Sinyal Bullish Bitcoin di Ambang Pintu: Golden Cross Pertama Sejak 2025
Baca dalam 60 detik
- Rata-rata bergerak 50, 100, dan 200 hari Bitcoin nyaris membentuk susunan bullish penuh untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun.
- Pergerakan ini menandakan pemulihan harga kuartal III yang naik lebih dari 40% ke level 87.000 dolar AS, meski sempat tertahan di sekitar 85.000 dolar.
- Analis mengingatkan sinyal teknis ini memperkuat tren, tetapi tidak menjamin kelanjutan reli tanpa konfirmasi harga spot di atas rata-rata 50 hari.

Bitcoin kembali menjadi sorotan setelah indikator teknikal kunci menunjukkan potensi sinyal bullish besar yang terakhir terlihat pada pertengahan 2025. Rata-rata bergerak sederhana (SMA) 50, 100, dan 200 hari mata uang kripto ini hanya berjarak satu persilangan (crossover) dari pembentukan susunan bullish penuh, di mana tren jangka pendek, menengah, dan panjang semuanya mengarah ke atas secara bersamaan. Perkembangan ini menjadi yang pertama sejak Juni 2025, memicu spekulasi bahwa fase pemulihan pasar sedang memasuki babak baru.
Berdasarkan data pasar terbaru, SMA 50 hari berada di level 79.495 dolar AS, jauh di atas dua rata-rata lainnya. Sementara itu, SMA 100 hari yang berada di 79.493 dolar AS terus menanjak dan hampir melampaui SMA 200 hari di posisi 79.539 dolar AS. Begitu persilangan terjadi, ketiga garis akan tersusun rapi dengan 50 di atas 100, dan 100 di atas 200โformasi yang oleh pelaku pasar dianggap sebagai konfirmasi momentum bullish di ketiga kerangka waktu.
Vikram Subburaj, CEO bursa kripto Giottus yang terdaftar di FIU India, menilai persilangan tersebut akan mengembalikan tatanan positif yang sudah lama dinanti. "Crossover itu akan memulihkan urutan 50 hari di atas 100 hari di atas 200 hari untuk pertama kalinya sejak susunan sebelumnya terbentuk pada 24 Juni 2025," ujarnya kepada CoinDesk. Menurutnya, sinyal ini menegaskan bahwa pemulihan harga Bitcoin selama tiga bulan terakhir bukan sekadar pantulan sementara.
Sejarah menunjukkan sinyal serupa pernah menjadi awal reli besar. Pada 27 Oktober 2020, formasi ini muncul saat Bitcoin diperdagangkan sekitar 13.600 dolar AS dan bertahan hingga Mei 2021, ketika harga mencetak rekor di atas 64.000 dolar AS. Pola serupa terkonfirmasi pada awal November 2023 dan bertahan sampai Mei 2024, di mana harga Bitcoin lebih dari dua kali lipat dari sekitar 35.000 dolar AS ke 73.000 dolar AS. Namun, tidak semua persilangan berbuah manis. Susunan bullish yang terbentuk pada Juni 2025 hanya bertahan 97 hari dengan kenaikan tipis dari 106.000 ke 112.000 dolar AS, sementara formasi serupa pada Juni 2024 hanya bertahan 20 hari dan diikuti penurunan sekitar 10%.
"Persilangan ini memperkuat kasus tren, tetapi tidak menjamin kelanjutannya. Perilaku harga aset setelahnya akan menentukan apakah ini menjadi struktur bull market yang berkelanjutan atau hanya persilangan jangka pendek," kata Subburaj.
Subburaj menambahkan bahwa ujian sesungguhnya terletak pada kemampuan harga spot Bitcoin untuk bertahan di atas rata-rata 50 hari, terutama saat koreksi terjadi. "Ujian yang lebih konsekuensial adalah apakah Bitcoin dapat mempertahankan rata-rata 50 hari selama koreksi," tegasnya. Hal ini menjadi penting mengingat harga sempat tertahan di sekitar 85.000 dolar AS akibat indeks dolar AS yang terus menguat, yang secara historis menekan aset berisiko seperti kripto.
Bagi investor Indonesia, sinyal ini patut dicermati di tengah meningkatnya adopsi aset digital di dalam negeri. Meskipun Bitcoin masih belum diakui sebagai alat pembayaran sah, perdagangan aset kripto di Indonesia diatur oleh Bappebti dan terus menunjukkan pertumbuhan volume. Persilangan bullish ini bisa menjadi katalis bagi sentimen pasar domestik, terutama jika diikuti oleh pelemahan dolar AS yang akan mendorong arus modal ke aset alternatif. Namun, investor tetap diimbau memperhatikan risiko volatilitas dan tidak mengambil keputusan berdasarkan satu indikator teknikal semata.
Ke depan, pertanyaan kuncinya adalah apakah Bitcoin mampu mempertahankan posisi di atas rata-rata 50 hari dalam menghadapi tekanan makroekonomi global. Jika bertahan, ruang menuju rekor tertinggi baru semakin terbuka. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan level tersebut dapat mengubah sinyal bullish menjadi jebakan bagi trader yang terlalu dini masuk. Pasar kini menanti konfirmasi persilangan dalam beberapa hari ke depan, yang akan menjadi penentu arah tren jangka menengah.



