Krisis Lini Depan Aston Villa: Emery Diminta Berani Pasang Ibrahim Mbaye
Baca dalam 60 detik
- Aston Villa harus menjual Morgan Rogers ke Chelsea senilai £117 juta demi memenuhi aturan finansial Liga Primer, memicu krisis produktivitas di lini serang.
- Pelatih Unai Emery lebih memilih George Hemmings yang belum mencetak gol ketimbang Ibrahim Mbaye, meski pemain Senegal itu dibeli Rp47 juta dari PSG.
- Mbaye mencatat 1,8 peluang tercipta dan 1,9 dribel sukses per 90 menit di Ligue 1, angka yang menempatkannya di 25% teratas penyerang Eropa.

Ambisi Aston Villa untuk kembali bersaing di kompetisi Eropa musim ini berbenturan dengan realitas aturan finansial Liga Primer. Klub terpaksa melepas sejumlah pemain kunci, dan dampaknya langsung terasa di lini depan: hanya empat gol tercipta dari lima pertandingan pembuka. Manajer Unai Emery kini menghadapi tekanan untuk segera menemukan solusi, terutama setelah penjualan Morgan Rogers ke Chelsea senilai £117 juta membuat daya gedor tim merosot tajam.
Rogers bukan sekadar penyerang sayap biasa. Musim lalu, pemain 24 tahun itu menyumbang total 25 gol dan assist serta menjadi motor di balik keberhasilan Villa menjuarai Liga Europa. Kepergiannya ke Stamford Bridge meninggalkan lubang besar yang belum mampu ditambal oleh pemain pengganti. Emery lebih sering menurunkan George Hemmings di sisi kiri serangan, tetapi pemain muda itu belum mencetak satu gol pun di Liga Primer. Sementara Alejandro Garnacho, yang didatangkan untuk menambah opsi, justru hanya mengumpulkan 31 menit bermain—sebuah indikasi bahwa sang manajer belum menaruh kepercayaan penuh padanya.
Di tengah keterbatasan itu, muncul sosok yang seharusnya bisa menjadi jawaban: Ibrahim Mbaye. Pemain Senegal berusia 18 tahun ini direkrut dari Paris Saint-Germain dengan harga yang dilaporkan mencapai £47 juta. Namun, ia baru tampil dua kali sebagai pengganti dengan total 33 menit di Liga Primer. Emery terkesan enggan memberikan kesempatan lebih besar, meski statistik menunjukkan potensi besar Mbaye. Pada musim terakhirnya di Ligue 1, ia menciptakan 1,8 peluang per 90 menit—menempatkannya di antara 25% penyerang terbaik di lima liga top Eropa. Ia juga mencatatkan 1,9 dribel sukses per 90 menit, kemampuan yang mengingatkan pada gaya Rogers saat masih membela Villa.
Keputusan Emery untuk terus memainkan Hemmings memang bisa dipahami karena faktor adaptasi dan kebutuhan taktik. Namun, kritik dari suporter mulai menguat. Mereka menilai bahwa dengan harga mahal yang dikeluarkan untuk Mbaye, sudah sewajarnya pemain itu diberi ruang lebih banyak. Cedera yang menghantam beberapa pemain senior turut memperparah situasi, tetapi pilihan starting line-up tetap menjadi sorotan. Villa sebenarnya memiliki opsi untuk mengubah pendekatan, misalnya dengan memberi Mbaye menit bermain sejak awal atau setidaknya sebagai pengganti lebih awal.
“Emery punya reputasi membangun tim, tetapi kali ini ekspektasi terhadapnya sangat tinggi. Ia harus berani mengambil risiko dengan pemain muda seperti Mbaye jika ingin lini serang kembali tajam,” ujar seorang pengamat Liga Primer.
Jika melihat rekam jejak Mbaye, potensinya tidak perlu diragukan. Kecepatan dan kelincahannya dalam melewati pemain lawan bisa menjadi pembeda di Liga Primer yang menuntut intensitas tinggi. Meski masih muda, ia sudah terbiasa bermain di level atas bersama PSG. Yang dibutuhkan sekarang adalah kepercayaan diri dan kesempatan bermain secara reguler. Emery dikenal sebagai pelatih yang teliti, tetapi pada situasi darurat seperti ini, fleksibilitas dalam rotasi bisa menjadi kunci.
Villa masih memiliki banyak pertandingan tersisa, termasuk di kompetisi Eropa. Jika Mbaye terus dipinggirkan, bukan tidak mungkin klub akan kesulitan bersaing di papan atas. Sebaliknya, jika Emery berani membuka pintu bagi sang remaja, Villa bisa menemukan kembali ketajaman yang hilang. Publik Villa Park menanti keputusan sang manajer: apakah ia akan tetap bertahan dengan formasi konservatif, atau memberi Mbaye panggung yang layak? Waktu akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti—krisis gol ini menuntut tindakan cepat, bukan sekadar kesabaran.



