel di Set Film, Tom McCarthy Terapkan Larangan Ketat
Baca dalam 60 detik
- Paul Rudd mengaku tidak lagi membawa ponsel ke lokasi syuting dan mendukung penuh kebijakan bebas gawai yang diberlakukan sutradara Tom McCarthy.
- Larangan tersebut dinilai mempererat interaksi antar pemain selama jeda pengambilan gambar, menghadirkan kembali suasana set era 1980-an.
- Kebijakan serupa berpotensi menjadi standar baru di industri film, mendorong para pekerja kreatif untuk lebih fokus dan hadir secara utuh.

Aktor Paul Rudd mengungkapkan bahwa dirinya sudah lama meninggalkan kebiasaan membawa telepon seluler ke lokasi syuting. Keputusan itu ia ambil jauh sebelum sutradara Tom McCarthy menerapkan aturan serupa dalam produksi film terbaru mereka, A Statement. Rudd menyebut ponsel sebagai gangguan yang membuat para pemain dan kru kehilangan momen kebersamaan yang alami.
Dalam wawancara dengan Variety, Rudd mengaku kecanduan gawai seperti kebanyakan orang. "Saya tidak pergi ke set dengan ponsel. Sudah cukup lama saya tidak melakukannya," ujarnya. Ia menambahkan bahwa meletakkan ponsel, kapan pun, adalah langkah penting. "Itu benda yang mengerikan. Saya kecanduan seperti orang lain. Alat itu memfasilitasi kehancuran kita sendiri," kata Rudd tanpa ragu.
McCarthy, yang sebelumnya menyutradarai Spotlight, memberlakukan kebijakan larangan ponsel yang sangat ketat selama produksi A Statement. Rudd menilai aturan itu membawa dampak positif bagi kekompakan para pemain. "Dunia berubah sejak ponsel ada. Kita tidak lagi saling menatap atau berbicara dengan cara yang sama," tuturnya. "Dengan larangan itu, kami dipaksa benar-benar menghabiskan waktu bersama dan berbicara."
Rudd menggambarkan pengalaman syuting A Statement yang berlatar tahun 1980 sebagai nostalgia tersendiri. Dengan kostum khas dekade itu dan tanpa gangguan layar, para pemain kembali merasakan suasana obrolan santai yang dulu lazim. "Rasanya seperti: oh, ya, saya ingat ini. Ini terasa seperti dulu ketika orang-orang duduk bersama dan berbicara satu sama lain," kenangnya.
Senada dengan Rudd, aktris Amy Ryan juga menyoroti dampak larangan tersebut. Saat menghadiri premier The Statement di New York Film Festival, ia menceritakan bagaimana jeda lima menit yang biasanya diisi dengan mengecek ponsel berubah menjadi percakapan hangat. "Apa yang terjadi adalah ada jeda lima menit dan orang-orang terhubung. 'Hei, apa yang kamu lakukan? Bagaimana pagimu? Bagaimana pendapatmu tentang adegan ini?'" ujarnya.
"Saya menyamakannya seperti saat berhenti konsumsi gula. Dalam tiga hari, itu hilang dari sistem tubuh. Kamu tidak merindukannya! Dan semoga, ponsel menjadi mainan yang akhirnya membuatmu bosan." โ Amy Ryan
Fenomena ini bukan sekadar anekdot. Di berbagai industri kreatif, termasuk perfilman nasional, kehadiran ponsel kerap menjadi pedang bermata dua: mempermudah koordinasi, tetapi juga memecah atensi. Metode McCarthy menegaskan bahwa batasan tegas dapat menciptakan ruang kerja yang lebih intim dan produktif. Bagi rumah produksi di Indonesia, kebijakan serupa bisa menjadi pertimbangan untuk mendorong kolaborasi yang lebih mendalam, terutama dalam proyek yang menuntut kepekaan emosional tinggi.
A Statement sendiri mengangkat kisah nyata konferensi iklim yang berlangsung di Florida pada 1980. Film ini mempertemukan para ahli dan politikus yang bertekad menangani emisi karbon di Amerika Serikat. Selain Rudd, film ini dibintangi Paul Giamatti, Tatiana Maslany, Amy Ryan, dan John Turturro. Sejak tayang perdana pada 3 Oktober, A Statement menawarkan refleksi tentang masa lalu yang relevan dengan krisis iklim hari ini.
Ke depan, apakah larangan ponsel di lokasi syuting akan menjadi norma industri? Atau justru bertahan sebagai pilihan artistik sutradara tertentu? Yang jelas, pengalaman Rudd dan Ryan menunjukkan bahwa melepaskan gawai sejenak dapat memulihkan koneksi manusiawi yang kian langkaโsebuah pelajaran yang tak hanya berlaku di dunia film.



